Gaya Khas Kaum Salafi dalam Berbicara dengan Khalayak

Pin It

DatDut.Com – Wahabi-salafi menggeliat begitu rupa di tanah air. Ditandai dengan banyaknya kajian di berbagai tempat yang diisi oleh para dai pengikut Syekh Muhammad bin Abdulwahhab itu.

Tampak pula dengan banyaknya situs, blog, fanpage atau portal berita yang bertebaran di dunia maya yang berafiliasi pada paham itu.

Tak kalah, para dai mereka pun tanggap dengan kemajuan zaman dan aktif menampilkan diri lewat situs pribadi dengan menulis artikel atau melayani konsultasi keagamaan. Benar-benar sebuah skema yang jitu dalam berdakwah di dunia modern seperti saat ini.

Di lapangan, masifnya resistensi sebagian umat Islam terhadap penetrasi Wahabiyah, tak jarang menimbulkan friksi yang hebat. Upaya mereka dalam menolak ajaran Wahabi kadang dinilai sebagai sebuah upaya penolakan terhadap pemurnian Islam.

Lalu, apa saja yang ditempuh oleh Wahabi dan media-medianya dalam dialektikanya dengan umat Islam di luar mereka? Berikut ini di antaranya:

1. Meminjam Pendapat Ulama Golongan Lain

Seperti yang kita tahu, Wahabi menempatkan Syiah sebagai musuh nomor wahid. Banyak dalil yang mereka sajikan untuk meng-counter musuh bebuyutannya itu.

Di antara dalil yang mereka jadikan sandaran adalah fatwa Syekh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, golongan yang selama ini mereka perangi menggunakan stempel bid’ah.

Dalam Risalah Ahlissunah wal Jama’ah, Syekh Hasyim Asy’ari menyebut Rafidhah sebagai salah 1 dari 6 golongan sesat di samping Haruriyah, Qadariyah, Jahmiyah, Murji’ah, dan Jabariyah. Potongan kalam kyai Hasyim Asy’ari ini ternyata banyak dijumpai di situs-situs pro-Wahabi dalam tema ‘Syiah Bukan Islam’-nya.

Dengan dalil itu pula mereka secara implisit maupun kentara menohok orang-orang NU yang mereka nilai condong kepada Syiah atau bahkan dianggap sebagai pengikut Syiah, di antaranya Ketua Umum PBNU sendiri, KH. Said Aqil Siroj.

Namun di sisi lain, ternyata Kiai Hasyim juga punya wanti-wanti yang tak kalah penting dari itu yakni untuk mewaspadai kaum mujassimah yang beliau sebut sebagai sekte pelaku bidah muharramah. Banyak ulama yang menggolongkan Wahabi sebagai pengikut mujassimah itu.

Bahkan beliau secara eksplisit menulis nama syekh Muhammad bin Abdulwahhab dalam risalahnya itu. Berikut petikannya :

وَمِنْهُمْ فِرْقَةٌ يَتَّبِعُوْنَ رَأْيَ مُحَمَّدْ عَبْدُهْ وَرَشِيدْ رِضَا ، وَيَأْخُذُوْنَ مِنْ بِدْعَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ النَّجْدِيْ ، وَأَحْمَدَ بْنِ تَيْمِيَّةَ وَتِلْمِيْذَيْهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَعَبْدِ الْهَادِيْ

‘Diantara mereka terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdulwahhab al-Najdi, Ahmad bin Taimiyah serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim dan Abdul Hadi.’

2. Distorsi Berita

Di antara polemik berkepanjangan yang hingga kini pun masih terjadi adalah sebuah tema yang diusung PBNU dalam muktamarnya di Jombang pada 2015 lalu, “Islam Nusantara”.

Baca juga:  Ini 5 Fakta Menarik tentang Pendekar Aswaja, Ustaz Idrus Ramli

Oleh media-media Wahabi dan di luar Wahabi yang menentang tema itu, Islam Nusantara diidentifikasi sebagai proyek orang-orang liberal untuk mencerabut muslimin Indonesia dari Islam yang sahih.

Tanpa mau melihat definisi sesungguhnya, mereka ‘berimajinasi’ tentang Islam Nusantara kemudian menggelindingkannya lewat dunia maya, kajian-kajian dan pembicaraan-pembicaraan santai di ruang kerja.

Bola liar yang tak terkendali itu diantaranya ialah ungkapan-ungkapan sinis yang menuduh Islam Nusantara menyeleweng dari syariat, memecah belah , anti-Arab atau pernyataan-pernyataan sejenis lain yang sebenarnya keluar dari konteks Islam Nusantara itu sendiri.

Mereka mengartikannya sebagai me-Nusantara-kan Islam, padahal tema itu pada dasarnya hanya memberikan nama pada hal-hal yang sudah berjalan selama ini.

Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin menyebutnya dengan istilah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah al-Nahdliyyah.

Menurut beliau, Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan dalam dirinya guna meng-i’tibar-kan karakteristik ke-NU-an yang demokratis, toleran dan moderat.

Jauh dari pengertian yang digaungkan oleh orang yang gagal paham dalam mengenali Islam Nusantara.

Tema lain yang dijadikan sasaran tuduhan liberal adalah program “Ayo Mondok”. Gerakan yang berada di bawah koordinasi Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI) yang diluncurkan pada 1 Juni 2015 itu dipropagandakan sebagai program dari Jaringan Islam Liberal (JIL).

Sungguh yang dilakukan oleh situs-situs Wahabi itu adalah sebuah penyesatan informasi yang nyata.

3. Menggugat Sebutan Mereka Sendiri

Jika ada golongan yang menolak disebut dengan sebutan yang selama ini sudah lazim disematkan kepadanya, maka salah satunya adalah Wahabi. Mereka lebih nyaman disebut sebagai Salafi.

Mereka menolak ‘Wahabi’ karena sebutan itu mengandung kesalahan nisbah, harusnya ‘Muhammadi’ jika yang dimaksudkan adalah pengikut Syekh Muhammad bin Abdulwahhab. Mereka juga berkilah bahwa sebutan seperti itu adalah wujud suul adab kepada Allah karena ‘al-Wahhab’ adalah salah satu nama-Nya. Itu sah-sah saja.

Namun nyatanya, penyangkalan itu tidak berhenti di situ. Mereka kemudian mendistrosi informasi dengan mengarahkan sebutan itu kepada pihak lain yakni kaum yang dinyatakan sebagai khawarij yang muncul pada abad ke-3 Hijriyah yakni Wahbiyyah, pengikut Abdulwahhab bin Rustum.

Lalu, kenapa para pendahulu mereka ridha dengan sebutan itu hingga bertahan selama berpuluh-puluh tahun?

Ataukah mungkin, istilah ‘Wahabi’ sudah kadung identik dengen cara dakwah yang kaku, yang gemar memberi stempel sesat kepada pihak lain yang berbeda pendapat terutama dalam masalah tradisi keislaman seperti maulid nabi, tawassul, haul, tahlil, istighatsah dan sejenisnya. Dan itu dipandang sebagai sesuatu yang ekstrim oleh masyarakat sehingga mereka bermaksud untuk berlepas diri darinya.

Baca juga:  Karena Dituduh Bidah Itu Memang Menyakitkan

4. Menggalang Kebersamaan dengan Golongan Lain

Dideklarasikannya Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) adalah salah satu momentum menyatunya Wahabi dengan elemen masyarakat anti Syi’ah lainnya.

Dengan modal kondisi masyarakat yang begitu kontra dengan Syiah meskipun banyak di antaranya yang baru mengenal Syiah, aliansi ini dengan percaya diri menggaungkan ‘perang’ bertema Sunni versus Syiah di Indonesia.

Tema kebersamaan yang lebih hangat adalah Aksi Bela Islam. Tidak bisa disangkal bahwa aksi masyarakat muslim tanah air itu diikuti oleh berbagai golongan dan lintas mazhab. Tak terkecuali para pengikut Wahabi.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat di antara mereka dalam menyikapi boleh tidaknya demonstrasi, pada kenyataannya di lapangan mereka membaur dengan elemen muslim dari FPI, FUI, HTI, Muhammadiyah atau bahkan dari NU yang meskipun secara organisatoris tidak mendukung namun tidak pula melarang warganya berpartisipasi.

5. Memperdaya Logika Awam

Tindakan ini efektif ditujukan kepada orang-orang yang tidak mengerti hakikat penolakan muslimin terhadap paham Wahabi.

Logika yang mereka bangun adalah “Jika Wahabi diidentikkan dengan pihak yang ekstrim, mana mungkin Wahabi melakukan banyak hal yang bernilai kebaikan?”

Lalu, mereka mencontohkan betapa mudah para milyuner Saudi menginfakkan hartanya, betapa baiknya askar Saudi dalam memperlakukan jamaah haji, betapa banyaknya bantuan mereka terhadap pengungsi Palestina dan kontribusi-kontribusi lain semacam itu.

Jelas, usaha seperti itu adalah sebuah apologi yang salah sasaran karena menempatkan keyakinan atau akidah sebagai sesuatu yang berbanding lurus dengan akhlak kepada sesama. Faktanya, 2 hal itu memang tidak bisa sepenuhnya saling mempengaruhi satu sama lain.

Dan itulah yang dijejalkan kepada orang-orang yang tak paham mengenai hal-hal yang dijadikan sandaran kaum muslimin untuk menolak Wahabi. Dan bisa diduga, makin mudahnya orang-orang awam meyakini bahwa Wahabi adalah korban fitnah belaka.

Korban dari kaum muslim lain yang enggak meninggalkan kebidahan dan kesalahannya dalam memahami Islam secara murni.

 

 

 

 

 

 

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me

Post Author: Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *