Singgah di Bulan (Cerpen Syarif Hade) – Bagian 2

  • 4
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

DatDut.Com – Tidurlah, adikku! Tidurlah mamaku! Wanita memang selalu kelihatan rapuh. Padahal, semua manusia berpotensi untuk rapuh, termasuk aku. Mungkin karena wanita saja yang lebih sering diekspos untuk tampak rapuh?

Papa menghadap Sang Esa karena tak mampu melawan stroke yang tiba-tiba dideritanya. Sebelumnya tak pernah tampak ada gejala stroke pada papa. Bahkan, sebagian tetangga ada yang menganggap kematian papa akibat perilaku jahiliah salah seorang tetangga yang iri melihat kesuksesan papa. Cuma aku tidak begitu saja percaya.

Malam itu aku sedang bersiap menghentikan aktivitas syaraf mataku. Aku sudah merebahkan tubuhku di atas ranjang tempat tidurku. Seperempat jam yang lalu aku baru selesai menulis makalah buat presentasi kuliah besok. Komputerku sudah aku shut down lima menit lalu.

Belakangan aku dan Mazeda selalu berusaha tampak rukun dan akrab di depan mama. Dulu waktu masih ada papa, kami memang sering nggak akur. Bagi kami, itu resiko kakak-beradik yang berumur tak terpaut jauh.

Baca juga:  Utari - Bagian 1

Sebetulnya kami berdua sama-sama ingin punya adik lagi. Papa dan mama tampaknya juga punya keinginan yang sama. Tapi, rupanya Tuhan punya kehendak lain. Takdir kembali menghalangi keinginan kita.

“Tuhan dengar kita nggak sih, Kak?” ucap Mazeda setiap kali ingat akan keinginan kita itu.

Aku biasanya segera menimpali, “Tuhan pasti dengar kita. Cuma kita aja yang terlalu maksa Tuhan untuk selalu dengerin keinginan kita, sementara kita nggak pernah mau sepenuh hati ngertiin keinginan Tuhan.”

Sampai saat ini aku belum tahu pasti apa yang menjadi minat Mazeda. Bakat tulis-menulisnya memang mengagumkan. Cerpen-cerpennya beberapa kali menghiasi halaman majalah remaja. Tapi, aku belum tahu apa bidang itu akan ditekuninya terus atau tidak. Anaknya memang begitu. Susah ditebak. Mazeda itu kupu-kupu. Sekarang ini dia sedang singgah di bulan. Bulan adalah takdir kehidupan. Ia yang kadang terang dan kadang tak kelihatan, padahal ia selalu ada. Hanya kita yang tak melihatnya.

Baca juga:  Negeri Si Penista, Puisi Syarif Hade Menyentil Rusaknya Negeri Akibat Ulah Satu Orang

Selama positif, aku sih berusaha untuk tidak mengatur jalan hidupnya. Biar dia sendiri yang mengaturnya. Aku cuma seorang kakak dan bukan Tuhan. Takdir bukan berada di tanganku.

***

 

 

Komentar

Syarif Hade

Doktor Ilmu Susastra Universitas Indonesia. Pengajar Sastra Islam Nusantara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penulis novel "Mahar Jingga". Telah menghasilkan ratusan puisi tentang Islam, aliran, lingkungan, dan cinta.
Syarif Hade