Felix Siauw dan Belajar Agama dari Terjemahan

  • 79
  •  
  •  
  •  
    79
    Shares

Itikaf itu kesempatan memahami agama, saran saya coba ambil waktu pas itikaf, baca terjemahan Al-Quran sampai kelar, biar lebih paham 🙂

DatDut.Com – Sebenarnya twit Felix di atas sebetulnya sudah berulang tahun yang pertama pada 18 Juni lalu. Namun masih saja menjadi magnet bagi sebagian orang untuk menjadikannya sebagai sasaran kritik.

Di mana kira-kira letak permasalahannya? Tak lain ada pada kalimat “baca terjemahan Al-Quran sampai kelar, biar lebih paham”.

Sekilas, kalimat Felix itu tak bermasalah. Dia menganjurkan pada para follower-nya agar membaca terjemahan Al-Quran sebab bisa dipastikan hanya sedikit orang yang bisa menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia.

Namun, hal itu menjadi masalah saat Felix berharap (melalui kalimatnya) orang paham isi Al-Quran dengan membaca terjemahnya saja.

Saya sendiri tak terlalu yakin jika Felix yang telah menelurkan beberapa karya berupa buku itu tak mengerti bahwa salah satu khazanah keilmuan yang ada di dunia Islam adalah ilmu tafsir.

Saat berbicara tafsir Quran, kita bukan sedang membicarakan tentang seorang yang mempunyai kapasitas keilmuan yang menengah apalagi muslim awam.

Seorang mufassir adalah orang yang paham akan kandungan Al-Quran melalui sekian jenis ilmu bukan sekedar mampu menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahwa ibunya, jika dia bukan orang yang berbahasa Arab dalam kesehariannya.

Baca juga:  Terganggu dengan Notifikasi dan Postingan Teman di Facebook? Gunakan Saja Trik Unik Ini

Ini yang entah sengaja atau tidak, seolah dinafikan oleh aktivis Hizbut Tahrir Indonesia itu dalam twitnya.

“Membaca terjemah untuk memahami Al-Quran” setidaknya memuat diksi yang memiliki tingkat kesalahan dan potensi menyesatkan yang tinggi.

Sebab adalah sebuah fakta, bahwa ada sebagian orang yang merasa paham isi baik Quran maupun Hadits hanya melalui artinya saja. Tekstual, tanpa merujuk pada ilmu perangkatnya atau para ulama yang jauh lebih ahli.

Melihat apa yang dituliskan Felix, saya teringat pada sebuah video pengajian seorang berpredikat Gus yang entah berapa banyak orang yang menjadikannya sebagai rujukan. Dialah Gus Nur.

Pria bernama asli Sugi Nur Raharja itu ditanya oleh seorang jamaahnya mengenai kemampuannya membaca kitab kuning.Sebagai prolog jawabannya, dia menerangkan definisi kitab kuning.

Sampai di sini tak ada masalah. Namun beberapa detik kemudian, saat dia mengatakan bahwa dia tak bisa membaca kitab kuning maka sekonyong-konyong keraguan akan predikatnya sebagai ustadz itu pun menyeruak.

Bukan sekedar pada bisa atau tidaknya dia membaca kitab kuningnya namun lebih dalam lagi yaitu pada kapabilitasnya dalam memahami ilmu agama.

Kita tahu bahwa Islam bermula dari jazirah Arab. Dari sana juga, lahir sekian banyak ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu, ilmu tafsir, hadits, fiqh dan lain sebagainya.

Baca juga:  Felix Siauw: Tidak Ada Dalil Nasionalisme, Ini 5 Bantahannya

Dan karena berbahasa Arab, maka kitab-kitab karya mereka pun ditulis dalam Bahasa Arab, meskipun kini sudah banyak sekali versi terjemahnya.

Kitab-kitab karya ulama besar Nusantara pun banyak yang menggunakan Bahasa Arab atau setidaknya aksara pegon (bahasa daerah yang ditulis dengan hurup Arab).

Jadi bisa disimpulkan jika seseorang berkata bahwa dia tak bisa membaca kitab kuning maka hal itu berarti dia tak menguasai Bahasa Arab.

Sehingga dari mana dia belajar ilmu agama? Bisa dipastikan dia belajar dari terjemahan, bukan kitab yang otentik dan entah dia memiliki guru atau tidak.

Lalu status apa yang layak disandang orang seperti itu? Ustadz, muballigh, dai, atau apa? Dan apakah kita tidak merasa ada yang salah saat menjadikannya rujukan?

Mari kita tanyakan jawabannya pada ayam jantan yang berkokok.

 

Komentar

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me
  •  
    79
    Shares
  • 79
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *