Gara-gara 5 Hal Ini, Berlebaran di Maroko Kalah dengan Berlebaran di Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  

Datdut.Com – Budaya dan tradisi antardaerah berbeda-beda. Terlebih antarnegara, apalagi antarbenua. Ini juga saya temui terkait lebaran. Saya mencoba membandingkan berlebaran di Maroko yang ada di belahan dunia bagian barat dan Indonesia yang ada di belahan dunia bagian timur. Setelah merasakan berlebaran di dua dunia itu, saya menyimpulkan bahwa lebaran di Indonesia lebih nikmat daripada lebaran di Maroko. Ini alasannya:

1. Tak ada takbiran

Jangan berharap di Maroko pada malam lebaran kita mendengar syahdunya takbiran melalui corong-corong speaker masjid, surau atau musalla. Apalagi takbiran keliling sambil kentongan atau pawai anak-anak kecil di jalanan kampung. Mereka hanya membaca takbir pada pagi hari 1 Syawal sekitar jam 06:30 ketika sedang menunggu jamaah guna melaksanakan salat Idul Fitri pada pukul 07:30. Iya, cuma segitu aja takbirannya.

2. Opor ayam dan ketupat

Kerinduan kita saat Lebaran di negeri seribu benteng di antaranya adalah kuliner Nusantara khas Idul Fitri, yaitu opor ayam dan ketupat. Tapi kita tidak khawatir meskipun Magharibah (orang-orang Maroko) miskin kuliner, kita bisa menikmatinya di Wisma Duta (rumah dinas Duta Besar). Karena biasanya selepas salat Idul Fitri di ruang serba guna KBRI Rabat kita semua WNI (Warga Negara Indonesia) menuju ke sana untuk memenuhi undangan Open House Dubes RI untuk Kerajaan Maroko yang merangkap Mauritania (Syinqit).

Baca juga:  Ini 5 Negara dengan Hutan Terluas yang Terancam

Mohon maaf, dengan berat hati, saya harus katakan sekali lagi bahwa Magharibah tidak punya makanan spesial Lebaran. Sedekat pengamatan saya, kuliner keseharian paling masyhur mereka cuma dua: tajine (baca: tojin) dan kuskus. Bagi mereka Idul Fitri bukanlah hari raya besar. Yang besar dan heboh bagi mereka adalah Hari Raya Idul Adha. Nah, uniknya kalau Hari Raya Idul Kurban, mereka sampai rela mengkredit hewan kurban.

3. Mudik

Sepertinya ada benarnya kata sebagian sosiolog bahwa tradisi mudik hanya ada di Indonesia. Setelah saya amati pada Hari Raya Idul Fitri di Rabat yang nota bene ibukota Maroko, tidak ditemukan eksodus besar-besaran orang urban pulang kampung di hari raya ini. Tradisi sejenis mudik baru bisa ditemukan saat mereka merayakan Idul Adha.

4. Halal Bihalal

Termasuk budaya yang khas Nusantara adalah tradisi saling mengunjungi dan berkumpul di suatu tempat antar sanak famili baik yang jauh maupun yang dekat, sekedar saling sapa bertukar senyum dan ngobrol ringan (Halal Bihalal). Nah, ini tak saya temukan di Maroko. Ini yang bikin rindu Indonesia.

5. Baju baru dan angpau

Di waktu pagi menyingsing saya tidak melihat anak-anak kecil berjalan menuju masjid sambil berceloteh ria menenteng sajadah laiknya keriangan dan keceriaan anak-anak Nusantara di pagi 1 Syawal bersama orang tuanya. Terasa ada yang hampa di Negeri Seribu Zawiyah ini. Aneh.

Baca juga:  Jangan Ketukar! Ini Beda Subhanallah dan Masya Allah

Saya semakin yakin, kesyahduan bulan Ramadan yang dilanjut saat lebaran di Indonesia memang tidak ada duanya. Ternyata tak ada di negeri manapun. Kalau tak percaya, tanyalah ke WNI-WNI muslim di Eropa, Amerika bahkan negara-negara Arab. Mereka pasti merasakan apa yang saya rasakan. Karena mereka juga tak menemukan kesyahduan, keceriaan dan kegembiraan seperti yang mereka pernah rasakan di Indonesia.

alvianKontributor: Alvian Iqbal Zahasfan | Penikmat nasi pecel yang sedang menyelesaikan studi  S3-nya di Maroko

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Alvian Iqbal Zahasfan

Latest posts by Alvian Iqbal Zahasfan (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close