Kucing Kampung Berkaki Buntung (Cerpen Chitra Sari Nilalohita)

  • 69
  •  
  •  
  •  
    69
    Shares

DatDut.Com – “Jika ada kehidupan kedua, kau ingin menjadi apa?” ia memandang ke arahku, wajahnya bersih, pakaiannya putih. Aku cukup terperangah, mana mungkin manusia bisa berbicara padaku, tapi kulihat ada sayap putih yang membentang di kedua bahunya. Apakah dia malaikat? Entahlah. Tapi aku begitu takjub melihatnya, jadi kuputuskan untuk bangun dari tidurku, aku mengerjapkan mata, dan aku tak tahu harus menjawab apa.

***

Jika kalian tidak menyukaiku, aku bisa mengerti dan menerimanya. Ibuku  selalu mengatakan bahwa hidup ini adalah penerimaan. Tapi jika kalian sampai memukul dan menendangku, aku tak tahu apakah aku bisa tetap menerimanya dengan lapang dada. Tubuhku mungkin sakit, dan hatiku jauh lebih sakit. Mungkin kalian menertawaiku, tapi ketahuilah bahwa meskipun aku tidak dikaruniai dengan akal budi, Tuhan mengizinkanku memiliki perasaan seperti kalian.

Kalian pasti sering melihatku, bersama ibuku aku tinggal secara nomaden di sekitar taman kampus. Aku seekor kucing kampung jantan, hasil pernikahan ibuku yang berbulu belang tiga dengan ayahku yang berbulu hitam legam. Aku sendiri percampuran antara keduanya; hanya saja bulu belang tigaku didominasi oleh warna hitam. Aku tiga bersaudara, tapi kedua kakakku telah tumpas dilibas masa. Selain penerimaan, nyatanya hidup juga tentang pertahanan, karena memang sudah menjadi hukum alam bahwa yang kuat adalah yang mampu bertahan.

Aku bertahan dengan bertumpu pada kaki-kakiku yang jumlahnya hanya tiga. Satu kaki depanku tak ada sejak lahir, orang-orang menyebutku kucing kampung berkaki buntung. Bisa kalian bayangkan bagaimana cara berjalanku, dan dengan mengandalkan tiga kaki, aku terseok-seok, aku sering diolok dan diperlakukan dengan tidak semestinya.

Saban hari aku berjalan-jalan di dekat Auditorium Harun Nasution, tapi aku tak pernah berani untuk masuk ke sana. Jangankan masuk, baru melongokkan kepala sedikit saja, aku sudah kena pentung panitia.

Jadi aku hanya mengintip, banyak orang-orang besar yang bertandang ke sana untuk mengisi seminar, kadang-kadang juga ada artis atau penulis yang datang membedah film dan buku. Aku senang saat ada acara di sana, setidaknya aku kebagian jatah tulang ayam meskipun harus rebutan dengan kucing-kucing lainnya.

Aku sering kalah, tubuh kurusku tak mampu menyaingi kucing-kucing senior bertubuh gempal yang sudah sering bertarung dengan kucing lainnya, hal itu terlihat dari seberapa banyak bekas luka di tubuh mereka.

Tak apa, tubuhku sudah terbiasa terdesak dan kakiku sudah sering terjengkang. Bahkan tak jarang aku harus berhadapan dengan ayahku sendiri masalah tulang,  aku seperti tak memiliki pertalian darah dengan ayah, aku juga tak yakin kalau dia adalah ayahku, seperti tak ada hubungan kekeluargaan yang baik diantara kami.

Baca juga:  Ibu, Sekarang Bukan Ramadan (Cerpen Nasrullah Alif)

Tapi kucing jantan memang begitu, setelah menikahi si betina, lantas pergi dan mencari betina lain. Para betina kucing pun mengandung dan melahirkan, menjaga anak-anak mereka dari panas dan hujan, menyusui, menyapih, dan melepaskan anak-anaknya agar bisa hidup mandiri di dunia.

Berbeda dengan manusia, di mana hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan telah diatur sedemikian rupa berdasarkan norma-norma yang ada.  Manusia dibekali akal oleh sang pencipta, menjadi makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan, dan berhak untuk memperoleh pendidikan.

Tapi, entah mengapa akhir-akhir ini aku mendengar berita buruk yang dilakukan manusia; Pembunuhan, penindasan, pencurian, perampokan, pemerkosaan, dan yang lainnya. Kadang-kadang mereka juga melibatkan kami, para binatang, di dalam cacian mereka.

“Manusia lebih bejat daripada binatang”. Sungguh, aku tak setuju dengan pernyataan itu. Kalau manusia dikatakan lebih bejat dari kaum kami, lantas apakah kami bejat? Coba katakan di mana letak kebejatan kami? Binatang memang tak berakal, tak punya norma, dan tak sekolah. Tapi setidaknya kami tidak sampai hati melakukan perbuatan tercela seperti yang dilakukan oleh segelintir manusia.

Baru-baru ini ku dengar pelecehan terjadi di mana-mana, seorang ayah memperkosa anak berkali-kali, balita dicabuli seorang kakek, bahkan ada yang setelah memperkosa seorang gadis, gadis itu dibunuh dan disodokkan gagang cangkul ke dalam kemaluannya. Sungguh, sebagai seekor kucing kampung aku miris mendengarnya. Padahal, manusia telah hidup beragama dan punya banyak aturan, aku jadi berandai-andai, kalau saja tak ada aturan-aturan itu, hal apa yang akan terjadi pada manusia? Entahlah.

Untuk apa pula aku memikirkan itu, toh aku hanyalah seekor kucing kampung berkaki buntung di taman kampus. Biarpun begitu, aku senang di sini, bertemu banyak mahasiswa yang gemar duduk-duduk melingkar dari fajar hingga petang. Ada saja yang mereka lakukan, mengerjakan tugas, berdiskusi, membaca dan mengkaji isi Al-Quran, atau sekedar duduk santai sambil menikmati panganan dan kongkow dengan kawan-kawan.

Aku merasa ada, kadangkala diantara mereka ada yang mengelus kepalaku dan melempari tulang ayam atau ikan. Ada yang iba dan merasa bersyukur bahwa kehidupannya jauh lebih baik ketimbang seekor kucing di depannya ini. Tapi ada pula yang memandangku jijik, hina, dekil dan bau. Mereka tak segan-segan mendorong tubuh ringkihku, melempariku dengan batu agar aku menjauh, mereka khawatir bulu-buluku yang gampang rontok ini menempel di pakaian mereka.

Mereka takut tercemari penyakit dari tubuhku, aku jadi heran, di zaman yang sudah modern ini tak bisakah mereka membuka internet dan membaca artikel tentang kami? Ketahuilah bahwa kami tak membawa bakteri atau virus, bahkan baginda Rasulullah pun amat menyayangi sebangsaku. Lalu mengapa mereka yang mengaku mencintai Rasul tapi enggan untuk mencintai kami?

Baca juga:  Puisi Syarif Hade Ini Menyindir Keras Orang yang Gemar Membidahkan dan Mengkafirkan

Sungguh, aku tak punya keinginan yang muluk-muluk. Aku juga tak pernah bermimpi untuk menjadi kucing peliharaan berjenis angora atau persia yang dipelihara manusia, diberi makan dengan kualitas makanan kaya gizi yang dibeli di pet shop dengan harga mahal, atau secara rutin mengunjungi salon dan ke dokter hewan untuk vasinasi. Aku tidak ingin itu.

Percayalah, aku bahagia sebagai seekor kucing kampung berkaki buntung. Tapi setidaknya, jika kalian tetap tidak bisa menyukaiku, dapatkah kalian tak memukul atau menendangku? Sungguh aku tak ingin mengganggu kalian, hanya saja aneka panganan yang kalian makan cukup mengusik hidungku dan mengundangku ke sana. Aku hanya ingin dibagi secuil makanan dengan ikhlas, meskipun itu hanya remah-remah roti atau sisa makanan kalian.

***

“Jika ada kehidupan kedua, kau ingin menjadi apa?” maka, ketika ia bertanya untuk yang kedua kalinya aku telah memiliki sebuah jawaban. Kutatap matanya yang bening bagai air telaga, dan kedua sayap putihnya yang berkilauan cahaya.

“Aku hanya ingin menjadi diriku seperti saat ini, menjadi seekor kucing kampung berkaki buntung” ucapku lantang, ia mengerutkan kening, seperti tidak yakin akan jawabanku, kemudian ia bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama.

“Jika ada kehidupan kedua, kau ingin menjadi apa?”

“Aku ingin menjadi kucing kampung berkaki buntung, itu saja” kali ini suaraku lebih pelan, kusunggingkan senyum kecil di akhir kalimatku. Ada keteduhan saat kutatap wajahnya, sesaat sebelum ia pergi mengepakkan sayapnya, ia sempat membalas senyumanku. Aku kembali mengantuk, maka kupejamkan mataku untuk meneruskan tidur, ah ya aku melupakan satu hal; aku lupa bertanya perihal siapa dirinya.

***

Esoknya, petugas kebersihan Auditorium kampus menemukan bangkai kucing di sebelah selatan gedung. Seekor kucing dengan salah satu kaki depan yang buntung dan bulu belang tiga yang didominasi warna hitam. Tubuhnya kurus, tulang-tulang tengkoraknya sangat jelas terlihat, dan petugas kebersihan menemukan kejanggalan pada bangkai kucing tersebut; ia seperti melihat ada senyum yang melengkung di sana.

Komentar

Chitra Sari Nilalohita

Mahasiswi PGMI UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, pecinta kucing dan bunga.
Chitra Sari Nilalohita