Ulil! Ini 5 Bukti Bahwa Sodom dan Gomora Pernah Diazab karena LGBT

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 2365

Waktu Baca7 Menit, 20 Detik

DatDut.Com – Beberapa hari ini kita dikagetkan oleh twitan provokatif dari gembong liberalisme di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Ulil Absar Abdalla. Ada tiga twitan yang ramai dibicarakan. Pertama, soal kisah kehancuran kaum Luth di Sodom dan Gomora yang ditanyakan kehistorisannya. Kedua, kalau benar siksa dan kehancuran itu ada, benarkah itu disebabkan oleh perilaku LGBT. Ketiga, tidak ada ayat yang sharih (eksplisit) menjelaskan bahwa kaum Sodom disiksa karena orientasi seksualnya.

Twitan itu kontan menyulut pro dan kontra di jagat maya. Netizen seperti biasa terbelah menjadi dua kelompok: yang mendukung dan yang mengecam twitan itu. Pendukungnya tentu saja segelintir orang-orang liberal yang memang kerap “berisik” di twitter dan para pendukung LGBT. Pengecamnya tentunya mereka yang gerah dengan kampanye liberalisme yang terus disebar secara massif dan terstruktur oleh segelintir orang di negeri ini.

Sebelum menyajikan data yang membantah twitan Ulil itu, saya hanya heran kenapa Ulil terus-menerus menebar provokasi tidak perlu seperti ini? Twitan itu tidak ada keuntungan sama sekali bagi umat. Dia seperti sengaja menempatkan diri dan menahbiskan diri sebagai fattan (pembuat keonaran) di jagat maya.

Yang jelas dengan menebar provokasi seperti itu, dia diuntungkan. Selain laju popularitasnya terus terjaga, mungkin saja ini bagian dari “kode” yang ditebar oleh kelompok liberal untuk mendapat dana asing yang jelas-jelas mendukung kampanye LGBT.

Kalau mencermati perilaku orang-orang liberal dari proyek-proyek dikerjakan, terlihat sekali bahwa mereka hanyalah proxy yang dimainkan oleh kelompok asing untuk menyerang para penentang LGBT dan isu-isu lain kreasi kelompok asing. Dan, yang dirugikan kita semua. Tidak hanya umat Islam, tapi kita semua masyarakat Indonesia.

Kembali ke soal substansi dari twitan itu. Benarkah kehancuran kaum Luth itu ahistoris alias fiksi? Benarkah kehancuran sebagai siksa itu bukan akibat perilaku LGBT? Benarkah tak ada dalil sharih soal azab itu akibat perilaku LGBT? Berikut 5 bantahan yang membuktikan bahwa Sodom dan Gomora pernah diazab akibat LGBT:

1. Bukti dari Alquran 

Karena Ulil menyinggung soal ayat Alquran, maka mari kita baca ayat-ayat berikut:

“(Ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, ‘Kalian benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun umat sebelum kalian. Apakah pantas kalian mendatangi laki-laki, memaksa, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan kalian?’ Jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Datangkanlah kepada kami azab Allah jika kamu termasuk orang-orang yang benar,’” (QS Al-Ankabut [29]: 28-29).

“Luth berdoa, ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu,’” (QS Al-Ankabut [29]: 30).

“Ibrahim bertanya, ‘Apakah urusan kalian, hai para utusan?’ Mereka menjawab, ‘Kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas,’” (QS Al-Dzariyat [51]: 31-34).

“Mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia),” (QS Al-Hijr [15]: 73-76).

Ayat-ayat itu rasanya sudah cukup menjelaskan apa yang dipertanyakan oleh Ulil. Saya hanya khawatir Ulil sudah tidak sempat lagi baca Alquran karena sibuk ngetwit dan meladeni twitwar.

2. Fakta Arkeologis Memperkuat Kebenaran Ayat

Baca juga:  Persekusi Bali, Ancaman Serius terhadap Toleransi

Penulis buku The Bible as History, Werner Keller, menjelaskan berdasarkan data-data arkeologis yang dipunyainya bahwa pada suatu waktu seluruh Lembah Sadim yang mencakup wilayah Sodom dan Gomorrah amblas hingga mencapai kedalaman yang mengerikan.

Kehancuran ini terjadi dengan gempa bumi dahsyat yang disertai beberapa kali letusan, juga percikan cahaya yang muncul dari gas alam dan kebakaran yang hebat. Penjelasan Keller ini senada dengan penjelasan ayat berikut:

“Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu,” (QS Al-Syuara [26]: 173).

Terkait hal ini, Werner Keller mengatakan, “Kekuatan gunung berapi yang tenang tiba-tiba aktif di kedalaman laut sepanjang lempengan dari lembah itu. Kawah berapi yang semula tenang terus-menerus tampak bergejolak di bagian atas lembah tepi pantai bagian barat. Ketika itulah uap gunung berapi mengendap dan lapisan dalam batu gunung berapi turun sejauh wilayah yang luas pada permukaan kapur.”

3. Bukan Semata Bencana Alam Biasa

 

Laut Mati atau Danau Luth memang termasuk daerah gempa aktif. Laut itu terletak di rekahan tektonik (plate tectonics) aktif sejauh 300 km. sepanjang sisi yang menghubungkannya dengan Danau Tiberias di utara hingga pertengahan Lembah Irba di sebelah selatan.

 

Namun, uap berbatu dan lapisan dalam batu gunung berapi menunjukkan bahwa tempat ini mendapat gempa yang dahsyat dan gunung berapi yang luar biasa pada suatu waktu. Malapetaka ini sesuai dengan gambaran Alquran pada ayat berikut:

Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (QS Hud [11]: 82).

Dalam hal ini, Alquran memberi isyarat bahwa kejadian yang paling tepat adalah gempa gunung berapi. Allah Swt. juga berfirman:

“Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan),” (QS Hud [11]: 82).

Ayat ini memberi petunjuk terjadinya gempa berdampak pada gunung berapi sehingga ia meletus di atas permukaan bumi agar bisa meninggalkan jejak kehancuran, rekahan, dan uap.

4. Fakta Ilmiah Soal Danau Luth

Beberapa petunjuk yang jelas, juga tanda-tanda kasat mata, yang terlihat di Danau Luth, memberikan pesan bahwa ada maksud di balik semua itu. Dengan pola yang sama, semua peristiwa yang diinformasikan oleh Alquran, terjadi di Timur Tengah, Jazirah Arab, dan Mesir. Tepat di tengah-tengah beberapa wilayah inilah Danau Luth berada.

Danau Luth dan beberapa wilayah di sekitarnya menjadi pusat perhatian para ahli geologi. Karena, laut ini mengalami penurunan 400 meter dari permukaan Laut Tengah. Padahal, titik terendah di laut itu mempunyai kedalaman 400 meter dari permukaan laut.

Jadi, dasar laut di tempat itu telah mengalami penurunan 800 meter dari permukaan laut. Ini menjadi titik terendah di muka bumi. Kedalaman tempat yang berada di kawasan rendah di daerah laut tidak mencapai lebih dari 100 meter dari permukaan laut.

Kekhasan lain yang dimiliki laut itu yang tidak terdapat di tempat lain adalah kadar garam yang mencapai 30%. Dengan kadar seperti itu, biota laut apa pun, seperti ikan, rumput laut, tanaman laut, dan lain sebagainya, tidak mungkin bisa hidup di laut tersebut. Oleh karenanya, tempat ini disebut dengan Laut Mati (Dead Sea) di dalam khazanah pengetahuan Barat.

Baca juga:  Jangan Berlebihan Menyanjung Ustaz yang Lagi Tenar

Peninggalan kaum Luth sangat jelas terlihat ketika kita berlayar menggunakan kapal melewati Danau Luth hingga ke titik terjauh bagian selatan. Ketika matahari mengirimkan cahayanya ke arah kanan, kita akan melihat sesuatu yang mengerikan.

Pada jarak tertentu dari pantai dan dengan air laut yang bening, akan terlihat jelas batas hutan yang dilindungi oleh kadar garam Laut Mati. Dahan-dahan yang sangat tua dan akar-akar yang terlihat ketuaan berada di bawah air hijau yang berkilauan.

Padahal Lembah Sadim merupakan tempat terindah di kawasan itu pada masanya. Dahan dan pepohonan hijau tumbuh saat itu. Bunga mawar pun bermekaran di sana.

5. Terjadi pada Tahun 1800 SM dan Hasil Penelitian Geologis

Diperkirakan kisah kehancuran kaum Luth yang diceritakan Alquran terjadi pada tahun 1800 SM. Saat melakukan kajian geologi dan kepurbakalaan, Keller menjelaskan bahwa Sodom dan Gomora itu terletak di Lembah Sadim yang menjadi kawasan paling turun dan sulit dijangkau di Danau Luth.

Padahal, tempat itu dulu paling banyak dihuni di muka bumi, juga paling menonjol dalam strukturnya. Ini menjadi petunjuk yang memperlihatkan peristiwa kehancuran yang diriwayatkan Alquran.

 

Penelitian geologis dari segi dinamika bencana kaum Luth, mengungkapkan bahwa gempa yang memporak-porandakan kaum ini sebagai akibat dari pembentukan rekahan yang panjang di bumi (garis rekahan) sejauh 190 meter. Garis rekahan inilah yang membentuk danau sungai Yordania.

Sungai Yordania sendiri mengalami penurunan sekitar 180 km, sementara Laut Mati mengalami penurunan sekitar 400 meter dari permukaan tanah. Fenomena itu menunjukkan adanya peristiwa geologis dahsyat pada periode waktu tertentu.

Struktur Sungai Yordania dan Danau Luth membentuk bagian kecil pecahan dan rekahan bumi yang melewati tempat itu. Tempat dan panjang pecahan ini baru ditemukan pada masa kita saja. Rekahan ini dimulai dari wilayah Gunung Hermon hingga sepanjang bagian selatan, lalu Danau Luth, dan terus berlanjut sampai di tengah-tengah padang sahara Arab, dilanjutkan Teluk Aqabah, kemudian berlanjut melewati Laut Merah sampai ke Afrika.

Sepanjang jarak rekahan itu, aktivitas gunung berapi tak pernah berhenti. Ini yang memungkinkan penelitian batu basalt dan gunung berapi yang ada di Gunung Meron (Galilee) Palestina, dataran rendah dan dataran tinggi Yordania, Teluk Aqabah, dan tempat-tempat yang ada di sekitarnya.

 

Pada Desember 1957 Majalah National Geographic menurunkan laporan sebagai berikut:

“Puncak gunung yang ke arah Laut Mati naik. Sampai sekarang belum ada satu pun orang yang berhasil menemukan kota-kota yang hancur: Sodom dan Gomora. Hanya saja para peneliti berpendapat dua kota itu berada di Lembah Sadim, yang berhadapan dengan kawasan padang pasir. Air Laut Mati telah menenggelamkan kedua kota itu setelah gempa yang dahsyat menghancurkannya.”

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah