Calon Ketua Umum PBNU itu Bernama Din Syamsuddin

  • 9
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares

DatDut.Com – Nama lengkap beliau adalah Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA, biasa dikenal dengan Din Syamsuddin. Seorang sesepuh salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, dan pernah menduduki kursi tertinggi di persyarikatan itu selama 2 periode dari 2005 sampai 2015.

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa semasa kecilnya, Prof. Din menghabiskan pendidikannya di Madrasah NU dan bahkan menjadi ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di tempat kelahirannya, Sumbawa, di tahun 1970–1972.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah itu tercatat aktif di organisasi kemahasiswaan Muhammadiyah saat bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di tahun 1985.

Deretan pengabdiannya di dunia Islam–selain di Muhammadiyah–di antaranya tercatat melalui keikutsertaan di ICMI, MUI, World Islamic People’s Leadership yang berpusat di Tripoli, UK-Indonesia Islamic advisory Group dan beberapa organisasi lain.

Pada 11 Juli 2018 lalu, tepatnya saat pembukaan Kongres ke-5 Jam’iyatul Qurra’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) di Istana Merdeka, dia mengundang tepuk tangan meriah hadirin saat melontarkan kesiapannya untuk mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU pada muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama 2 tahun mendatang.

“Saya tersanjung, saya merasa mendapat pengakuan masih menjadi bagian warga NU. Dan secara subyektif, itu dukungan bagi saya untuk bisa mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PBNU,” ungkapnya sebagaimana dikutip NU Online.

Prof. Din seolah ingin mencatatkan skor 1:1 karena pada tahun 1990–1995, seorang “santri NU” pernah menduduki posisi nomor 1 di PP Muhammadiyah. Dialah K.H. Ahmad Azhar Basyir yang merupakan putra dari Kiai Basyir yang pernah nyantri di Tebuireng. Semasa mudanya pun, Ahmad Azhar Basyir pernah dititipkan di pesantren Kiai Abdul Qodir Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

Terlepas dari itu semua, kita mencatat ada beberapa kesamaan sikap antara tokoh Muhammadiyah satu ini dengan tokoh-tokoh di NU. Berikut beberapa di antaranya :

Baca juga:  Catat! Ini 5 Pemikiran Kontroversial Masdar F. Mas’udi

1. Sikap Terhadap Gerakan 212

Tak bisa dipungkiri, Aksi Bela Islam 212 masih terdengar gaungnya hingga kini, tentunya melalui para alumninya di antaranya yang tergabung dalam Presidium Alumni 212 (PA 212).

Lalu bagaimana sikap Din Syamsuddin terhadap gerakan itu, dulu?

“Saya tidak ikut karena saya punya pendekatan sendiri dalam amar makruf nahi munkar,” demikian tuturnya saat dimintai pendapat oleh wartawan Tempo.

Namun meski tak sepakat dengan cara ekspresi seperti Aksi 212, dia tetap memaklumi adanya penyampaian aspirasi melalui unjuk rasa di alam demokrasi ini.

Sikap seperti ini tidak berbeda jauh dengan sikap resmi PBNU atau tokoh-tokoh NU, di mana mereka tak merekomendasikan untuk ikut dalam aksi meskipun juga tak melarang. Dan pada kenyataannya di lapangan, entah berapa banyak orang NU yang ikut dalam aksi damai tersebut.

2. Sikap terhadap Hizbut Tahrir

Diberitakan oleh Suara Muhammadiyah, Din Syamsuddin tidak menyepakati konsep politik kekuasaan ala Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Pendirian khilafah sebagai lembaga politik-kekuasaan pada era modern adalah tidak valid dan realistik, karena negara-negara Muslim sudah terbentuk sebagai negara-bangsa (nation-state) dalam bentuk/sistem pemerintahan yang beragam”, demikian tukasnya.

Dan kita tahu, sikap lebih konkrit di tunjukkan oleh PBNU dengan mendukung terbitnya UU Ormas yang digunakan pemerintah untuk membredel HTI yang mencita-citanya khilafah ala Syekh Taqiyuddin an-Nabhani itu.

Selain itu, sayap kepemudaan NU pun terlibat dalam “penghadangan” kegiatan para aktivis HTI di beberapa daerah.

3. Menghadiri Pertemuan dengan Tokoh-tokoh Yahudi

Beberapa waktu lalu, jagad medsos dihebohkan dengan berita kehadiran tokoh NU, Yahya Cholil Staquf di hajatan American Jewish Committee (ACJ) di Tel Aviv. AJC adalah lembaga advokasi Yahudi tingkat dunia yang memiliki misi untuk memerangi anti Semitisme dan mempertahankan “tempat-tempat” Israel di seluruh dunia.

Meskipun berbicara di forum yang diadakan oleh organisasi yang berbeda, Din Syamsuddin pernah mengemukakan konsep kebebasan beragama di depan para tokoh Yahudi pada acara World Jewish Congress di Budapest, Hongaria, pada 5-7 Mei 2013.

Baca juga:  Buya Hamka, Produktif Berkarya Meski Dipenjara

Saat itu, respons media online di Indonesia pun cukup meriah, terutama media-media yang dibesut oleh para Salafis seperti VOA-Islam dan Nahimunkar.com.

4. Sikap Moderat kepada pemerintah Jokowi-JK

“Saya menilai pekerjaan ini sebuah perjuangan yang sesuai dengan konstitusi. Saya berniat menjalankan ini sebagai pengabdian bangsa dan negara, mendukung pemerintah kita,” kata Prof. Din saat diminta Presiden Jokowi untuk menjadi utusan khusus Presiden dalam dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban. Demikian dikutip oleh Tempo.

Dan berita terbaru yang mencuat ke permukaan adalah didorongnya tokoh Muhammadiyah itu untuk maju menjadi calon wakil presiden Jokowi dalam kontes Pilpres 2019. Adalah Kelompok Jaringan Matahari yang menggemakan hal itu saat konferensi pers di Bumbu Desa, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat pada 26 Juli lalu.

Dan di hari yang sama, pada konferensi pers World Peace Forum ke-7 di kantor CDCC, Din Syamsuddin pun menyatakan kesediannya. Demikian dilansir Detik.com

Itulah beberapa persamaan sikap antara Prof. Din Syamsuddin dengan sikap jamaah NU.

Jadi bagi warga NU, sepertinya tidak perlu ragu memasukkan nama Din Syamsuddin dalam daftar kandidat ketua umum PBNU pada muktamar NU 2020 nanti. Hehe.

Komentar

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me
  •  
    9
    Shares
  • 9
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *