Felix Siauw: Tidak Ada Dalil Nasionalisme, Ini 5 Bantahannya

  • 238
  •  
  •  
  •  
    238
    Shares

DatDut.Com – Nama Felix Siauw tidak begitu asing di telinga para pengguna sosmed. Rata-rata, penggemarnya adalah anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan. Ia merupakan ikon gerakan politik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang ingin berjuang menegakkan Khilafah Islamiyah di bumi pertiwi tercinta ini.

Felix Siauw menulis artikel berjudul “Tentang Cinta Indonesia, Nasionalisme, Ukhuwah, dan Kemerdekaan”, seperti dikutip dari felixsiauw.com. Dalam artikel tersebut, ia mengupas tentang nasionalisme dan kemudian dibenturkan dengan ukhuwah. Berikut 5 bantahan pada orang-orang yang anti paham nasionalisme, seperti Felix Siauw:

1. Nabi Seorang Nasionalis

Kata nasionalis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pecinta nusa dan bangsa sendiri. Salah satu bentuk cinta tanah air adalah menggunakan segala produk yang sesuai dengan negeri sendiri. Nabi menggunakan gamis, imamah, dan berbahasa Arab merupakan contoh kecil nasionalisme.

Selain itu, Nabi juga pernah bersabda, “Demi Allah, engkau (kota Mekah) adalah bumi Allah terbaik dan kota yang paling dicintai Allah. Kalau saja aku tidak diusir oleh penduduk setempat, aku tidak tega meninggalkanmu,” (HR. Timrizi). Ini merupakan salah satu dalil bentuk kecintaan Nabi pada kota Mekah.

Baca juga:  Kontra HTI yang Kontra Produktif

2. Nasionalisme dan Ukhuwah dapat Dilakukan Bersamaan

Dalam artikelnya, Felix Siauw menulis seperti ini, “Bila kita masih ngotot dengan nasionalisme, lalu bagaimana kita memandang Malaysia, Palestina, Turki, dan negeri-negeri Muslim yang lain? Dengan pandangan nasionalisme atau dengan pandangan ukhuwah?”

Menurut saya, pernyataan ustad selebritis ini aneh. Pertama, yang memeluk agama itu orang alias manusia, bukan negara. Sejak kapan negara punya agama? Kedua, dalam waktu bersamaan, kita bisa menerapkan nasionalisme dan ukhuwah. Cinta bangsa sendiri bukan berarti acuh terhadap bangsa lain.

Indonesia memiliki diplomat di berbagai negara itu bertujuan menjalin kerjasama yang menguntungkan kedua pihak. Ini juga namanya ukhuwah.

3. Anti-Nasionalisme Sama Saja Tidak Menghargai Pejuang

Dalam setiap cerahmahnya, Habib Luthfi seringkali menyebutkan pentingnya rasa nasionalisme yang harus ditanamkan secara terus menerus. Upacara bendera Sang Saka Merah Putih, memasang foto-foto pahlawan merupakan contoh kecil dari nasionalisme. Bila anti-nasionalisme, sama saja kita tidak menghargai perjuang para pahlawan Indonesia yang sudah tidak ada.

4. Penjajahan bukan Nasionalisme

Mencintai bangsa sendiri atas dasar nasionalisme bukan lantas membenarkan menjajah bangsa lain. Ini juga yang ditegaskan dalam Alquran bahwa kita dilarang memerangi negara non-Muslim yang tidak menyerang kita terlebih dahulu.

Baca juga:  Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili Dijuluki Imam Nawawi Abad Ini

Felix Siauw, dalam felixsiauw.com, mencontohkan bahwa atas dasar nasionalisme berarti warga Amerika dibenarkan menjajah bangsa Vietnam. Ustad Felix! Itu bukan nasionalisme, tapi menjajah!

5. NKRI Harga Mati

Saya menduga bahwa tulisan Felix Siauw di atas mengarah pada penegakkan syariah Islam secara kafah di Indonesia. Para pejuang Indonesia sudah sepakat bahwa ideologi negara kita itu adalah Pancasila dan UUD Dasar 1945.

Seperti dikutip dari ugm.ac.id, sebanyak 12 ulama terkemuka dari 12 provinsi di Afganistan mengunjungi Indonesia untuk belajar Pancasila. Coba bayangkan, orang lain saja mau belajar Pancasila kepada kita. Masa kita mau menggunakan produk impor. Apa itu berarti Anda tidak cinta tanah air, Ustad Felix?!

 

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    238
    Shares
  • 238
  •  
  •  

3 thoughts on “Felix Siauw: Tidak Ada Dalil Nasionalisme, Ini 5 Bantahannya

  1. Kepemimpinan Islam yg menjalankan aturan berdasarkan Al Quran dan Hadist adalah perintah Allah dlm Al Quran. Sekarang diperkedil menjadi istilah khilafah dan HTI. Al Quran tidak mempersoalkan bentuk negara maupun pemerintahan. Ini yang disembunyikan para ulama sekarang krn takut kepada penguasa atau takut hukum syariah berlaku yg berlawanan dgn kepentinganannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *