Fenomena Kaum LGBT Kian Mengerikan, Ini 5 Tinjauan Fikihnya

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Dunia belum lama ini digemparkan dengan pengesahan nikah sesama jenis di 50 negara bagian Amerika. “Kemenangan” ini dirayakan oleh berbagai komunitas gay di seluruh dunia, tak ketinggalan sebagian orang Indonesia. Bahkan, ada sekelompok artis yang turut merayakan kemenangan itu.

Kelompok-kelompok orang dengan orientasi seks menyimpang pun semakin berani unjuk gigi di sekitar kita. Tema dan dalih yang dijadikan pembenaran tak jauh dari kesetaraan, kebebasaan, hak asasi, dan sejenisnya. Mereka beranggapan bahwa kelainan ini adalah bawaan lahir dan sudah takdir, lalu penyalurannya harus dilegalkan dan disetarakan.

Para aktivis liberal juga punya andil mendorong perjuangan kelompok seks menyimpang. Tak jarang di antara mereka yang notabene muslim taat namun berpemahaman menyimpang tentang masalah LGBT. Penafsiran atas teks agama diolah sesuai akal dan logika berdasarkan kebutuhan untuk membela apa yang disebut Hak Asasi Manusia alias HAM.

Sebenarnya, apakah fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang dipandang miring oleh masyarakat hanyalah karena adat istiadat dan tradisi? Agama tidak mengaturnya? Kalau Anda seorang beragama, Muslim khususnya, perhatikan 5 fakta berikut ini tentang seks menyimpang dalam pandangan Islam:

1. Istilah dalam Fikih

Dalam fikih ibadah, orang berorientas seks lain tidak dibahas. Karena fikih menegaskan hukum untuk pria dan wanita sesuai kelamin asalnya ketika lahir. Satu-satunya pembahasan untuk jenis kelamin yang “lain” adalah istilah khuntsa. Istilah khuntsa banyak disebut dalam pembahasan ibadah. Semisal bagaimana bersentuhan kulit dengan khuntsa, shalat jamaahnya, interaksi sosialnya, perawatan jenazah, dan perolehan warisannya.

Khuntsa sendiri dalam berbagai literatur fikih ditujukan untuk orang berkelamin ganda. Apabila kedua kelaminnya sama-sama berfungsi, maka pemiliknya tergolong sebagai khuntsa musykil (ambigous genitalia atau jenis kelamin ambigu).

Dalam medis, kasus kelamin ganda yang bisa ditentukan lelaki atau perempuannya disebut hemaproditism. Kasus ini tergolong langka. Menurut dr. Bambang Sasongko, spesialis bedah urologi, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, hanya ada 1 di antara 200 ribu kelahiran, sebagaimana dilansir nasional.tempo.co.

2. Hukum dalam Beribadah

Fikih menghukumi khuntsa dengan menggolongkan mereka sesuai alat kelamin yang paling berfungsi. Jika lebih menonjol ke lelaki, maka segala hal berkaitan ibadah orang berkelamin ganda tersebut memakai ketentuan pria. Begitu pula sebaliknya. Nah, pada kasus khuntsa musykil pembahasannya juga rumit. Seperti misalnya tidak mengimami jamaah laki-laki, warisannya menggunakan metode dua kemungkinan, dll.

Baca juga:  Larang Jemaah Dengarkan Ceramah Ustaz Lain, Tanda Ketidakikhlasan

Dalam fikih tak ada celah untuk waria beribadah secara wanita. Waria yang memang lelaki tapi berkelakuan wanita, tetap harus beribadah dengan tatacara pria. Begitu pula sebaliknya, wanita yang cenderung berperilaku lelaki, tetap harus beribadah sesuai jenis kelamin aslinya.

3. Peringatan Allah dan Rasulullah

Rasulullah Saw. mengecam perilaku seks menyimpang. Apa pun dalih dari kaum LGBT untuk memperoleh pengesahan hubungan mereka, tak akan ada pembenarannya dari ajaran islam. “Nabi saw. melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki,” (HR. Bukhari).

Bahkan dalam Alquran, Allah mengazab kaum Nabi Luth a.s. yang tidak mau bertobat dari perilaku seks menyimpang ini. ”Lalu, tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (QS Huud [11]: 82).

Sebagian agen liberal yang membela pernikahan sesama jenis kadang berdalih bahwa Tuhan menilai kita dari ketakwaan, bukan dari orientasi seks. Pernyataan ini sangat konyol. Karena Takwa diwujudkan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Perilaku seks menyimpang merupakan larangan berat dalam agama.

4. Tindakan Rasulullah terhadap Homoseks

Apa perintah rasulullah terhadap orang yang nyata-nyata melakukan hubungan seks ala kaum Luth? “Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth as. maka bunuhlah pelaku dan pasangan (kencannya).” (HR Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah).

Berdasarkan hadis tersebut, Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Ishaq berpendapat bahwa pelaku homoseks, gay dan sejenisnya dihukum rajam seperti pezina (Sunan at-Tirmidzi, 4/57). Memang sadis kelihatannya. Namun, perilaku kaum LGBT yang dibiarkan menebar eksistensi sama bahayanya dengan pembiaran terhadap prostitusi. Semua orang akan memandangnya sebagai hal biasa, lalu akhirnya banyak yang meniru perilaku seks tersebut dengan berbagai alasan dan kondisi.

Apakah Islam tak mempertimbangkan HAM? Hak asasi manusia dihargai dan dijunjung dalam Islam selama itu tak melanggar hak Tuhan sebagai penciptanya. Sehingga tak ada hak asasi mutlak dan kebebasan mutlak dalam kehidupan ini. Kecuali bagi mereka yang telah mempertuhankan nafsunya. Isu-isu HAM selalu diusung kaum liberal untuk membela kepentingan nafsu mereka saja.

Baca juga:  Ini 5 Hadis yang Melarang Perilaku LGBT yang Perlu Disebarkan

5. Kecenderungan Menjadi Gay bukan dari Gen dan Takdir

Pendukung kaum LGBT sering berdalih bahwa kecenderungan homoseks adalah bawaan karena faktor genetis atau takdir Tuhan.

Dalam artikel panjangnya, Iwan Yulianto mengemukakan hasil berbagai riset tentang gen pemicu kecenderungan gay. Hasil riset tersebut, meskipun ditemukan adanya link homoseksual secara genetika, namun juga menyatakan bahwa gen bukanlah faktor dominan dalam menentukan homoseksualitas.

Penelitian puluhan tahun tentang teori bahwa kecenderungan homoseks adalah karena gen, tak berhasil menghadirkan fakta ilmiah yang 100 persen mendukung klaim tersebut. Pada dasarnya, manusia terlahir normal dan suci. Memang ada kasus manusia berkelamin ganda atau hermaprodit, tetapi tak ada manusia terlahir dengan kelamin normal tetapi punya kecenderungan homoseks.

Kalaupun benar bahwa kecenderungan homoseks adalah bawaan lahir dan takdir, itu pun bukan alasan untuk tidak memperbaiki keadaan dan justru mengkampanyekan pelegalan. Orang yang bertakdir terlahir miskin pun berusaha untuk mengubah keadaan hidupnya menjadi lebih baik. Sehingga, seharusnya orang yang dibebani ujian dengan perasaan dan orientasi seks berbeda hendaklah berjuang memperbaiki diri.

Untuk itu, konseling dan bimbingan kepada pengidap kelainan orientasi seks seharusnya mengarah kepada proses penguatan dan penyembuhan, dan bukan justru menjerumuskan ke jurang kenistaan. Wallahu A’lam.

nasrudin maimun

Nasrudin | Penulis Tetap DatDut.Com

FB: Nasrudin El-Maimun

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
Close