Diskriminasi terhadap Karyawati Berjilbab Ternyata Tak Hanya di Luar Negeri, Tapi Juga di Sini

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Selama ini kita mengira, kisah soal karyawati yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari tempatnya bekerja gara-gara berjilbab atau berhijab itu hanya terjadi di luar negeri. Ternyata perkiraan kita salah.

Banyak saudara-saudara kita kaum Muslimah yang terpaksa bekerja dengan berhijab, justru mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari tempatnya bekerja. Mereka bahkan hingga dipaksa untuk melepaskan jilbab atau hijabnya bila tetap ingin bekerja di tempat itu. Dan sekali lagi, itu terjadi di sini, di negeri kita, bukan di tempat yang jauh.

Kalau di luar negeri tentu itu bisa dimengerti meskipun tidak bisa diterima juga karena melanggar hak asasi juga prinsip toleransi. Bisa dimengerti karena umat Islam minoritas. Nah, kalau hal itu terjadi di dalam negeri tentu saja sulit diterima akal sehat manapun.

Umat Islam mayoritas di negeri ini, tapi ternyata tetap mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari tempatnya bekerja hanya gara-gara jilbab atau hijab yang dipakainya. Tentu umat Islam perlu menyatakan sikap dalam kasus-kasus seperti ini.

Nah, salah satu korban perlakuan tidak menyenangkan itu beberapa hari lalu mengirimkan surat pada redaksi Datdut.com. Surat yang menggambarkan tentang bagaimana perasaannya setelah dipaksa melepaskan jilbab oleh tempatnya bekerja. Berikut isi surat muslimah tersebut yang enggan disebutkan identitasnya:

Baca juga:  Musa, Qarun, dan Pelacur Bayaran

Saya merasakan bekerja di sebuah ritel. Selama 4 tahun saya bekerja di situ diperbolehkan memakai jilbab. Tetapi, setelah atasan saya yang semula muslim digantikan nonmuslim, maka dibuatlah sebuah peraturan yang tidak memperbolehkan karyawatinya memakai jilbab.

Kami sebagai muslimah yang sudah berjilab diberi pilihan untuk membuka jilbab atau keluar tanpa uang kompensasi. Apakah kita sebagai muslim harus dibedakan? Sungguh tidak adil.

Saya memilih keluar. Untuk apa saya menaati peraturan atasan saya, tapi malah melanggar peraturan yang sudah Allah tetapkan. Namun yang membuat sedih saya. Dari sekian banyak karyawati yang berhijab banyak yang memilih untuk membuka hijabnya dengan alasan jika keluar nanti akan susah mencari pekerjaan lagi. Mereka membuka jilbab mereka.

Jujur keluarga saya melarang saya keluar dari pekerjaan itu karena mereka berpikir lebih utama mnghijabi hati daripada fisik. Buat apa menutupi kepala kalau hati kita tidak baik. Tapi menurut pendapat saya, hijab di hati memang yang utama dan itu diwujudkan salah satunya dengan menutupi aurat kita. Entah pendapat saya benar atau salah. Yang pasti itu yang saya yakini. Karena menutup aurat bukanlah sunah tetapi wajib jika kita mengaku seorang muslimah

Saya hmpir setahun mennggur (karena keputusan itu). Bukannya berdiam dan tidak usaha. Tapi saya sudah berusaha kesana-kemari namun dari pekerjaan itu kebanyakan menuntut saya untuk tidak berjilbab.

Keluarga saya pun sangat-sangat merutuki keputusan saya. Mereka berpikir saya egois. Karena gara-gara hijab saja saya menolak pekerjaan itu. Tapi, alhamdulillah, Allah tidak akan menyusahkan hamba-Nya. Saya sekarang membuka usaha kecil-kecilan. Meskipun hasilnya jauh dari penghasilan saya yang dulu namun saya merasakan keberkahannya.

 

Baca juga:  Meski Diperlakukan Tak Nyaman, Para Ulama Besar Ini Memilih Mengalah
0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close