Buya Yahya, Ulama Kharismatik dari Cirebon, Ini 5 Sisi yang Perlu Diketahui tentang Langkah Dakwahnya

  • 287
  •  
  •  
  •  
    287
    Shares

Dibaca: 6384

Waktu Baca4 Menit, 25 Detik

DatDut.Com – Tokoh kharismatik dari Cirebon ini terbilang masih muda. Tapi kiprahnya dalam berdakwah dan mendidik umat sudah sedemikian besar dan terhitung modern. K.H. Yahya Zainul Ma’arif, yang lebih terkenal dengan panggilan Buya Yahya, merupakan salah satu tokoh yang berperan aktif membendung paham wahabi. Selain mengasuh banyak majlis pengajian, ia juga beberapa kali berdiskusi langsung dengan tokoh-tokoh yang bertentangan dengan NU.

Ulama kelahiran Blitar ini bersama Ustad Idrus Ramli dan K.H. Luthfi Bashori disinyalir ada keterkaitan dengan gerakan NU Garis Lurus (NUGL) yang aktif di dunia maya. Meskipun awalnya para tokoh tersebut telah membantah keterkaitan dengan NUGL, namun pertemuan mereka bertiga belum lama ini dalam acara bertajuk “Gerakan Kultural Ahlussunnah Waljamaah dalam Membendung Aliran Sesat” di Pesantren al-Bahjah dijadikan bukti oleh sebagian kalangan bahwa memang diam-diam ketiganya ada di balik kelompok NUGL. Benar tidaknya, kita tunggu klarifikasinya saja.

Terlepas polemik silang sengketa organisasi, sosok Buya Yahya adalah seorang ulama Aswaja yang gigih berdakwah dan memiliki kelebihan dalam jangkauan dakwahnya. Lebih jauh tentang profil singkat dan sepak terjang Buya Yahya, berikut ini 5 fakta menarik tentang profil Buya Yahya.

[nextpage title=”1. Guru-guru Buya Yahya”]

1. Guru-guru Buya Yahya

Setamat SMP dan selesai Madrasah Diniyah asuhan K.H. Imron Mahbub, Blitar, Buya Yahya kemudian mondok di Pesantren Darullughoh Wadda’wah (Dalwa), Bangil, Pasuruan, Jatim dibawah asuhan Habib Hasan bin Ahmad Baharun. Ia mondok dan di pesantren ini antara 1988 hingga 1996 dengan 3 tahun di antaranya menjalankan tugas mengajar.

Seusai belajar di Bangil, atas arahan Habib Hasan, Buya Yahya kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas al-Ahgaf Yaman. Selama 9 tahun berada di Yaman antara 1996 hingga 2005, Buya Yahya banyak berguru pada ulama-ulama Yaman.

Sebagian kecil guru Buya Yahya antara lain: di bidang fikih ia berguru kepada para Mufti Hadramaut; Syekh Fadhol Bafadhol, Syekh Muhammad al-Khotib, Syekh Muhammad Baudhon, dan Habib Ali Masyur bin Hafid.

Ilmu hadis ia pelajari dari Dr. Ismail Kadhim Al-Aisawi dari Iraq, Habib Salim asy-Syathri dan Sayyi Ahmad bin Husin Assegaf. Secara sanad keilmuan, Buya Yahya setidaknya memiliki dua jalur, dari Habib Hasan bin Ahmad Baharun (Pengasuh Dalwa) dan Habib Abdullah bin Muhammad Baharun, Rektor Universitas al-Ahgaf Yaman.

Baca juga:  Mau Tahu Sisi Kewalian Gus Miek? Ini 5 Bukti Karamahnya

[nextpage title=”2. Langkah-langkah Dakwahnya”]

2. Langkah-langkah Dakwahnya

Sebelum mulai berdakwah, Buya Yahya pada akhir tahun 2005 masih berstatus guru tugas di pesantren persiapan bagi mahasiswa yang akan berangkat ke Universitas al-Ahgaff. Hingga pertengahan 2006, ia lalu diizinkan sang guru, Prof. Dr. Habib Abdullah bin Muhammad Baharun untuk mulai berdakwah.

Sejak saat itu, Yahya muda mulai memasuki mushalla-mushalla kecil untuk berdakwah. Hingga akhirnya mendidikran majlis taklim di masjid at-Taqwa Cirebon. Semula hanya dihadiri 20 orang saja, hingga akhirnya jamaah pengajiannya setiap malam Senin dan Selasa hampir memenuhi masjid.

Sejak tahun 2008, Buya Yahya mulai membangun pesantren. Hal itu dilakukan setelah sebelumnya ada sejumlah santri yang ditampungnya di rumah. Baru pada tahun 2010 Lembaga Pengembangan Dakwah al-Bahjah dan Pesantren al-Bahjah diresmikan oleh Habib Abdullah Bin Muhammad Baharun dari Yaman.

[nextpage title=”3. Jaringan Pendukung Dakwah”]

3. Jaringan Pendukung Dakwah

Perkembangan dakwah Buya Yahya dengan LPD al-Bahjahnya kian pesat dan melebarkan sayap. Dibanding dengan umumnya ulama pesantren, Buya Yahya terbilang selangkah lebih modern dan eksis. Jaringan radio dan TV al-Bahjah aktif menyiarkan ceramah dan pengajiannya. Video-video pengajian Buya Yahya dengan mudah diakses di website maupun via youtube. Seiring kian populernya Buya Yahya, baru-baru ini dikabarkan bahwa dakwahnya mulai merambah mancanegara.

Selain memiliki stasiun radio dan TV untuk memperluas jangkauan dakwah, al-Bahjah juga mengembangkan usaha travel, mini market, penjualan buku dan DVD. Bahkan al-Bahjah juga berinovasi mengembangkan tempat rekreasi berupa kolam renang muslimah.

[nextpage title=”4. Diskusi dengan Wahabi”]

4. Diskusi dengan Wahabi

Sebagai tokoh kultural Aswaja yang gigih membela faham Ahlusunnah yang telah dijalankan oleh mayoritas muslim khususnya Indonesia, tentulah harus bertabrakan dengan aliran lain yang memang agresif menyebarkan pahamnya lewat berbagai media. Untuk menghindari konflik di masyarakat, maka para tokoh memang harus duduk bersama berdiskusi mengetengahkan dalil dan landasan pemahaman masing-masing.

Baca juga:  Bukan Hanya Garis Lurus dan Protestan, Ternyata Ada 5 Macam NU Lainnya di Medsos!

Itulah yang telah dilakukan Buya Yahya.  Beberapa kali ia mengadakan diskusi terbuka dengan tokoh-tokoh salafi wahabi. Video yang diunggah ke youtube memperlihatkan kealiman dan kearifan Buya Yahya dalam berdiskusi dan berdebat. Antara lain ia pernah berdiskusi dengan Profesor Salim Bajri dan Ustadz Ahmad Thoharoh. Perdebatan mereka disiarkan langsung di televisi lokal, Cirebon TV.

[nextpage title=”5. Tanggapan terhadap Beberapa Isu Kontroversial”]

5. Tanggapan terhadap Beberapa Isu Kontroversial

Sebagai tokoh agama yang banyak menjadi rujukan masyarakat muslim, Buya Yahya dihadapkan juga kepada pertanyaan-pertanyaan dari jamaahnya terkait beberapa isu agama yang berkembang. Bahkan dalam beberap kasus, ia menentang statemen kontoversial yang dilontarkan sesama ulama.

Antara lain yang pernah ia tanggapi adalah perkataan K.H. Said Aqil Siradj terkait jenggot. Ungkapan K.H. Said yang memang sering dipelintir dan disalahpahami orang, ditanggapi keras oleh Buya Yahya. Ia pernah juga menanggapi pernyataan Prof. Quraish Shihab tentang jaminan surga untuk Nabi Muhammad Saw.

Pada dasarnya para ulama yang sama-sama memperjuangkan eksistensi Aswaja tidaklah saling menyalahkan. Hanya saja, kadang ungkapan yang multitafsir dan sekilas mudah disalahpahami orang, akan dipelintir dan direkayasa pihak tertentu untuk mengadu pendapat dan sanggahan antar ulama.

Sayangnya, fenomena saling sanggah via video itu tanpa dilanjutkan pertemuan langsung antar yang bersangkutan. Inilah yang kemudian akan menjadi senjata pihak tertentu untuk semakin menjatuhkan wibawa dan citra para ulama.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
100 %
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin
  • 287
    Shares