Daulah Islamiyyah Menurut Habib Munzir Al-Musawa

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 996

Waktu Baca2 Menit, 35 Detik

DatDut.Com – “Negeri kita ini muslim, pemimpinnya muslim, menteri-menterinya mayoritas muslimin, mayoritas masyarakatnya muslimin, maka apalagi yang mesti ditegakkan? Ini adalah khilafah islamiyah (kepemimpinan islam). Adakah presiden kita melarang shalat? Adakah pemimpin kita melarang puasa Ramadhan?” ujar beliau dalam bukunya.

Ada beberapa saudara kita yang berjuang penuh mendukung berdirinya khilafah islamiyyah. Sebagian dari sebagian mereka menganggap bahwa khilafah adalah jalan terakhir bagi semua permasalahan yang bergejolak di negara.

Menurut Habib Munzir dalam bukunya Mengenal Akidah Kita 2, Rasulullah Saw dan para muhaddis ahlussunnah wal jamaah, tidak satu pun dari mereka yang memerintahkan untuk memberontak pada pemerintahan yang ada, selama pemimpin mereka muslim. Karenanya, jika diperintah maksiat, mereka tidak perlu taat. Bila diperintah selain dosa, maka mereka taati.

Beliau berpatokan pada beberapa hadis. Pertama, hadis berikut:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرٍ شَيْأً يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang melihat hal pada penguasanya sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaknya ia bersabar. Sungguh barangsiapa yang keluar dari jamaah sejengkal saja, lalu ia wafat maka ia wafat dengan kematian jahiliyah,” (Shahih Bukhari, Bab Fitnah).

Baca juga:  Mencermati Pandangan M. Quraish Shihab tentang Ucapan Selamat Natal pada Non-Muslim

Kedua, hadis yang menceritakan tentang Anas bin Malik yang diadukan kekejian dan kejahatan Hajjaj. “Bersabarlah kalian, karena tiadalah datang masa kecuali yang sesudahnya akan lebih buruk, sampai kalian akan menemui Tuhan kalian. Kudengar ini dari Nabi kalian (Muhammad saw),” tutur Anas. (Shahih Bukhari, Bab Fitnah).

Ketiga, Rasulullah Saw. bersandar, “Dengar dan patuhlah bagi seorang muslim selama ia tak diperintah berbuat maksiat. Bila iadiperintah berbuat maksiat, maka tak perlu dengar dan patuh,” (Shahih Bukhari, Bab Ahkam).

Semestinya kita sadar melihat realitas yang ada. Bukankah, semua masa pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita adalah manusia bukan malaikat. Begitu juga para pemimpin kerajaan pada masa bani Umayyah dan seterusnya.

Sebagaimana di masa mereka pun terdapat kepemimpinan yg zalim walau khalifah. Namun, mereka zalim. Di antaranya Hajjaj yang sering membantai dan menyiksa rakyatnya, namun ketika mereka mengadukan pada Anas r.a. Mereka diperintahkan bersabar, bukan diperintahkan merebut khilafah dengan alasan khalifah itu zalim.

Sebagaimana yang disampaikan Ibnu Ruslan di awal-awal matan Zubad,

ولم يجز في غير محض الكفر # خروجنا على ولى الأمر

Kita tidak boleh keluar dari pemerintahan, selama tidak diperintahkan pada kekafiran.

Busana dan simbolik islam belum tentu seratus persen menampilkan akhlak keislaman. Bukankah kita bisa mengambil pelajaran dari beberapa peristiwa yang terjadi di masa kerajaan Umawiyyah dan setelahnya, berapa kali agama dijadikan senjata untuk berebut kekuasaan.

Baca juga:  Kontra HTI yang Kontra Produktif

Menurut beliau, meneriakkan khilafah islamiyah adalah perbuatan terburu-buru. Beliau memberi solusi, yaitu dengan berdakwah pada muslimin sedikit demi sedikit hingga dalam bertetangga, di tempat kerja, hingga di masyarakat. Bukan berteriak-teriak khilafah islamiyah lalu menuding muslimin lainnya sesat karena menolak khilafah dari golongan mereka.

Pemikiran beliau sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Syaikh Said Ramadhan Al-Buthi bahwa khilafah islamiyyah tidak perlu ditegakan dan digembar-gemborkan, namun tanamkanlah kecintaan akan syariat Islam kepada para penduduk muslim. Wallahu a’lam.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Amin Nurhakim

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *