Betapa Khawatirnya Orang Tua yang Anaknya Kuliah di Kota

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Saat musim pendaftaran kuliah begini, akan banyak remaja tanggung yang merayu orang tuanya. Sebagian besar masalah mereka adalah kuliah di kota yang jauh.

Banyak anak daerah di Indonesia mengincar kota-kota besar di Pulau Jawa. Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, juga beberapa kota lain masih menjadi incaran para calon mahasiswa.

Bagi sebagian orang, merantau untuk kuliah bukanlah masalah besar. Namun, banyak pula yang sangat kesulitan untuk dapat mencapai mimpi tersebut.

Anak-anak dari desa terutama. Mereka yang selalu berada di tanah kelahirannya sampai lulus sekolah, pasti sangat sulit untuk pergi.

Bukan hanya soal biaya. Perasaan khawatir orang tua kerap juga dipertimbangkan.

Banyak ketakutan-ketakutan akan kisah kelamnya kota. Kisah nahas seorang mahasiswa rantau yang beredar sangat menghantui mereka.

Para orang tua selalu membayangkan jika anaknya yang menghadapi hal buruk. Mereka tidak sanggup untuk mendapat berita buruk dari anaknya yang kuliah di kota.

“Mbok ya kuliah di dekat-dekat sini aja,” begitulah permintaan orang tua.

Sayangnya anak mereka tetap ingin merantau. Pergi ke kota-kota yang jauh untuk menimba ilmu dan meraih mimpi.

Para remaja tanggung yang resmi jadi perantau tentu belum lepas dari teror orang tua.

Teror macam apa?

Tentu puluhan SMS dan telepon akan menghampiri mereka tiap hari. Jika orang tua mereka sudah mengenal ponsel pintar, pesan WhatsApp dan panggilan video akan rutin menyapanya. Dari siapa lagi jika bukan kedua orang tua di kampung halaman.

Baca juga:  Alhamdulillah! Pemerintah Resmi Dirikan Universitas Islam Internasional Indonesia

Pukul 9 malam mereka baru akan pulang dari organisasi, sang ibu menelepon, “Sudah di kosan, Nak?”

Awalnya telepon tersebut akan ditanggapi dengan baik. Namun lama kelamaan mereka akan bosan mendapat pertanyaan yang itu-itu lagi. Mereka juga mulai risih ditanyai ini itu.

“Jangan telepon mulu,” keluh mereka suatu hari.

Orang tuanya tetap bersikeras untuk menelepon secara rutin. Walaupun sudah tidak begitu sering, tapi rutin. Sang anak masih saja protes atas kekhawatiran orang tuanya yang berlebih.

“Ayah Ibu nggak usah gitu, dong!” ujar mereka saat mulai bosan.

Telepon dari kampung halaman mulai tak digubris. SMS tak dibalas. Pesan WhatsApp tak dibaca.

Orang tua mereka mungkin agak sedih saat anaknya tak merespons seperti itu. Namun kesedihan mereka dapat terobati dengan rasa bangga karena anaknya kuliah di tempat yang bagus.

Para mahasiswa rantau pun semakin hari semakin terbiasa dengan kehidupan kota.

Mulai beradaptasi dengan gaya hidup dan hiruk pikuk kota. Meski terkadang harus mencari kerja sambilan tanpa sepengetahuan orang tua demi menambal kekurangan yang ada.

Berjalan beberapa bulan hingga berganti semester, orang tua tercinta kembali menghadapi kenyataan anaknya yang tak pulang.

Beli tiket mungkin sangat membebani jika terlalu sering. Sang anak menetap di kota dan orang tuanya diam-diam menangis menahan rindu.

Hari-hari berikutnya orang tua mereka mulai terbiasa jauh dari anak tercintanya. Namun, semua kekhawatiran akan kembali saat beritabdi televisi menayangkan berita di kota tempat anaknya kuliah.

Baca juga:  Biar Jadi Mahasiswa Berprestasi tapi Tetap Keren, Ini 5 Tipnya

Saat ada banjir, orang tua akan bertanya, “Kosanmu nggak banjir kan, Nak?”

Lalu saat beredar berita maraknya begal dan geng motor, mereka kembali menelepon, “Kamu nggak papa kan, Nak? Jangan keluar malam-malam. Jangan pergi sendirian.”

Kadang para mahasiswa rantau merasa semua kekhawatiran itu berlebihan. Lebay. Mereka merasa sudah bisa menjaga diri tanoa harus diberitahu.

Padahal yang dilakukan orang tua mereka adalah wujud perhatian dan kasih sayangnya. Rasa khawatir itu hanya karena takut anaknya terluka atau berada dalam bahaya.

Sebagai mahasiswa rantau, kita tak perlu mengabaikan atau bahkan menolak panggilan telepon dari orang tua. Apalagi mengeluhkannya.

Coba bayangkan saat kita yang menjadi orang tua. Pastinya kita akan merasakan kekhawatiran yang sama bukan?

Daripada dihantui telepon dan pesan dari orang tua di kampung, cobalah memberi kabar secara rutin. Tentu kekhawatiran orang tua akan berkurang dan kita akan lebih tenang nantinya.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Yasmin Azzuhri

Mahasiswa Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Yasmin Azzuhri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close