Dari yang Religi hingga Komersil, Ini 5 Fenomena Rutin Jelang Ramadan

  • 135
  •  
  •  
  •  
    135
    Shares

DatDut.Com – Kehadiran Ramadan tinggal menghitung hari. Umat islam segera menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Suasana Ramadan kian terasa selepas lewatnya pertengahan bulan Sya’ban. Dan sebagai bulan persiapan, Sya’ban juga dihiasai dengan beberapa tradisi khusus oleh umat Islam.

Di sisi lain, menjelang Ramadan juga bermunculan fenomena rutinan. Kalau pada tulisan “Lima Fenomena Tahunan yang Selalu Hangat Diperdebatkan” merupakan pembahasan umum, maka tulisan kali ini lebih khusus pada fenomena jelang Ramadan. Mulai yang religi hingga yang berbau komersil.

Nah, menjelang Ramadan, tunggu dan lihat saja, 5 fenomena ini akan kembali meramaikan dunia kita. Simak ulasannya berikut ini.

[nextpage title=”1. Ungkit-ungkit Khilafiyah”]

1. Ungkit-ungkit Khilafiyah

Khilafiyah paling khas menjelang ramadan adalah tentang mana yang paling benar antara metode ru’yatul hilal ataukah metode hisab.

Rukyat adalah metode menentukan awal dan akhir bulan dengan cara melihat langsung bulan sabit dengan mata telanjang maupun dibantu dengan alat. Sedangkan hisab adalah metode yang dapat menguraikan secara jelas tentang posisi hilal diatas ufuk dengan menggunakan metode yang pasti dan telah teruji hasilnya.

Menurut Imam as-Subki, para ulama sepakat bahwa penentuan awal bulan yang diperoleh melalui ru’yatul hilal dapat diamalkan untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadan.

Bila hasil hisab bertentangan dengan hasil ru’yatul hilal, maka yang lebih didahulukan adalah hasil ru’yatul hilal. Kecuali jika sekurang-kurangnya ada kesimpulan yang menyatakan tidak akan munculnya hilal, yang diambil dengan mengikuti lima kitab yang berbeda.

Ketika demikian, maka laporan seseorang kepada hakim setempat perihal terlihatnya bulan harus ditolak karena berlawanan dengan yang didapat melalui metode hisab.

Nah, meskipun perdebatan itu sejatinya sudah harus diakhiri dengan mengikuti penetapan dari pemerintah yang ternyata mengakomodir semua metode yang ada, tetapi masih ada saja yang mengungkit-ungkit masalah ini menjelang ramadan.

Khilafiyyah lain yang kembali diungkit jelang ramadan, adalah tentang jumlah rakaat tarawih yang paling benar. Meskipun seharusnya sudah tidak perlu dibahas, tapi seiring gencarnya dakwah dari kelompok tertentu, perdebatan itu kembali diungkit.

Baca juga:  Belajar Memaknai Hidup dari 5 Filosofi Makanan Jawa Ini

[nextpage title=”2. Banyak Ustaz Baru di TV”]

2. Banyak Ustaz Baru di TV

Ramadan juga menghadirkan wajah-wajah baru ustaz di dunia pertelevisian. Beberapa di antaranya dari “pemain lama”. Namun seiring acara lomba ceramah yang banyak dicetuskan stasiun TV, maka di antara para pemenang ada yang dikontrak oleh statsiun tertentu.

Ragam acara religi yang diadakan oleh berbagai stasiun TV nasional juga mengharuskan mereka menampilkan sosok yang mengisi acara itu. Ketika nyaris setiap TV menjadi religius dan menyediakan ruang agama Islam, maka otomatis ustaz-ustaz ternama telah padat jadwalnya. Sehingga dimunculkanlah para ustaz baru.

[nextpage title=”3. Tarawih Cepat atau Lambat?”]

3. Tarawih Cepat atau Lambat?

Khusus bagi muslim yang mengikuti tarawih 23 rakaat (20 rakaat tarawih, 3 rakaat witir) berlaku fenomena tarawih cepat dan lambat. Terlepas pembahasan shalat seharusnya dengan khusyu dan santai, tarawih cepat memang hanya menekankan terpenuhinya rukun-rukun shalat dengan mengambil hal paling pokok. Bacaan, tuma’ninah, dan segala rukunnya dalam porsi minimalis.

Memang tarawih 23 rakaat versi ngebut menjadi sorotan banyak pihak. Bagi yang sependapat menjalankan tarawih 23 rakaat, tarawih ngebut sering dikomentari kurang memperhatikan sisi tuma’ninah atau tenang seusai gerakan perpindahan rukun. Kalangan yang memilih jumlah rakaat lain, sering membanding-bandingkan dengan ungkapan, “Baik mana 23 rakaat ngebut dan 11 rakaat khusyu?”

Pada dasarnya, perbedaan jumlah rakaat sudah tidak perlu diperdebatkan. Masing-masing punya dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi sampai menebar fatwa vonis sesat dan bidah. Laksanakan saja sesuai pendapat yang diyakini, tanpa sok kuasa menentukan orang lain sesat dan masuk neraka.

[nextpage title=”4. Siaran Televisi Jadi Religi”]

4. Siaran Televisi Jadi Religi

Memasuki bulan Ramadan, televisi kita yang semula banyak dihiasi tayangan tak bermutu, berubah religius. Pun para artis dan host yang mengisi acara tak bermutu di luar Ramadan, juga berubah jadi religius dengan pakaian-pakaian islami. Sosialisasi tayangan program berbau religi bahkan sudah dimulai sejak sebelum Ramadan.

Baca juga:  Menguak 5 Dalil Serampangan Wahabi dalam Memvonis Bidah Amalan Umat Islam

Sayangnya, tayangan program tak bermutu sebelum Ramadan pun tetap tayang dan hanya berganti pakaian saja. Yang lebih miris, kadang beberapa program lawak tayang pada jam-jam ibadah (maghrib-isya, sahur). Seperti dilansir Okezone, Senin, (13/7/2015), pada Ramadan tahun kemarin, KPI menyoroti banyaknya acara televisi tak layak tayang di bulan Ramadan. Beberapa di antaranya mendapat peringatan dari KPI.

“Sudah selayaknya televisi mencari ide kreatif yang lebih berkualitas ketimbang menyajikan lawakan dan komedi yang justru menodai kesucian bulan Ramadan,” ujar Wakil Ketua KPI Pusat Idy Muzayyad.

[nextpage title=”5. Macam-macam Iklan Ramadan dan Syawal”]

5. Macam-macam Iklan Ramadan dan Syawal

Dunia iklan selalu paling awal melaksanakan puasa. Iya. Iklan-iklan syrup dan berbagai makanan sudah memamerkan suasana berbuka puasa. Tak ketinggalan iklan obat mag juga sudah menampilkan suasana puasa. Begitulah suasana dunia iklan menjelang Ramadan. Sudah puasa duluan.

Periklanan pakaian dan aksesoris lebaran juga sudah mulai ramai berseliweran di medsos. Masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim memang merupakan peluang pasar yang besar. Khususnya menjelang bulan suci yang diikuti hari raya.

Periklanan juga menyuguhkan fenomena aneh. Berbagai tawaran bonus/diskon untuk konsumen muncul dari barang-barang bukan pokok. Kontras dengan merangkaknya berbagai kebutuhan pokok, tawaran belanja murah justru hadir agar masyarakat belanja hal-hal yang tidak prinsip. Akhirnya, selamat menyambut Ramadan.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    135
    Shares
  • 135
  •  
  •  
Close