Bila Beda Pendapat, Berdiskusi atau Berdebatlah, Bukan Mengusir

  • 148
  •  
  •  
  •  
    148
    Shares

DatDut.Com – Kabar tidak menyenangkan sedang menggelayuti langit Nusantara. Ada lagi berita tentang penolakan dan pengusiran yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap dai yang diundang menyampaikan ceramahnya di suatu darah. Kali ini giliran Dr. Khalid Basalamah yang mendapat “giliran”.

Dari beberapa berita yang beredar, disebutkan hal itu terjadi karena ada kesepatan yang dilanggar oleh panitia. Konon panitia dari Yayasan Masjid Salahuddin (YMS) telah menyepakati untuk tidak menghadirkan dai yang jadi idola di kalangan kelompok salafi ini.

Terlepas dari apa yang melatari penolakan dan pengusiran itu, tentu saja saya ikut menyesalkan. Bila benar sang dai dianggap provokatif dalam ceramah-ceramahnya, bukannya ada cara lain untuk menguji materi dakwah yang dianggap provokatif itu.

Toh, sang dai juga diketahui mau mengoreksi pendapatnya bila salah (baca: Permohonan Maaf Dr. Syafiq Reza Basalamah dan Dr. Khalid Basalamah). Bukankah dengan mendiskusikan dan mencari titik temu akan jauh lebih baik.

Sanggahan dan bantahan baik langsung maupun lewat tulisan (baca: Bantahan terhadap Dr. Khalid Basalamah terkait Masalah Sayyidina), justru lebih arif daripada melakukan tindakan-tindakan yang bisa diartikan negatif oleh orang luar dan berpeluang adanya adu domba.

Atau kalaupun benar materi dakwah sang ustaz mengancam NKRI, toh tuduhan seperti itu perlu dibuktikan juga dalam suatu diskusi, bahkan pengadilan. Jangan sampai melabeli orang lain dengan  “anti-NKRI” hanya karena benci dan tak sepaham.  Apalagi sampai melakukan tindakan yang nyata-nyata justru sebetulnya mengancam kebhinekaan. Alangkah indahnya bila perbedaan itu didiskusikan, bukan dijadikan alasan untuk penolakan atau pengusiran.

Dalam hal ini, ada pertanyaan kecil saya, sejak kapan kita diajari menolak dan mengusir tokoh dan panutan dari kelompok lain hanya gara-gara beda pendapat dan tak sama cara penyampaian?! Padahal, bahkan pada tuhan agama lain pun kita diminta untuk tidak mencaci.

Baca juga:  Setelah Kontroversi al-Maidah 51, Bagaimana Semestinya Sikap Kita pada Terjemahan Alquran?

Kalau apa yang diberitakan ini benar, tolong jangan salahkan ormasnya. Karena faktanya selalu saja ada kelompok kecil yang garis keras di setiap ormas. Di NU terlalu banyak ustaz dan kiai yang hebat-hebat penguasaan literatur keislamannya, dari literarur klasik hingga kontemporer. Menolak dan mengusir tokoh dari kelompok lain yang tak sejalan dengan pandangan keagamaan NU, tentu seperti mengkerdilkan kehebatan NU.

Di NU juga ada tradisi “bahsul masa’il” (kajian literatur terkait persoalan keumatan dan kekinian), yang sepengamatan saya yang terbaik dan paling mendalam di antara ormas-ormas yang ada di Indonesia. Sekali lagi jika berita penolakan dan pengusiran itu benar, maka ini betul-betul mencoreng tradisi keilmuaan dan keagamaan yang begitu adiluhung di lingkungan NU.

Dalam konteks ini, saya menaruh hormat yang setinggi-tingginya pada Ustaz Muhammad Idrus Ramli yang memberi contoh pada generasi muda NU untuk mau membuka diri berdiskusi dengan kelompok lain yang tak sepaham, termasuk melayani tantangan debat dari pihak lain. Dari diskusi dan debat itu, masing-masing akan belajar untuk tidak memonopoli kebenaran dan tahu argumen juga alasan lawan.

Baca juga:  Kompas dan MetroTV Dulu Dipercaya Publik, Kenapa Kini Sering Dipertanyakan Beritanya?

Karenanya, saya merasa diskusi paham keagamaan lintas ormas mungkin diperlukan. Formatnya bisa dalam kegiatan bahsul masa’il lintas ormas atau kegiatan sejenis apa pun namanya. Kementerian Agama atau MUI perlu turun tangan dalam hal ini, sebelum semuanya terlambat. Kok rasa-rasanya sudah tidak zaman lagi usir-mengusir atau tolak-menolak orang yang berbeda pendapat dengan kita, apalagi ini sesama umat Islam.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *