• 34
  •  
  •  
  •  
    34
    Shares

DatDut.Com – Dulu ketika awal-awal nama Denny Siregar sering berseliweran di beranda medsos, saya bertanya-tanya dalam hati, “Siapa orang ini?” Saya pun mencari profilnya di Mbah Kakung Google.

Sayang saya tak banyak mendapat informasi dan data mengenai sosoknya. Bahkan, di situs pribadinya sekalipun. Saya hanya ketemu data kalau dia dulunya wartawan dan saat ini aktif sebagai pegiat medsos. Itu pun label yang diberikan oleh sesama pendukung Ahok.

Nah, ketika dia tampil buruk di ILC, saya pun mendapat jawaban kenapa dia menyembunyikan identitasnya. Dia seperti memang sengaja menyembunyikan identitasnya karena tak percaya diri dengan kompetensinya.

Yang saya banyak jumpai justru tulisan-tulisannya yang provokatif dalam menyerang siapa pun penentang Ahok, termasuk ulama sekalipun. Ia bahkan pernah memparodikan tangisan Ustaz Yusuf Mansur ketika Nusron Wahid di acara ILC membentak-bentak dan memelototi ulama yang hadir.

Bagi saya, sangat janggal figur yang cukup dikenal (meskipun cuma di medsos), tapi sulit menemukan profil lengkapnya. Seperti ada kesengajaan untuk menyembunyikan identitasnya. Seperti tidak percaya diri dengan dirinya sendiri.

Maka ketika beberapa waktu lalu secara membabi buta dia melakukan penyerangan naratif ke K.H. Ma’ruf Amin, saya jengah juga. Menurut saya, apa yang dilakukannya benar-benar keterlaluan dan kelewatan!

Apa kapasitas dan kompetensi Denny S itu hingga berani dan lancang menilai sebegitu rendah dan hina K.H. Ma’ruf Amin, bahkan menyuruh Kiai M’aruf untuk bertobat?! (O iya, saya simpan file pdf tulisan dia yang melecehkan dan merendahkan Kiai Ma’ruf, siapa tahu nanti diperlukan).

Siapa dia? Dalam konteks inilah, saya menganggap dia itu tak lebih dari provokator medsos yang cari makan dari provokasi dan jualan kontroversi!

Baca juga:  Ini 5 Fakta Tak Tertungkap tentang Tangis dan Tawa

Dia mestinya membuktikan apa yang ditulisnya sebelum menjadi hakim dalam tulisannya. Jangan seenak udele dewe menunjuk-nunjuk orang. Seperti merasa orang paling baik dan paling suci saja! Ternyata kualitasnya hanya segitu. Kerap mempermalukan orang, kini ia dipermulakan semalu-malunya. Sayangnya dia sudah tidak punya malu.

Waktu musim Pilkada Jakarta, banyak orang yang kemudian bertanya-tanya melihat membabi butanya dia menyerang semua yang menghadang Ahok. Orang lalu menduga-duga, apa yang dilakukan itu adalah bagian dari tugas yang diembannya: membully dan membabat habis semua yang berseberangan dengan Ahok, tak peduli ulama sekalipun.

Sebaliknya untuk Ahok atau para pendukungnya, semua yang dilakukan dia benarkan semua. Tak ada salah sedikit pun. Kekritisannya pun tiba-tiba tumpul. Terus dipuja dan disanjung tanpa cela. Dari sini saja kita menjadi curiga kalau semua tak gratisan.

O iya, saya perlu mengingatkan juga, jangan sampai kita naif menilai orang seperti ini melakukan semua itu gratisan. Kita semua patut curiga itu ada bayarannya. Kalau tak percaya, suruh dia buka-bukaan buku tabungannya dan soal transferan yang masuk ke rekeningnya.

Kalau dia bisa buktikan semua yang dilakukan itu murni atas dasar idealisme dan memperjuangan kebangsaan atau kebhinekaan yang selama ini dikoar-koarkannya, saya akan angkat topi untuknya.

Tapi kalau dia tidak bisa atau tidak berani buka-bukaan soal tabungan dan rekeningnya, ya sudah lebih baik abaikan saja dan anggap saja tak ada. Dia sebetulnya sudah tidak punya hak untuk bicara apa pun, apalagi menilai orang lain.

Baca juga:  Abu Janda al-Boliwudi Tukang Adu Domba, Provokator Medsos, dan Membabi Buta Bela Ahok

Orang seperti ini amat berbahaya untuk kebangsaan dan kemajemukan kita. Dia bisa melakukan apa saja demi mendapat sesuatu untuk mengisi perutnya, tak peduli itu akan menghancurkan kita sebagai bangsa. Orang seperti ini ancaman serius bagi keutuhan kita sebagai bangsa.

Atas semua yang dilakukannya selama ini, mestinya orang seperti ini harus diberi pelajaran. Kalau membaca tulisan-tulisannya, ia tidak hanya provokator medsos tapi juga pengujar kebencian. Semoga suatu saat ada yang memperkarakannya secara hukum.

Kalau tidak, biar Allah saja yang menghukum dan menghabisi masa depannya. Karena kalau orang seperti ini dibiarkan hidup dan berkeliaran, akan banyak manusia yang tak tahu diri kepedean menilai orang-orang yang jauh kapasitas dan kualitasnya di atas dirinya.

Dan, Allah sudah menghukumnya dengan pedih. Dipermalukan di depan jutaan mata lalu dibully habis-habisan di media sosial. Maka, jangan pernah meniru kelakuan Denny Siregar kalau tak mau dipermalukan di depan jutaan mata.

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media. Pengajar di Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora. Ketua Program Studi Tarjamah FAH UIN Syarif Hidayatullah. Doktor Filologi Islam dan Analisis Wacana.
Moch. Syarif Hidayatullah
  •  
    34
    Shares
  • 34
  •  
  •  

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.