Singgah di Bulan (Cerpen Syarif Hade) – Bagian 3 (Habis)

  • 8
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

DatDut.Com – Sebuah sore yang anggun. Dua hari setelah aku temukan secarik kertas berisi puisi Mazeda itu. Beranda rumah adalah surga sore itu. Lorong gang komplek perumahan kami juga tampak sepi. Mendung yang masih malu memberi kesegaran menaungi kami.

Mungkin sudah jam lima. Aku, mama, dan Mazeda masih hangat dalam cengkrama. Ini sore pertama yang memberi kesaksian harmoni keluarga kami masih utuh, meski papa telah pergi. Keramik Cina berbentuk pot bunga sudah dua minggu ini terlihat menghiasi beranda rumah kami. Mama membelinya dari tante Eli. Kami benar-benar menikmati sore itu, meski tak ada teh dan roti selai pisang andalan bikinan mama, yang biasanya tak pernah absen.

“Tuhan itu adil nggak sih, Kak?”

Suasana santai kami sedari tadi tiba-tiba dipecah oleh pertanyaan Mazeda. Selalu seperti itu.

“Ya adil, dong!” timpalku ringan.

“Lho, kenapa tanya begitu?” tanya mama yang keheranan dengan pertanyaan Mazeda itu. Mama lalu mendekati Mazeda. Rambutnya yang sebahu dielus mama dengan manja.

“Kenapa papa harus meninggal dalam usia yang relatif muda, Ma? Papa kan baik dengan keluarga, baik di tempat kerja, dan orang sekomplek sini juga nggak ada yang benci papa?”

“Bukankah kematian tak pernah adil? Orang yang baik justru lebih cepat matinya, sementara orang yang jahat justru lama matinya. Pasti kamu mau ngomong begitu, kan? Itu juga kan yang kamu maksudkan dengan ketidakadilan?” mama sedikit mencecar balik Mazeda.

“Karena kayaknya begitulah yang terjadi di mana-mana!” sahut Mazeda lagi.

Sekarang aku baru tahu kalau pertanyaan Mazeda itu tidak biasa. Semula aku mengira cuma pertanyaan biasa dan butuh jawaban biasa pula. Mama memang lebih memahami Mazeda. Itulah Mazeda.

Kegalauannya akan takdir rasanya belum juga terpuaskan entah sampai kapan. Tapi, memang dari dulu Mazeda nggak pernah suka pertanyaannya dijawab klise. Artinya aku telah melakukan kesalahan fatal tadi dengan jawabanku yang klise itu.

Ya, itu semua karena aku tidak sepenuhnya tahu apa yang berkecamuk di benak Mazeda. Yang aku tahu setelah kepergian papa, adikku itu tampak sekali kehilangan orang yang biasa memanjakannya. Papa memang dekat sekali dengannya, sementara aku dekat dengan mama. Suatu yang umum terjadi di banyak keluarga.

“Siapa bilang kematian itu nggak adil? Kematian justru keadilan Tuhan.”

Aku lalu berusaha menebus kesalahanku. Aku pun mencoba memberi jawaban yang menenangkan risau yang mungkin mengganggu adikku itu. Aku bersyukur mama menjadi sosok yang tegar dan tanggap di saat-saat seperti ini. Mungkin kalau ibu-ibu yang lain akan menangis mendengar pertanyaan Mazeda itu, tapi mamaku tidak.

Baca juga:  Doa Banjir, Puisi Syarif Hade tentang Air yang Menggenang Tinggi di Ibukota

“Toh, justru kalaupun katamu kematian itu tidak adil, kita tetap harus hidup, kan?” sambung mama.

“Ya, kita harus tetap hidup, Ma! Tapi, kenapa kematian lebih cepat merenggut kehidupan orang-orang yang baik? Kenapa bukan para koruptor atau penjahat-penjahat di luar sana?”

“Ada hukum alam yang harus dipatuhi kematian. Kematian sendiri adalah makhluk Tuhan. Kematian dan kehidupan adalah dua sisi mata uang. Apakah kematian pantas dipersalahkan lantaran menjalani hukum alam yang dikenakan padanya? Apa Tuhan juga patut diprotes karena memerintah sesuatu yang dicipta-Nya sendiri? Tuhan, toh, tidak pernah meminta bantuan kita untuk mengundang kematian!”

Mungkin karena mama seorang dosen, mama selalu bisa memberi penjelasan panjang hingga tuntas. Mama seorang dosen filsafat di salah satu universitas terkemuka di negeri ini. Mama mengambil master di bidang filsafat pada Universitas Sarbonne, Prancis.

Papa sendiri seorang arsitek kenamaan di kotaku. Orang di kotaku selalu menisbatkan setiap bangunan yang berarsitektur mewah di kotaku sebagai karya papaku. Mama kenal dengan papa saat kakekku dari mama memesan desain rumah untuk kakak mama.

Hanya aku belum yakin Mazeda bisa menerima sepenuhnya jawaban mama. Kelihatannya Mazeda cuma ingin mendapat jawaban mengapa papa yang dipanggil Sang Esa secepat itu, toh papa orang baik dan bagi kami beliau adalah segala-galanya.

Mazeda juga tahu papa nggak pernah berat tangan untuk membantu siapa saja yang memerlukan bantuannya. Apalagi papa rajin banget silaturahmi ke saudara dan sanak keluarga. Padahal, katanya, orang yang rajin silaturahmi dipanjangkan umurnya.

Mengapa papa baru menginjak lima puluh tahunan sudah dipanggil-Nya? Itu yang mungkin mengganggu logika adikku. Dan, itu semua belum terjawab. Tapi aku tidak tahu apa yang dipikirkan Mazeda setelah mendengar jawaban mama. Aku sendiri secara eksplisit bisa menerima jawaban mama itu.

“Gimana, Nak? Apa masih ada yang mengganjal pikiranmu? OK, nanti kalau memang masih ada yang mengganjal pikiranmu, kita diskusikan di lain waktu. Sekarang kamu dan kak Altav mandi. Nanti keburu magrib.”

Mama kemudian masuk ke dalam rumah, setelah sebelumnya membetulkan rambut Mazeda yang terurai ke depan tersaput angin sore yang masuk menghampiri rumah.

“Lagian kematian tidak akan menghidupkan papa, meski kita berdiskusi ribuan kali,” kata Mazeda sambil beranjak dari tempat duduknya. Kali ini diucapkannya agak bersungut. Pasti ia tidak puas dengan penundaan mama untuk menuntaskan diskusi yang tiba-tiba menghangat sore itu.

Baca juga:  Negeri Si Penista, Puisi Syarif Hade Menyentil Rusaknya Negeri Akibat Ulah Satu Orang

Itu artinya ia harus berjuang mengatasi masalahnya sendiri untuk beberapa waktu yang tak tertentu. Perbincangan mengenai takdir kematian papa sebetulnya telah kami kubur dalam-dalam di memori kami. Seminggu setelah kematian papa, kami memang selalu membincangkannya. Mazeda mengingatkannya lagi sore itu.

“Hush, jangan ngomong begitu!” suara mama terdengar cukup keras dari dalam rumah.

“Yang jelas, kehidupan tidak akan bisa terbeli. Umur telah ada ketentuannya. Kematian juga nggak bisa ditunda barang semenit saja. Mungkin sudah kepastian papa berumur segitu. Iya nggak, Zed?”

“Sudah…sudah…mandi sana!” teriak kecil mama mendengar aku tetap melanjutkan obrolan sambil lalu.

Sampai detik itu, aku pun masih belum tahu apa kegalauan Mazeda sudah terusir atau belum. Aku juga nggak tahu apa yang mama rasakan setelah diskusi sore itu. Banyak yang kita nggak tahu dalam hidup ini. Mungkinkah mama mengingat papa lalu meratapi takdir itu? Aku nggak tahu!

Aku tiba-tiba saja menjadi sadar, andai papa tidak rajin silaturahmi, mungkin umur papa akan lebih cepat dari saat beliau meninggal dunia. Seiring beduk dari musala sebelah rumah memperdengarkan simfoninya, aku pun tergugah bahwa papa adalah bagian kehidupan kami yang sudah diminta ilahi.

Suara azan lalu membahana mengisi udara di sekitar lingkungan kami. Bagiku, suara azan itu perlambang bahwa kita semua pasti akan dipanggil-Nya, bisa di waktu magrib, di waktu isya, di waktu subuh, atau di waktu-waktu lain, sesuai kapan panggilan itu terdengar oleh kita.

Semua mau tidak mau dipaksa mengikuti rotasi takdir. Hanya menunggu waktu saja. Aku lalu bergegas ke kamar mandi. Magrib itu aku harus berjamaah di musala. [Selesai]

 

Komentar

Syarif Hade

Doktor Ilmu Susastra Universitas Indonesia. Pengajar Sastra Islam Nusantara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penulis novel "Mahar Jingga". Telah menghasilkan ratusan puisi tentang Islam, aliran, lingkungan, dan cinta.
Syarif Hade