Cak Nun, Budayawan Nyentrik nan Karismatik

  • 23
  •  
  •  
  •  
    23
    Shares

DatDut.Com – Emha Ainun Najib atau yang akrab dipanggil Cak Nun adalah seorang budayawan, sastrawan sekaligus tokoh ulama yang tak perlu diragukan lagi kapabilitasnya.

Beliau lahir di Jombang pada hari Rabu tanggal 27 Mei 1953. Ayahnya bernama MA Lathif, seorang petani sekaligus  kyai Langgar (Musala) yang cukup disegani di Desanya.

Cak Nun kecil mulai meniti pembelajarannya di salah satu Sekolah Dasar di Jombang, sejak kecil dia merupakan pribadi yang mbeling dan suka protes.

Sifat itu lantaran beliau adalah seorang anak yang selalu ingin tau, suka penasaran, dan juga cerdas. Dari sikapnya tersebutlah karakter beliau mulai terbentuk.

Beranjak remaja Cak Nun melanjutkan pendidikannya di SMP dan SMA Muhammadiyah, Jogjakarta sampai tahun 1971.

Dilanjutkan dengan mondok di Pesantren Gontor Modern tetapi tidak betah lantaran tidak cocok dengan sistem yang diterapkan. Beliau sempat kuliah di UGM selama 1 semester.

Sewaktu di Jogjakarta, Cak Nun juga pernah berguru kepada Umbu Landu Paranggi. Seorang inisiator dari Persada Sastra Klub (PSK) yang bertujuan mengasah sastra kepenulisan. Dari sana beliau banyak belajar tentang sastra, budaya, dan hakikat kehidupan.

Baca juga:  5 Karamah Mbah Ma’shum Lasem, Pendiri Pesantren Al-Hidayat

Hal ini tak lain karena metode Umbu dalam pembelajarannya. Umbu mengenalkan sastra bukan lewat teori-teori sebagaimana diajarkan di buku-buku umum, namun Umbu memperkenalkan sastra sebagai kesatuan dengan kehidupan. Dia mengajari orang menulis dengan pengalaman.

Selain sastra, Cak Nun juga sangat gemar dengan seni teater. Berangkat dari hobinya tersebut, Cak Nun mendirikan Kyai Kanjeng.

Kyai Kanjing ini didirikan sebagai wadah berapresiasi atas semua gagasannya guna menyalurkan hobi sekaligus menebarkan pesan-pesan moral terhadap masyarakat dalam bingkai seni kebudayaan.

Di samping Kyai Kanjeng, Cak Nun memiliki beberapa komunitas sosial sebagai forum silaturahmi sekaligus wadah berdiskusi dengan masyarakat.

Di antara Jamaah Maiyah Kenduri Cinta yang didirikan sejak tahun 1990 di Jakarta, Komunitas Moco Syafaat Jogjakarta, Gambang Syafaat Semarang, Bangbang Wetan Surabaya, Paparadang Ate Mandar.

Juga Maiyah Baradah Sudoarjo, Obro Ilahi Malang, Juguran Syafaat Banyumas Raya, Maneges Qudroh Magelang dan juga Padang Bulan yang diadakan di berbagai daerah.

Lewat forum inilah Cak Nun mengajak masyarakat untuk saling berdiskusi serta bertukar pikiran guna memecahkan berbagai problematika agama, sosial dan budaya yang berkembang di Masyarakat.

Baca juga:  Mari Doakan Kesembuhan dan Kesehatan Aa Gym

Meskipun keilmuan Cak Nun sangat mumpuni baik dibidang budaya maupun agama nyatanya Cak Nun tidak mau dipanggil dengan sebutan Kyai atau Ustad, dia lebih suka dipanggil dengan sapaan “Cak”.

Menurutnya, dia bisa lebih berbaur dengan masyarakat dengan sapaan itu dan begitupun sebaliknya.

Bagi Cak Nun, semua orang berhak duduk, menikmati hidangan, serta tertawa bersama sambil berdiskusi di satu tempat tanpa adanya perbedaan kedudukan.

Cak Nun adalah sosok ulama sekaligus budayawan yang patut dikagumi dan dianuti oleh pemuda-pemudi saat ini.

Metode beliau dalam berdakwah kepada masyarakat adalah sesuatu yang perlu dicontoh dan patut dipraktekan oleh para pemuda dalam perjuangan mereka untuk membangun moral dan karakter bangsa menuju Indonesia yang beradab dan berbudaya.   

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

M. Afzainizam

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
M. Afzainizam
  •  
    23
    Shares
  • 23
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close