Ekspedisi Dakwah Darussunnah di Tanah Papua

  • 16
  •  
  •  
  •  
    16
    Shares

DatDut.Com- Akhir-akhir ini berita tentang Papua mendadak menjadi  trending topic  di laman-laman media sosial.

Hal ini membuat saya teringat Guru kami almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub yang dulu bercita-cita untuk berdakwah di Tanah Papua selepas meraih gelar master dari King Saud University.

Namun atas saran guru-gurunya (di antaranya Gus Dur), ilmunya akan lebih bermanfaat bagi umat jika beliau menetap di Ibukota.

Atas dasar itu beliau menunda cita-citanya. Dan seiring berjalanya waktu beliau mendirikan pesantren Darussunah dan dari santri-santrinya itulah ternyata cita-cita berdakwah di Papua terealisasi.

Dari program pengiriman dai itu kita mendengar kisah-kisah bagaimana keadaan saudara-saudara kita di timur Indonesia.

Seperti yang diceritakan oleh ustaz Ahmad Nuril Farihin salah satu Dai Darussunah tentang perkembangan dakwah islam di Manokwari, daerah yang dia sebut sebagai Central of Papua.

Kalau Raja Ampat terkenal dengan keindahan lautanya yang natural, Jayapura dengan kekayaan alamnya yang melimpah, atau merauke yang sering dinyanyikan dalam lagu “dari sabang sampai Merauke”, maka Manokwari terkenal dengan julukan kota buahnya seperti kota Malang.

Selain itu, Manokwari juga dikenal sebagai kota injil. Karena menurut sejarahnya ada dua orang misionaris Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geiser mendarat di daerah kekuasaan kesultanan Ternate.

Baca juga:  Ngaji di Kantor, Perlukah?

Kemudian diarahkan untuk menuju tanah papua tepatnya di Manokwari. Maka disebutlah sebagai kota turunya injil.

Sebagai kota yang berpenduduk mayoritas non-Muslim tentu saja suasana keagaaman masyarakatnya jauh berbeda daripada kita yang tinggal di daerah barat Indonesia yang mayoritas muslim.

Bahkan para dai dari Darussunah awalnya kaget karena belum pernah mengalami fenomena yang tidak biasanya.

Selama berdakwah di bulan puasa, mereka sering menyaksikan pesta pora, hura-hura bahkan mabuk di tengah jalan sudah menjadi pemandangan yang biasa. Di situlah hal yang harus kita maklumi mengingat daerah itu adalah daerah mayoritas non muslim.

Meski begitu, dakwah dengan akhlak, dakwah dengan kelembutan adalah pegangan yang selalu dijadikan pedoman sebagaimana teladan dari guru kami K.H.  Ali Mustafa Yaqub.

Maka sedikit demi sedikit dakwah islam berkembang di tempat itu. Tetapi yang menjadi kendala adalah para mualaf kesulitan mencari guru yang mengajari mereka salat membaca alquran dan kegiatan keagamaan yang lain.

Oleh karena pengiriman dai ke daerah timur adalah kebutuhan yang harus segera dipenuhi oleh dai-dai muda.

Lain lagi dengan cerita dakwah ke papua oleh Ust. Saipul Anwar yang diminta memberi kultum di sebuah mushala yang berada di tengah lokalisasi. Meski di dekat tempat ibadah tetapi dekililingi oleh diskotik, dan tempat hiburan malam.

Baca juga:  Ini Terjemahan Qasidah Sa'duna Kesukaan Mbah Moen

Mereka para dai dibuat terkejut karena pengeras suara luar yang lebih besar berkali-kali lipat daripada pengeras suara dalam.

Menurut pengakuan marbot mushala memang sengaja dikeraskan dengan harapan  mereka ikut mendengar ceramah-ceramah yang disampaikan.

Menurut  imam mushala itu, mereka yang di luar lebih membutuhkan pencerahan daripada mereka yang ada di dalam.

Papua dengan segala keindahan alamya masih membutuhkan sentuhan keindahan dakwah islam. Maka dai-dai muda perlu memelebarkan sayapnya ke timur Indonesia untuk menumbuhkan kembali dakwah islam yang rahmatan lil alamin.

2
100 %
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Fauzan A'maludin A'lam

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute of Hadith Sciences Darussunnah
Fauzan A'maludin A'lam
  •  
    16
    Shares
  • 16
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close