Gaya Khas Kaum Salafi dalam Berbicara dengan Khalayak

  • 26
  •  
  •  
  •  
    26
    Shares

DatDut.Com – Wahabi-salafi menggeliat begitu rupa di tanah air. Ditandai dengan banyaknya kajian di berbagai tempat yang diisi oleh para dai pengikut Syekh Muhammad bin Abdulwahhab itu.

Tampak pula dengan banyaknya situs, blog, fanpage atau portal berita yang bertebaran di dunia maya yang berafiliasi pada paham itu.

Tak kalah, para dai mereka pun tanggap dengan kemajuan zaman dan aktif menampilkan diri lewat situs pribadi dengan menulis artikel atau melayani konsultasi keagamaan. Benar-benar sebuah skema yang jitu dalam berdakwah di dunia modern seperti saat ini.

Di lapangan, masifnya resistensi sebagian umat Islam terhadap penetrasi Wahabiyah, tak jarang menimbulkan friksi yang hebat. Upaya mereka dalam menolak ajaran Wahabi kadang dinilai sebagai sebuah upaya penolakan terhadap pemurnian Islam.

Lalu, apa saja yang ditempuh oleh Wahabi dan media-medianya dalam dialektikanya dengan umat Islam di luar mereka? Berikut ini di antaranya:

1. Meminjam Pendapat Ulama Golongan Lain

Seperti yang kita tahu, Wahabi menempatkan Syiah sebagai musuh nomor wahid. Banyak dalil yang mereka sajikan untuk meng-counter musuh bebuyutannya itu.

Di antara dalil yang mereka jadikan sandaran adalah fatwa Syekh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, golongan yang selama ini mereka perangi menggunakan stempel bid’ah.

Dalam Risalah Ahlissunah wal Jama’ah, Syekh Hasyim Asy’ari menyebut Rafidhah sebagai salah 1 dari 6 golongan sesat di samping Haruriyah, Qadariyah, Jahmiyah, Murji’ah, dan Jabariyah. Potongan kalam kyai Hasyim Asy’ari ini ternyata banyak dijumpai di situs-situs pro-Wahabi dalam tema ‘Syiah Bukan Islam’-nya.

Dengan dalil itu pula mereka secara implisit maupun kentara menohok orang-orang NU yang mereka nilai condong kepada Syiah atau bahkan dianggap sebagai pengikut Syiah, di antaranya Ketua Umum PBNU sendiri, KH. Said Aqil Siroj.

Baca juga:  Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi: Konflik Suriah Bukan Konflik Sektarian, tapi Ada Agenda Barat Lewat ISIS

Namun di sisi lain, ternyata Kiai Hasyim juga punya wanti-wanti yang tak kalah penting dari itu yakni untuk mewaspadai kaum mujassimah yang beliau sebut sebagai sekte pelaku bidah muharramah. Banyak ulama yang menggolongkan Wahabi sebagai pengikut mujassimah itu.

Bahkan beliau secara eksplisit menulis nama syekh Muhammad bin Abdulwahhab dalam risalahnya itu. Berikut petikannya :

وَمِنْهُمْ فِرْقَةٌ يَتَّبِعُوْنَ رَأْيَ مُحَمَّدْ عَبْدُهْ وَرَشِيدْ رِضَا ، وَيَأْخُذُوْنَ مِنْ بِدْعَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ النَّجْدِيْ ، وَأَحْمَدَ بْنِ تَيْمِيَّةَ وَتِلْمِيْذَيْهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَعَبْدِ الْهَادِيْ

‘Diantara mereka terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdulwahhab al-Najdi, Ahmad bin Taimiyah serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim dan Abdul Hadi.’

2. Distorsi Berita

Di antara polemik berkepanjangan yang hingga kini pun masih terjadi adalah sebuah tema yang diusung PBNU dalam muktamarnya di Jombang pada 2015 lalu, “Islam Nusantara”.

Oleh media-media Wahabi dan di luar Wahabi yang menentang tema itu, Islam Nusantara diidentifikasi sebagai proyek orang-orang liberal untuk mencerabut muslimin Indonesia dari Islam yang sahih.

Tanpa mau melihat definisi sesungguhnya, mereka ‘berimajinasi’ tentang Islam Nusantara kemudian menggelindingkannya lewat dunia maya, kajian-kajian dan pembicaraan-pembicaraan santai di ruang kerja.

Bola liar yang tak terkendali itu diantaranya ialah ungkapan-ungkapan sinis yang menuduh Islam Nusantara menyeleweng dari syariat, memecah belah , anti-Arab atau pernyataan-pernyataan sejenis lain yang sebenarnya keluar dari konteks Islam Nusantara itu sendiri.

Baca juga:  Wahai Kaum Terpelajar! Adillah Sejak di Alam Pikiran hingga Perbuatan

Mereka mengartikannya sebagai me-Nusantara-kan Islam, padahal tema itu pada dasarnya hanya memberikan nama pada hal-hal yang sudah berjalan selama ini.

Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin menyebutnya dengan istilah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah al-Nahdliyyah.

Menurut beliau, Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan dalam dirinya guna meng-i’tibar-kan karakteristik ke-NU-an yang demokratis, toleran dan moderat.

Jauh dari pengertian yang digaungkan oleh orang yang gagal paham dalam mengenali Islam Nusantara.

Tema lain yang dijadikan sasaran tuduhan liberal adalah program “Ayo Mondok”. Gerakan yang berada di bawah koordinasi Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI) yang diluncurkan pada 1 Juni 2015 itu dipropagandakan sebagai program dari Jaringan Islam Liberal (JIL).

Sungguh yang dilakukan oleh situs-situs Wahabi itu adalah sebuah penyesatan informasi yang nyata.

3. Menggugat Sebutan Mereka Sendiri

Jika ada golongan yang menolak disebut dengan sebutan yang selama ini sudah lazim disematkan kepadanya, maka salah satunya adalah Wahabi. Mereka lebih nyaman disebut sebagai Salafi.

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *