Drama Cinta Soekarno antara Siti Utari dan Inggit Ganarsih

  • 2
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares

DatDut.Com – Soekarno bukan hanya presiden pertama negeri ini. Ia pahlawan dan legenda penting dalam perjalanan Indonesia. Namanya banyak ditulis dalam buku-buku dengan kisah perjalanan hidupnya yang sangat heroik dan patriotik.

Namun di balik semua kisah heroiknya, ada kisah romantis dan dramatis yang membalut perjalanan hidupnya. Pernah suatu saat ketika Soekarno jatuh cinta pada seorang perempuan Belanda, namanya Mien Hassels, saat itu Soekarno baru berumur 19 tahun. Di usia yang masih muda belia Soekarno memang sudah banyak disukai orang, karena parasnya yang tampan dan berkarisma. Cinta Soekarno kepada Mien Hassels waktu itu begitu besar, karena itulah dia memberanikan diri menjumpai ayah Mien untuk berterus terang mengatakan kalau dia menyukai anaknya.

Dengan percaya diri dan gagah berani Soekarno menyampaikan perasaannya di depan ayah Mien. “Tuan kalau tidak berkeberatan, aku bermaksud meminta putri Tuan untuk kuajak hidup dalam suatu ikatan perkawinan,” Soekarno memohon dengan nada gemetaran. Seketika ayah Mien menimpali, “Kamu? Inlander  seperti kamu? Berani-beraninya kamu mendekati anakku. Keluar kamu binatang kotor, keluar!”

Pertama kalinya Soekarno menerima perkataan seperti itu, dengan muka muram dia meninggalkan rumah Mien. Peristiwa ini adalah kejadian pahit yang sulit dilupakan oleh Soekarno, cinta pertamanya berjalan tidak semulus yang dibayangkan. Kisah tragis cinta Soekarno ini tidak mematahkan semangatnya untuk belajar dan meneruskan jenjang pendidikannya.

Soekarno kemudian melanjutkan pendidikanya ke Hogere Burgerschool (HBS) di Surabaya pada tahun 1916. Ketika di Surabaya Soekarno tinggal di rumah H.O.S Tjokroaminoto, teman dari ayahnya. Ayah Soekarno sengaja menitipkan anaknya kepada Tjokroaminoto, karena Tjokroaminoto dianggap hebat oleh ayahnya dengan posisinya sebagai pemimpin politik di Jawa dan sebagai ketua Sarekat Islam. Di rumah pak Tjokro, Soekarno tinggal bersama orang-orang yang kelak menjadi tokoh nasional seperti, Kartosuwiryo, Semaun, Alimin, dan Sigit Bachrum Salam.

[nextpage title=”1. Kisah Cinta dengan Utari”]

1. Kisah Cinta dengan Utari

Di rumah Tjokroaminoto ini Soekarno bertemu dengan Siti Utari, anak pak Tjokro. Utari adalah anak pertama dari pasangan Tjokroaminoto dan Suharsikin dan satu-satunya anak perempuan karena tiga orang adiknya adalah laki-laki.

Utari adalah sosok perempuan muda yang dikagumi oleh beberapa pemuda yang tinggal indekos di rumah pak Tjokro, tapi hanya ada dua orang yang bersaing berat yaitu, Soekarno dan Sigit Bachrum Salam. Persaingan keduanya berakhir saat pak Tjokro menyetujui hubungan Utari dengan Soekarno.

Akhirnya pada tahun 1920 Soekarno menikahi Siti Utari diusianya yang ke 16 tahun. Pernikahan ini memulai kisah baru percintaan Soekarno karena ini tandanya Soekarno untuk pertama kalinya menikah dan Utari jadi istri pertamanya.

Hubungan pernikahan Soekarno dan Utari berjalan tidak lancar. Hal ini terjadi karena Utari saat itu belum dewasa dia masih suka bermain di halaman rumah layaknya anak kecil. Memang setelah ibunya wafat Utari kurang mendapat perhatian, karena Trokroaminoto sendiri sibuk dengan kegiatannya di Sarekat Islam.

Baca juga:  Raja Faishal, Pemimpin Pemberani, Reformis, dan Revolusioner

Sikap Utari yang masih kekanak-kanakan tidak cocok dengan Soekarno yang waktu itu sudah sibuk dengan beragam masalah yang berkaitan dengan bangsa dan negara. Dalam buku Bung Karno Biografi Putra Sang Fajar karangan Jonar T.H. Situmorang mengatakan bahwa Soekarno belum pernah sama sekali menyentuhnya (melakukan hubungan suami istri).

Soekarno mengatakan, “Bisa saja saya tidur dengan Utari jika menghendakinya, tapi belum saatnya melakukan itu. Boleh jadi aku adalah seorang pecinta akan tetapi aku bukan pembunuh gadis remaja.” Keadaan ini terjadi berangsur-angsur setiap hari, namun hal ini tidak menghalangi Soekarno untuk terus belajar.

Selang setahun pernikahannya dan Soekarno telah lulus dari HBS, dia melanjutkan pendidikannya di Bandung, yaitu di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau sekarang lebih dikenal dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pada awalnya Soekarno hanya pergi sendiri ke Bandung dan menetap di rumah sahabat Tjokroaminoto yaitu, Haji Sanusi. Sebelumnya Haji Sanusi telah menerima surat dari Tjokroaminoto yang menceritakan bahwa menantunya akan bersekolah di Bandung dan minta dicarikan tempat tinggal.

Di rumah Haji Sanusi hanya berdua dengan istrinya Inggit Ganarsih sehingga masih ada kamar kosong untuk dipakai Soekarno. Tak lama kemudian Soekarno pulang ke Surabaya untuk menjemput Utari agar tinggal bersama nya di rumah Haji Sanusi.

[nextpage title=”2. Ketika Prahara Itu Bernama Inggit”]

2. Ketika Prahara Itu Bernama Inggit

Pada awalnya Utari dan Soekarno tinggal sekamar tapi dengan berbeda tempat tidur. Sifat kekanak-kanakan yang masih saja belum hilang dari Utari selanjutnya menyebabkan mereka harus pisah kamar. Utari masih suka tidur di mana saja layaknya anak-anak lain yang sebaya, selain itu Soekarno mulai sering kedatangannya teman-temannya sehingga mengharuskan Utari pindah kamar.

Sifat Utari yang seperti itu membuat Soekarno tidak mendapatkan sentuhan perempuan yang dia dambakan. Soekarno mendambakan perempuan yang dia bilang bisa menjadi ibu, istri, dan teman. Perempuan dambaan Soekarno adalah seseorang yang bisa memberikan kasih sayangnya di tengah kesibukan dia sebagai tokoh pemuda yang aktif dalam memerdekakan Indonesia.

Sosok perempuan yang bisa menjadi, ibu, istri dan teman kemudian dia temukan pada Inggit Ganarsih istri Haji Sanusi. Inggit adalah sosok yang didambakan Soekarno. Setiap harinya Inggit ikut merawat Utari dan Soekarno.

Hubungan Soekarno dengan Inggit kian hari kian dekat. Soekarno merasakan kenyamanan dari sentuhan kasih sayang dari Inggit. Jalinan hubungan Soekarno dengan Inggit memang kelihatan janggal, karena hubungan ini terjadi antara Soekarno sebagai orang yang indekos di rumahnya dan sudah beristri, dengan Inggit sebagai ibu indekos yang sudah bersuamikan Haji Sanusi.

Baca juga:  Mahfud MD Tolak LGBT, Ini 5 Komentarnya

Tapi sejarah berbicara seperti itu, kemesraan justru terjadi antara Soekarno dengan Inggit bukan dengan Utari. Sebelumnya memang hubungan Haji Sanusi dengan Inggit sedang retak karena Haji Sanusi sering keluar malam mencari perempuan lain dan bermain biliar.

Kemesraan yang terjalin lama kelamaan memuncak hingga akhirnya Soekarno memberanikan diri untuk bilang ke Haji Sanusi bahwa dia mencintai Istrinya. Kemudian karena hubungan Haji Sanusi dengan Inggit terus dirundung masalah maka Haji Sanusi mengambil sikap untuk menceraikan Inggit. Tindakan yang sama pula dilakukan oleh Soekarno yang menceraikan Utari.

[nextpage title=”3. Soekarno Menikah untuk Kedua Kali”]

3. Soekarno Menikah untuk Kedua Kali

Kemudian setelah Soekarno menceraikan Utari dan Inggit diceraikan oleh Haji Sanusi, mereka berdua menikah. Pernikahan mereka terjadi pada 24 Maret 1923. Pernikahan dilangsungkan di rumah orang tua Inggit di Bandung. Utari kemudian dibayarkan pulang oleh Soekarno ke Surabaya, dan Soekarno menyampaikan permintaan maaf di depan Tjokroaminoto.

Catatan sejarah hidup antara Soekarno dengan Inggit terlihat begitu romantis. Inggit bisa menjadi ibu, istri, dan teman yang selalu menemani langkah perjuangan Soekarno. Kisah perjuangan Soekarno di Bandung dimulai saat dia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927.

Di sini PNI sebagai partai politik berjuang untuk merebut kemerdekaan dari Belanda. Karena pergerakannya itu, maka PNI dianggap merugikan Belanda, maka para tokoh PNI yang salah satunya Soekarno ditangkap dan dipenjarakan di penjara yang bernama Banceuy  di kota Bandung.

Di saat-saat ini hubungan romantis antara Soekarno dan Inggit tetap terjalin. Inggit sering mengunjungi Soekarno untuk membawakan makanan, buku, dan potongan-potongan berita yang berkembang di luar. Soekarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara oleh hakim, setelah dari Banceuy Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin.

Setelah bebas dari penjara Sukamiskin, dua tahun kemudian Soekarno ditangkap lagi karena dituduh subversif kepada pemerintah dan dibuang ke Pulau Ende, Flores. Selama masa tahanannya ini Inggit senantiasa menemani Soekarno dengan sabar sebelum nantinya Soekarno menikahi Famawati gadis asal Bengkulu dan Inggit Ganarsih pun diceraikan.

Komentar

Irvan Hidayat

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora 2016 dan mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Irvan Hidayat