Dr. Sahabuddin, Bukan Profesor Tapi Mengajar Para Doktor

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Namanya Pak Sahabudin, begitulah biasanya mahasiswa menyapa. Pria kelahiran Lombok yang telah mengabdikan separuh hidupnya untuk baginda Nabi, ilmu, dan agama.

Di usianya yang terhitung telah masuki usia senja, semangat menyampaikan ilmu tak pernah redup dalam jiwanya.

Sebagaimana pengakuan beliau sendiri di hadapan mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta.

“Ayah saya petani. Sampai usia delapan puluhan beliau masih kuat pergi ke sawah. Justru kalau tidak pergi ke sawah malah sakit-sakitan. Mungkin saya juga mewarisi sifat beliau. Jadi, kalau sehari saja saya tidak memgajar, badan terasa pegal-pegal.”

Begitu kata beliau yang disambut tawa para mahasiswa.

Suaranya yang lantang saat mengajar, dengan bahasa arabnya yang khas, menjadi ekspresi semangatnya dalam mengajar.

Orangnya sangat on time, saking disiplin waktu terkadang beliau lebih dahulu hadir di kelas meski mahasiswa belum sampai.

Tapi terkadang terkesan killer juga sih. Apalagi kalau sedang marah gara-gara ada mahasiswa bandel atau terlambat masuk kelas. Intinya jangan sekali-kali membuat beliau marah. Horor pokoknya.

Seperti itulah pak Sahab, pakar hadis Indonesia yang juga staf pengajar di Fakultas Dirasat islamiyah UIN Jakarta yang telah melanglang buana dalam pengembaraan ilmunya.

Baca juga:  Dr. Syairozi Dimyati, Dekan Berkarisma dan Inspiratif

Di masa mudanya beliau menimba ilmu sampai tanah haram Mekah kurang lebih selama lima tahun.

Setelah itu, beliau melanjutkan studinya dari jenjang S1 sampai mendapat gelar Doktor dalam bidang hadis dan ilmu hadis di Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Melihat riwayat pendidikanya, tidak salah jika sekelas Prof. Said Agil Al Munawar meminta beliau untuk menjadi badal (pengganti) mengajar di kelas doktoral di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta jika sedang berhalangan hadir.

Walhasil walaupun bukan seorang profesor tapi beliau berkesempatan untuk mengajar para calon-calon doktor.

Meskipun secara administratif seharusnya yang mengajar kelas doktoral adalah profesor, tetapi karena belum ada profesor dalam bidang hadis di UIN Jakarta.

Satu-satunya profesor dalam bidang hadis adalah almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub.

Maka sepeninggal Imam Besar Masjid Istiqlal itu hanya tinggal Dr. Sahabudin yang layak mengisi kekosongan itu.

Gelarnya memang bukan profesor, tapi keilmuannya tak kalah dengan para profesor.

Mungkin bedanya hanya kalau profesor membukukan keilmuanya, sedangkan Pak Sahab hanya mentransfer kepada murid-muridya dan mengamalkan ilmu dalam kehidupanya.

Selain pakar dalam Ilmu Hadis, ternyata beliau juga murid langsung dari ulama besar ahli hadis di Mekah yaitu Syekh Yasin Al Fadani yang bergelar Musnidud Dunya (Pemilik sanad keilmuan terbanyak).

Baca juga:  Ini Kenangan 5 Tokoh tentang Gus Dur Saat Haul ke-6

Bahkan Pak Sahab sempat mulazamah dan talaqi (mengaji dari mulut ke mulut) langsung kepada syekh Yasin al Fadani.

Oleh kerena itu, beliau termasuk satu di antara sedikit murid Syekh Yasin yang masih hidup hingga saat ini.

Di hadapan mahasiswa belau pernah berkata, “Saya dua tahun lagi pensiun, karena saya bukan profesor. Kalau saya profesor bisa ditambah lima tahun lagi, tapi sayangnya sampai saat ini saya belum nulis apa-apa,” sambil tertawa, tentunya dengan bahasa arab.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Fauzan A'maludin A'lam

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute of Hadith Sciences Darussunnah
Fauzan A'maludin A'lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close