Gara-gara Membela Si Penista Alquran, Alumni Pondok Pesantren Ini Nantang Debat Kiainya

  • 34
  •  
  •  
  •  
    34
    Shares

DatDut.Com – Sedih dan prihatin membaca postingan seorang alumni salah satu pondok pesantren besar yang menantang debat kiai pengasuh pesantrennya. Yang lebih menyedihkan lagi, tema debatnya bukan terkait ilmu pengetahuan atau pengembangan ilmu, tapi terkait isu penistaan agama yang sedang ramai.

Dengan sombong dan congkak, karena ia pengagum berat si penista itu, alumni ini menantang debat kiainya secara terbuka. Tantangannya pun disampaikan di ruang terbuka pula: Facebook. Yang lucu, ia menulis di statusnya kalau pendapat ulama harus dikritik, karena nabi saja bisa dikritik. Nah, pada poin ini cukup menggelikan sebetulnya.

Coba deh cek ayat atau hadis. Ada tidak kisah nabi dikritik secara terbuka? Kalau ada, apalagi disampaikan dengan tidak beretika dan di ruang terbuka, pastilah yang melakukannya kalau tidak orang kafir, ya orang munafik. Nah, si alumni ini posisinya di mana? Munafik atau kafir?

Bahkan ketika Nabi dikritik di ruang terbuka di hadapan banyak orang agar berlaku adil, Nabi juga sangat murka. Di sebagian riwayat disebutkan, wajah Nabi merah padam. “Kalau benar aku tidak berlaku adil, lalu siapa yang bisa adil?” jawab Nabi. Melihat Nabi murka, sahabat Nabi tidak terima atas kelakuan orang yang tidak beretika itu. Abu Bakar, Umar, dan Ali, pun bersiap membunuh laki-laki lancang tersebut.

Baca juga:  Alala, Kumpulan Syair dari Kitab Ta’limul Mutaalim yang Mengajarkan Arti Penting Ilmu dan Persahabatan

Memang benar dalam tradisi Islam juga tidak ditabukan berdebat dan beda pendapat. Namun, ada adab atau etika juga dalam berdebat. Tak ada sejarah dari masa lalu yang mencatat ada ulama yang begitu tak beretika pada gurunya hingga berani menantang debat gurunya.

Ulama dulu malah mentradisikan “la’aalash-shawab” (mungkin saja ini yang benar), “waallahu a’lam” (Allah yang paling Mahatahu), atau “ra’yish shawab lakin yahtamilul khatha’ wa ra’yul khatha’ lakin yahtamilush shawab” (pendapatku secara subjektif benar menurutku, tapi mungkin saja ada salahnya, begitupun pendapat orang lain yang meskipun secara subjektif salah menurutku, tapi mungkin saja ada benarnya). Kata kuncinya dari ketiga ungkapan itu jelas adab alias etika, apalagi etika pada guru.

Baca juga:  Kisah Umar dan Istri, Nabi Daud yang Mau Nikah Lagi, dan Wanita Ajaib dalam Kitab Uqudullujain

Ternyata banyak murid-murid model begini. Mentang-mentang sudah sukses, gelar tinggi, dan alumni perguruan tinggi ternama dari luar negeri pula, hilang etika dan tak punya adab pada guru, apalagi gurunya itu seorang kiai. Benar kata Imam Ahmad bin Hanbal r.a. “Belajarlah adab dulu, baru belajar ilmu.”

Maka, saya jadi pengen menunjuk-nunjuk mukanya sambil ingin membentaknya, “Hai si alumni yang sombong dan congkak! Sudahkah kamu belajar adab hari ini? Rupanya pembelaanmu kepada si penista telah membutakan mata batin dan naluri keadabanmu.”

 

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *