Kiai Ali Mustafa Yaqub dan Imam Salat yang Tak Fasih Bacaannya

  • 109
  •  
  •  
  •  
    109
    Shares

DatDut.Com – Sebelum Pesantren Darussunnah Ciputat seperti sekarang, santri salat berjamaah di masjid yang tak jauh dari pesantren peninggalan almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub. Tidak hanya santri, tapi Kiai Ali sendiri selalu mengikuti salat berjamaah di masjid tersebut, ketika beliau tidak ada kegiatan di luar. Beliau pula yang selalu menjadi imam salat.

Suatu hari beliau ada kegiatan di luar pesantren. Otomatis posisi imam salat digantikan oleh orang lain. Biasanya kalau tidak santri, ya tokoh masyarakat sekitar. Entah mengapa, tokoh masyarakat yang biasa menggantikan posisi Pak Kiai juga berhalangan. Dan, para santri karena tahu Pak Kiai berhalangan hari itu, datang dalam posisi sebagai makmum masbuk.

Tiba-tiba ada seseorang yang memang rajin berjamaah di masjid itu, sudah dalam posisi memajukan diri sebagai imam salat. Santri yang memang datang telat tak mempersoalkan mengapa bapak yang tak pernah diketahui menjadi imam itu, tetiba sudah ada di mihrab.

Namun, kisahnya menjadi lain ketika imam dadakan ini membaca surah al-Fatihah. Saat itu memang kebetulan salat magrib, yang memang bacaannya jahr (keras). Ada bagian-bagian tertentu dari bacaan bapak imam dadakan ini yang membuat para santri ragu untuk terus menjadi makmum, karena bacaannya tidak fasih dan cenderung janggal di beberapa bagian.

Baca juga:  Dituduh sebagai Syiah karena Lagu Ya Thaybah, Ini Klarifikasi dan Bantahan Haddad Alwi

Salah satu yang membuat santri ragu adalah ketika bapak imam itu membaca alhamdulillah rabbil ngalamin. Bacaan yang semestinya ‘alamin, dibaca ngalamin dengan aksen dan logat wilayah tertentu di Jawa Tengah. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in juga dibaca iyyaka nangbudu wa iyyaka nastangin.

Tentu saja para santri yang mempunyai pengetahuan terkait tajwid, bacaan Alquran, dan bacaan salat, menjadi gusar. Sebagian bahkan terlihat hendak mufaraqah (memisahkan diri dari jamaah salat), tapi entah mengapa urung dilakukan.

Nah, setelah salat selesai, para santri saling pandang satu sama lain. Kalau tak ingin menjaga perasaan bapak imam dadakan ini, tawa para santri sebetulnya ingin meledak. Tapi dalam hati masing-masing berkecamuk mengenai sah dan tidaknya salatnya saat itu. Bahkan, ada sebagian santri yang akhirnya memutuskan untuk mengulang salatnya.

Ketika keesokan harinya Pak Kiai Ali sudah bisa berjamaah bersama santri di salat subuh yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian bakda subuh, kesempatan ini tentu tak disia-siakan. Para santri memanfaatkan momen itu untuk menanyakan sah dan tidaknya salat magrib semalam.

Namun, di luar dugaaan, Pak Kiai justru tidak memberikan jawaban sharih (tegas dan jelas) mengenai sah atau tidak salat magrib itu. Beliau justru mengajarkan fikih dakwah yang indah. Beliau tidak ingin memposisikan diri sebagai hakim, tapi justru berposisi sebagai wasit yang fair.

Baca juga:  Siapa Bilang Alumni UIN Cuma Jadi Ustaz, Ini 5 Pengamat Politik Alumni IAIN/UIN

“Diterima dan tidaknya salat seseorang tidak hanya terkait dengan bacaannya fasih atau tidak. Hati yang ikhlas dan khusyu, juga keistikamahan dalam ibadah, justru menjadi hal yang harus lebih dipertimbangkan. Mungkin secara fikih tidak sah, tapi bisa jadi Allah Swt. menerima salatnya atas pertimbangan keikhlasan dan keistikamahannya.”

Fatwa almarhum Kiai Ali Mustafa Yaqub tersebut mengakhiri gundah-gulana sebagian santri. Hingga hari ini nasihat-nasihat yang seperti itu dipegang oleh sebagian besar santri beliau.

Santri yang pernah belajar kepada beliau, selalu mendapat pelajaran, meski kadang harus tegas, tapi tidak boleh kaku. Kewajiban amar makruf nahi mungkar, tak boleh justru menjauhkan orang dari Islam. Itu yang selalu beliau tekankan. Semoga Allah Swt. selalu merahmati dan memberi karunia pada beliau di tempat peristirahannya.

 

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

  •  
    109
    Shares
  • 109
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *