Jangan Buru-buru Menganggap Sesat Ihya’ Ulumiddin sebelum Tahu 5 Fakta Keren Ini!

  • 98
  •  
  •  
  •  
    98
    Shares

DatDut.Com – Kitab Fathul Muin dijadikan materi utama lomba baca kitab yang diadakan oleh PKS. Mungkin demi mengimbangi manuver politik PKS, PKB tak mau kalah. Kitab Ihya’ Ulumiddin dijadikan materi perlombaan baca kitab oleh partai berbasis warga NU ini.

Kitab Ihya’ Ulumiddin merupakan karya fenomenal Imam al-Ghazali. Kitab tasawuf yang menjadi kajian wajib di tiap pesantren salaf utamanya yang berafiliasi ke NU. Juga merupakan tolok ukur kalangan santri dalam hal pengajian adab dan akhlak. Belum sempurna rasanya predikat pernah mondok, terutama di pesantren salaf, kalau belum pernah khatam ikut pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin.

Ketebalannya yang mencapai 4 jilid menjadikan kitab ini menjadi pengajian paling panjang dan lama. Rata-rata pesantren salaf mengkhatamkan pengajian Ihya’ dalam 3-4 tahun. Pengajian biasanya diselenggarakan setelah shalat wajib atau jam-jam tertentu.

Misalnya di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi yang menempatkan pengajian Ihya’ Ulumiddin pada waktu dhuha (jam 07.00) dan sore setelah jamaah ashar. Ada juga sebagian pesantren yang mengkhatamkan kitab ini dalam beberapa bulan saja dengan sistem pengajian bandongan kilatan.

Imam al-Ghazali yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 H. Ayahnya adalah seorang salih dan sufi yang menjaga hati dan tangannya untuk melakukan yang halal.

Sepeninggal ayahnya, Muhammad bersama saudaranya, Ahmad dititipkan kepada paman mereka. Setelah bekal dari warisan mereka habis, keduanya lalu dimasukkan ke madrasah Nidhamiyyah, Baghdad Irak.

Dalam mukadimah Ihya’ dikisahkan bahwa selain agar bisa menuntut ilmu, mereka di madrasah Nidhomiyyah adalah agar bisa mendapat fasilitas dan biaya hidup gratis yang memang disediakan disana.

Setelah menguasai berbagai bidang ilmu, akhirnya al-Ghazali melakukan ‘uzlah (menjauhi hiruk pikuk duniawi) dan khalwat (menyendiri) di daerah Syam/Syiria. Selain di Syam, al-Ghazali pernah baerziarah ke Baitul Maqdis dan menetap di daerah itu selama 10 tahun dengan melanjutkan uzlahnya. Sekembalinya ia ke Baghdad, ia kembali mengajar di madrasah Nidhomiyyah hingga akhirnya kembali ke daerah kelahirannya, ath-Thusi dan wafat disana pada 505 H.

Kitab Ihya’ saat ini sedang mendapat perhatian lebih dari kalangan santri dan pesantren karena adanya lomba berskala nasional. Untuk menambah kenal sekaligus memperkenalkan kitab ini ke kalangan luar pesantren, berikut 5 fakta unik terkait kitab Ihya’ Ulumiddin.

[nextpage title=”1. Tradisi Pembacaan Juz Secara Berpasangan”]

1. Tradisi Pembacaan Juz Secara Berpasangan

Penyelenggaraan pengajian Ihya’ di pesantren salaf biasanya tidak berurutan dari jilid 1 hingga 4. Tetapi 2 jilid dikaji dalam sehari pada waktu berbeda. Bila dalam satu pesantren ada beberapa pengasuh/kiai, dua kiai akan membacakan Ihya’ pada waktu dan dengan jilid berbeda.

Pengambilan jilid pun biasanya dengan memasangkan jilid 1 dengan jilid 3, dan jilid 2 dengan jilid 4. Satu kiai membaca jilid 1, dan kiai lain membaca jilid 3. Atau si kiai membaca dua jilid berbeda dalam waktu satu hari dalam dua waktu berbeda, misalnya pagi jilid 1, sore jilid 3.

Menurut sumber yang pernah saya dengar, hal itu agar seimbang antara kajian ibadah badaniah dan kajian pembersihan jiwa. Sudah mafhum bahwa jilid 1 dan 2 dari Ihya’ Ulumiddin banyak membahas ibadah sehari-hari, sedangkan jilid 3 dan 4 membahas pembersihan diri dari penyakit hati.

Baca juga:  Memahami Fikih Melalui Kitab Safinatun Najah

[nextpage title=”1. Tradisi Pembacaan Juz Secara Berpasangan”]

2. Sistematika Penjelasan dalam Ihya’

Sistematika penulisan kitab Ihya’ begitu rapi sehingga menjadikan Ihya’ lebih menarik dan mudah dibaca oleh berbagai kalangan. Sederhana, berbobot, dan tidak terlalu melebar dalam penyajian. Istilah-istilah rumit jarang ditemukan dalam pengungkapannya.

Dalam setiap bab, al-Ghazali selalu mengawali penjelasan dengan menghadirkan dalil Alquran yang sesuai dengan bab tersebut. Kemudian dihadirkannya hadis-hadis, atsar (perkataan sahabat nabi), lalu perkataan-perkataan para ulama tabiin dan ulama tasawuf.

Selain itu, dalam menjelaskan definisi suatu istilah terkadang ia menghadirkan terlebih dahulu pendapat para ulama yang telah ada kemudian baru mengetengahkan pendapatnya disertai koreksi atas pendapat yang sebelumnya.

Cara penyampaian yang runtut dan tidak menyisipkan keterangan tambahan di sembarang tempat, membuat Ihya’ begitu rapih dan nyaman dibaca. Tetapi, sebagai kitab yang memang besar, penjelasan panjangnya tetap membuat santri yang mengaji masih harus mengerutkan kening untuk mencerna bahasa Ihya’.

Mengaji Ihya’ itu istimewa. Jika kiai yang membawakan Ihya’ adalah seorang ulama sepuh dan kharismatik, suasana terasa sangat sakral dan khusyu. Hanya anak pesantren dan penggemar Ihya’ lho yang bisa rasakan suasana ini.

[nextpage title=” 3. Berbagai Kritik terhadap Ihya’”]

3. Berbagai Kritik terhadap Ihya’

Sebagai kitab yang eksis hingga masa kini, Ihya’ Ulumiddin telah melewati sekian banyak seleksi alam yang panjang. Berbagai kritikan dan bantahan atas uraian dan dalil-dalil yang termuat di dalamnya juga tidak sedikit. Sebagian bahkan dijadikan amunisi kelompok Wahabi untuk memvonis sesat kitab Ihya’ dan Imam al-Ghazali. Ya… seperti tradisi dan adat mereka terhadap berbagai kitab umat Islam mayoritas.

Di antara kitab yang mengkritik hadis-hadis yang termuat dalam Ihya’ adalah al-Mughi ‘an Haml al-Asfar fi al-Asfar fi Takhrij Ma fi al-Ihya’ min al-Akhbar karya al-Hafidz Abdurrahim bin al-Hussain al-Iraqi yang masyhur dengan nama al-Hafidz al-Iraqi (W. 806 H). Kitab koreksi hadis atau takhrij ini dalam cetakan versi Toha Putera Semarang dan beberapa penerbit lawas selalu dikemas dalam satu kitab dengan Ihya’. Berada di bagian bawah garis, sejenis catatan kaki.

Al-Hafidz Ibnu Hajar yang merupakan murid dari al-Hafidz al-Iraqi juga menulis satu jilid kitab takhrij terhadap hadis dalam kitab Ihya’ sebagai pelengkap tulisan gurunya. Namun, menurut az-Zabidi dalam al-Itthaf, Ibnu Hajar tidak menyebutkan nama kitab tersebut.

Imam Tajudin as-Subki juga mengkritik banyak hadis yang dimuat dalam Ihya’. Hanya saja, beda metode menghasilkan perbedaan hasil pendapatnya dengan takhrij yang dilakukan oleh al-Hafidz al-Iraqi.

Ibnul Jauzi atau Abu al-Faraj ibn al-Jauzi (508 H-597 H) merupakan pengkritik awal terhadap Ihya’. Kitab takhrijnya yang berjudul Minhaj al-Qashidin wa Mufid ash-Shadiqin menjadi rujukan utama para penentang al-Ghazali.

Rupanya, kitab inilah yang kini dijadikan rujukan dasar Wahabi. Disertai bumbu antisufi, antitasawuf, antiilmu kalam atau mantiq, mereka tidak segan mengalamatkan vonis sesat, pemalsu hadis, penyebar bidah, bahkan syirik kepada Imam al-Ghazali. Sebagai contoh, silakan baca tulisan “panas” di situs alquran-sunnah.com.

[nextpage title=”4. Pembelaan terhadap Ihya’”]

4. Pembelaan terhadap Ihya’

Banyaknya kritik dan penelitian hadis oleh para ahli sebenarnya tidak bertujuan memvonis sesat terhadap Ihya’. Nyatanya, meskipun Ibnul Jauzi mengkritik habis banyak hadis dalam Ihya’, ternyata ia tetap mempertahankan materi utama yang disampaikan al-Ghazali dalam kitab tersebut.

Baca juga:  Mau Gampang Menghafal Apa Pun? Ini 5 Caranya Versi Kitab Ta’limul Mutaalim

… Oleh karena itu, aku menyusun sebuah buku yang terbebas dari masalah tersebut tadi, dengan tetap mempertahankan keutamaan (kebaikan) dari kitab aslinya (Al-Ihya),” demikian ungkapnya sebagaimana dikutip Ibnu Qudamah dalam mukadimah kitabnya, Mukhtashar Minhaj al-Qashidin.

Dengan ini saja, sebenarnya sudah dipahami bahwa Ibnul Jauzi hanya fokus mengkritik hadis-hadis yang menurut pendapatnya bermasalah. Bukan berniat menjatuhkan apalagi menyesatkan Ihya’ ,seperti yang dilakukan kelompok Wahabi.

Dalam takhrijnya, al-Hafidz al-Iraqi ternyata hanya mengungkap maksimal 3 hadis yang disepakati kepalsuannya. Itu berbeda dengan takhrij yang dilakukan oleh Ibnul Jauzi yang berpendapat 25 hadis dalam Ihya’ terindikasi palsu. Lain lagi hasil penelitian Tajudin as-Subki dalam Thabaqah asy-Syafi’iyyah al-Kubra yang menghitung adanya 923 hadis yang ia komentari dengan “tidak ada asalnya”.

Perbedaan antara al-Iraqi dan as-Subki terjadi karena al-Iraqi tahu bahwa hadis yang disampaikan oleh al-Ghazali banyak diriwayatkan secara makna sehingga matan atau ungkapannya tidak ditemukan dalam kitab hadis induk.

Karenanya al-Iraqi sering meluruskan hadis itu dengan perkataan, “Teks hadisnya tidak seperti ini, tetapi begini …”, sedangkan as-Subki langsung mengatakan “hadis ini tidak ada asalnya” terhadap hadis-hadis tersebut. Khusus Ibnul Jauzi ternyata ia pun tak luput dari koreksi para ahli hadis atas berbagai pendapatnya. Hal ini dikutip dari penjelasan Ust. Ma’ruf Khozin.

Secara umum, takhrij yang paling membela dan berjasa “meluruskan” hadis-hadis dalam Ihya’ adalah karya al-Iraqi yang hingga kini selalu dicetak menyertai matan kitab Ihya’.

[nextpage title=”5. Sisi Unik Pembahasan dalam Ihya’”]

5. Sisi Unik Pembahasan dalam Ihya’

Kitab Ihya’ Ulumiddin tidak hanya membahas tasawuf saja, bahkan lengkap dengan ilmu fikih ibadah, muamalah/transaksi, dan pernikahan. Hanya saja pembahasannya bukan lagi tentang syarat sah dan syarat wajib, rukun dan sunah, tetapi menitikberatkan pada sisi hikmah di balik segala gerak dan prosesi ibadah yang dijalani.

Maka judul setiap bagian pun selalu dengan kata asrar/berbagai inti sari. Kitab asrar ash-shalat, asrar az-zakat, dan seterusnya. Sehingga pembaca diajak untuk meresapi dan mengarungi lautan hakikat dari segala ibadah.

Pada jilid kedua, Imam al-Ghazali menyajikan pembahasan berbagai hal terkait kebiasaan umum masyarakat Islam. Di sinilah dibahas pernikahan, jual beli, musafir, tata pergaulan, etika uzlah (menyendiri) dan sebagainya.

Ketika pengetahuan tentang dasar-dasar akidah dan ibadah serta muamalah telah tuntas, barulan disuguhkan penjelasan olah jiwa dengan pengenalan berbagai penyakit qalbu dalam jilid yang ketiga. Penyampaian panjang al-Ghazali akhirnya ditutup dengan jilid terakhir yang menjelaskan berbagai hal terkait penyelamatan diri dari sifat-sifat tercela, pendalaman tasawuf dan persiapan menghadapi kematian.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    98
    Shares
  • 98
  •  
  •  

One thought on “Jangan Buru-buru Menganggap Sesat Ihya’ Ulumiddin sebelum Tahu 5 Fakta Keren Ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close