Debat dengan Wahabi dan Pentingnya Small Talk dalam Berdakwah

  • 32
  •  
  •  
  •  
    32
    Shares

DatDut.Com – Pemula dalam bahasa Inggris pasti mengenal Small Talk. Istilah ini diajarkan dalam bab Introduction. Small Talk semacam trik cerdas menemukan bahan conversation yang nyaman saat berkenalan dengan orang baru.

“Nice to meet you, Nawal.”

Aku tahu namanya dari formulir pendaftaran saat aku pura-pura mendaftar kursus.

“Nice to meet you too, Dimas” Jawabnya. Sengaja aku bilang Dimas. Biar agak Jakarta.
“Where are you from?” tanyaku lembut.
“I’m from Aden.”
“Wow! I went to Aden’s Port last summer. It’s a lovely place!”

Padahal boro-boro ke pelabuhan Aden, keluar asrama saja khawatir kena peluru nyasar. Matanya yang seindah burung Camar itu mendelik.

“Did you? We must talk about this!”

Pada fase ini aku sukses menggunakan trik Small talk. Maka percakapan tetang Aden, biar mesra, kami lanjutkan di ruang kerjanya.

Trik memancing percakapan itu tidak melulu tentang tempat, tapi bisa mengenai cuaca, hobi, hewan piaraan, kuliah, makanan favorit, dan segala tema ringan untuk memulai conversation. Begitu petuah Nicole Jone dalam video “English for You” Level 2 yang kuunduh dari Youtube.

Tapi di Mukalla aku mempunyai pengalaman lain. Jika bertemu orang yang berewoknya panjang awut-awutan, aku ngeri. Laki-laki seperti ini Small Talk-nya berbeda.

Suatu hari aku pergi ke Syarij, ibu kota Provinsi Mukalla. Di bus, malang sekali aku duduk bersebelahan dengan pria berjenggot sampai dada. Dari caranya memandang keluar jendela, aku tahu ia pengikut syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Sejak naik bus, ia khusuk menghitungi bidah yang ditemukan di jalan.

Aku duduk tenang agar ia tak menyadari keberadaanku. Aku takut menyita perhatiannya. Tapi tiba-tiba HP-ku berdering. Bencana! Ia menoleh, memerhatikan tampangku. Small Talk dimulai.

“Ente nyembah kuburan?!”

Buju buneng! Kalimat pertama yang lompat dari mulutnya bukan apa kabar, namun tuduhan kufur. Jika Small Talk bahasa Inggris berakhir di Café, maka Small Talk ala Saudi ini bisa berakhir di ring tinju.

Aku tak emosi. Aku sudah sering bertemu orang Wahabi. Reaksiku santai: Mengangkat bahu dan menata air muka agar mengesankan aku tak paham maksudnya.

“Ente penganut bid’ah ‘kan?” sergahnya kasar.

Kujawab bahwa aku muslim, baca syahadat dan sudah sunat. Ia tak puas.

“Aiwah, tapi ente Sufi apa Salafi?” Aku kaget. Apa aku tak cukup muslim dengan syahadat? Harus ikut golongan tertentukah untuk masuk surga? Sebaiknya aku tak menanggapi. Selain karena aku tak suka debat, ia awam. Kata orang bijak: “Tarkul jawa  alal jahili jawabun” (mengabaikan adalah cara terbaik meladeni orang kurang pintar).

Sebenarnya aku salut pada spirit dakwah Wahabi. Amar Ma’ruf Nahi Munkar mereka meggebu-gebu. Tapi mereka lupa ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum Nahi Munkar.

Jangan-jangan munkar yang mereka cegah tidak subtansial, masuk dalam ranah ikhtilaf. Dan meski harus nahi munkar ada caranya: harus santun, memilih kata-kata yang baik dan jangan sampai menimbulkan masalah yang lebih besar.

Orang Wahabi tidak mengindahkan prinsip dakwah itu. Saat melihat kemunkaran versi kelompok yang mengklaim paling Salaf itu, mereka menghardik pelakunya pada tempat dan waktu itu juga.

Mau di tempat umum, di depan khalayak ramai, pelakunya orang alim, anak kecil, mahasiswa, mau siang, malam, di kelas, masjid, toilet, saat belajar atau main bola, mereka tak peduli.

Perangai yang tak asing bukan! Pokoknya kalau ada amalan yang terdeteksi dalam kamus kemunkaran mereka, berantas! Right here, right now!

Bahkan waktu ibadah. Sering kalau salat jemaah di masjid Wahabi, salatku didekte habis-habisan. Ketika aku mulai takbir, tahu-tahu dicolek. Kakiku kurang ngangkang!

Ditowel lagi dari kiri, sekarang karena kurang maju, tumit tak pas dengan garis karpet. Sebentar-sebentar orang Salafi sebelah kananku mengangkat lengan seperti anggota Pramuka lancang depan. Dia sibuk takut ada yang lewat. Perihal khusuk atau tidak, nomor 15. Tak penting!

Baca juga:  Adakah Terorisme dan Radikalisme dalam Kamus Islam?

Saat tahiyat, aku dicolek. Ia menatap telunjukku, maksudnya agar jariku digerakkan. Aku yang berwatak lembut mengalah. Kugerakkan jariku pelan. Aku pun disenggol keras, maknanya: jangan lemas, digoyang jarinya!

Karena jengkel tak kepalang, maka tak tanggung-tanggung kubuat jariku meliuk-liuk seperti tari ular. Jika saja ia menyenggol lagi, aku sudah siap dengan goyang dribble duo Serigala.

Pengikut Wahabi tidak imbang mengikuti sunah. Mereka hanya meneladani wibawa Rasul ketika memerangi orang Quraisy. Adapun sikap ramah Nabi, memaafkan, lembut, mereka abai.

Maka ini alasan mengapa citra jenggot memburuk. Jenggot panjang yang seharusnya menjadi lambang Akhlaqul Karimah, gara-gara Wahabi berubah mengerikan.

Konfrontasi pengikut Salafi brutal. Suatu hari aku masuk toko jam. Aku diperingatkan kalau si penjaga toko Wahabi gotek. Tapi aku tak ambil pusing. Pedagang, mau Syiah, Keristen, Buda atau Ateis, nyari untung. Mereka akan ramah pada pelanggan.

Tapi dugaanku keliru. Inilah uniknya orang Wahabi. Saat aku tanyakan harga jam tangan, si empunya toko malah menceramahiku sebab aku membawa tasbeh.

“Kata syekh Albani tasbeh bid’ah, tak ada di zaman Nabi. Jika tasbeh memang baik uluma Salaf pasti akan lebih dulu menggunakannya” Tentu anda tidak asing bukan dengan logika dalil ini?! Untung aku pernah membaca kitab Mafhumul Bid’ah, karya Abdul Ilah Al-Arfaj, maka kubantah.

“Ibn Baz, Ibn Utsaimin dan Abdullah Jibrin memperbolehkan tasbeh!” Aku ingin tahu reaksinya setelah kusebut tiga pentolan Wahabi mu’ashir.

“Mereka mungkin sudah terpengaruh oleh kaum Sufi.” Ah, bisa dia ngeles. Bukannya mengakui tasbeh khilaf, malah menyerang ulama sendiri. Aku mafhum, sebab jargon mereka adalah mengikuti dalil sahih, siapa pun yang tak sesuai, libas!

Aku tak kehabisan akal. Akan kubuat ia bungkam, “Aiwah ya thayib, isma’ni, Ibn Taimiyah dalam Fatawanya melegalkan tasbeh!”

“Ya walad, Ibn Taimiyah siapa? Orang mana?!”

Aku menghambur keluar dari toko sambil nepuk jidat. Dasar Wahabi gadungan! Ibn Taimiyah, primadona mazhab takfiri, pengibar bendera bidah yang dijadikan rujukan utama oleh tokoh Wahabi Modern tidak tahu? Aku geleng-geleng kepala.

Namun, Subhanallah, aku pernah dibuat emosi. Kisahnya, karena mendapat tugas makalah dari dosen Balaghah, aku mampir ke Warnet. Saat men-download kitab Dalaill I’jaz karya Abdul Qohir Al-Jurjani, iseng-iseng kuputar video Youtube yang booming waktu itu, The Voice Kids.

Mirna Hana, bocah asal Irak, imut, dan cantik. Ia ikut audisi di acara pencarian bakat se Arab itu. Mirna memakai gaun merah, anak kecil itu menyanyikan lagu yang jangankan lirik, judulnya pun aku tak paham.

Baru kutonton 15 detik, sebelah kananku berteriak, “Aib Ya ibnal halal! Wallah Aiiiibb!!” Ternyata orang berjenggot. Aku kaget. Hampir saja aku terjejar ke belakang.

Sebelah kiriku, remaja asli Yaman, terperanjat juga. Ia langsung kabur keluar tanpa membayar. Rupanya ia sedang asyik nonton film Fifty Shades of Grey. Kawan tahu kan film itu, dari awal, scene-nya banyak yang Naudzubillah. Kalau remaja itu ketahuan, pasti ia diganyang oleh orang Salafi itu.

“Leys! Isy fieh?! Ada apa?” Tanyaku kaget, mukaku merah. Aku malu karena semua mata tertuju padaku, curiga, seolah aku tertangkap basah mencuri kolor perempuan.

“Haram ya akhi! Itu aurat perempuan!”

“Aurat yang mana?!” Aku lawan dia.

Warnet menjadi sunyi. Semua yang ada di Warnet menyimak cekcok kami. Kukatakan pada orang Wahabi itu aku tak melihat aurat apapun. Laki berusia 30 tahun-an itu menunjuk rambut dan bahu Mirna. Ia menghardikku dengan lantang sekaligus mem-browsing hadis-hadis tentang aurat. Dadaku bergejolak,

Baca juga:  Wacana Khilafah di Dunia Maya Dikuasai Kelompok Anti-Pancasila

“Ya Rajul, tak ada aurat di sini, yang kupandang hanya layar!” Aku mengucapkannya sambil memegang LCD.

Pemilik Warnet kaget, ia takut aku kalap dan membanting komputernya seperti yang sering terjadi dalam acara debat Ittijhul Mu’akis. Tapi ia diam, tak mau terlibat perkara dengan orang Wahabi. Rupanya juga ia sering digeruduk gara-gara warnet-nya dibuat tempat nonton bola.

Pelanggan warnet pelan-pelan mengangguk setuju saat mendengar statemenku. Saat itu aku sadar mereka mendukungku. Egoku terbakar.

Mendengar bantahannku orang yang berjidat hitam itu terhenyak. Seolah ia baru sadar aurat asli dengan aurat dalam TV memang berbeda. Akan tetapi pria Salafi itu bergeming bahwa yang aku lakukan haram.

Ungkapan bahwa emosi bisa membuat orang melampaui batas benar sekali. Gara-gara emosi dan semakin besarnya animo pelanggan warnet untuk menonton debat kami, maka kuhalalkan segala cara untuk membungkam orang Wahabi itu.

Lantas kubrowsing redaksi Ibnu Hajar yang membolehkan melihat gambar perempuan dalam kaca. Saat kutunjukkan padanya, ia menganga. Para penonton bertepuk tangan.

Laki-laki itu bimbang. Aku nyengir, sebab aku tahu ia mengira Ibnu Hajar ini adalah Ibnu Hajar al-Asqalani, komentator dari kitab Shahih Bukhari. Padahal bukan, beliau adalah Ibnu Hajar Al-Haitami. Andai ia tahu pasti aku diskakmat olehnya.

Laki-laki Salafi itu terpojok. Kalah debat, kalah penonton. Ia mengelus jenggotnya, berpikir keras mencari jawaban. Kemudian menyeringai, aku waswas, ia melunak.

Bas istama’ta ilal ghina, aib, ma yajuz dza!”

Rupanya ia pindah menyalahkan lagu. Para penonton ketar-ketir, takut jagoannya kalah. Mereka yang tadi sumringah sekarang pura-pura khusuk memandang layar masing-masing.

Aku semakin terkejut ternyata remaja yang tadi menonton film Fifty Shades of Grey berjejal di luar jendela. Debat kami menyebar secepat kilat. Orang-orang yang lalu lalang di jalan berhenti, berebut mengintip dari luar.

Kemudian, aku mendadak merasa populer. Dalam benakku aku harus menang. Perkara benar atau tidak sudah bukan soal.

Pertama karena aku sedang emosi, kedua aku tak ingin mengecewakan pendukungku. Dan ketiga, aku mendapat surat dari pemilik Warnet, kalau menang aku gratis internetan selama seminggu.

Maka kuunduh kitab Al-Hawi Al-Kabir juz 17, karangan Al-Mawardi, aku buka halaman 189, kubacakan dengan lantang, menggelegar seperti bung Karno membaca proklamasi,

“Al-Zuhri meriwayatkan dari Urwah, dari Aisyah, Aisyah berkata, “Saat dua budakku bernyanyi, Abu Bakar masuk dan menegor, ‘Ada seruling setan di Rumah Rasul?!!’ Namun Rasulullah menimpali, ‘Tidak apa-apa Abu Bakar, hari ini adalah hari raya.'”

Mendengar teks yang dibacakan seluruh orang di dalam warnet berdiri. Sementara si Salafi ini semakin tenggelam di kursinya.

Aku melanjutkan bahwa Umar berkata  “Al-Ghina’ Zadul Musafir, MP3 itu teman perjalanan.” Dan pada riwayat setelahnya dijelaskan bahwa Ustman sering memerintahkan budak-budaknya bernyanyi sampai waktu sahur!!

“Dan tahukah kalian, apakah yang dinyanyikan oleh budak-budak itu?” Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru Warnet. Semua tegang.

“Begadang Jangan Begadang!!!”

Para hadirin pun riuh tertawa mendengar closing statement-ku itu. Mereka gembira sekali sebab aku sukses meng-KO lawanku. Si Wahabi itu mengeluyur keluar diikuti siulan dari orang-orang di dalam dan luar warnet.

Aku pun kikuk sebab semua orang menyalamiku satu persatu. Sebagian dari mereka ada yang membawakanku PEPSI, buah, snack dan meteraktirku makan malam di warung nasi.

Komentar

Mas Ruhien

Mas Ruhien

Mahasiswa Universita Al-Ahgaff Yaman dan Alumni TMI Al-Amien Prenduan.
Mas Ruhien

Latest posts by Mas Ruhien (see all)

  •  
    32
    Shares
  • 32
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *