Benarkah Penulis Kitab Kifayatul Akhyar Bermazhab Syiah?

  • 4
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

DatDut.Com – Hampir seluruh Pesantren Salaf mewajibkan santrinya mengaji dan mengkaji kitab Taqrib karya Syekh Abu Syuja’ (500 H).

Penulis kitab ini merupakan ulama asal Isfahan. Sebuah kota yang terletak kurang lebih 340 KM di Selatan Teheran yang merupakan Ibu Kota Iran. Tapi perlu dicatat, beliau itu ulama Suni tulen.

Pada sekitar abad pertengahan hijriah, memang banyak ulama Suni yang berasal dari Persia (Iran). Menurut catatan Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tausyih, Syekh Abu Syuja pernah duduk di pemerintahan Isfahan sebagai hakim.

Belakangan, setelah selesai menjabat sebagai hakim, Abu Syuja’ pindah ke Madinah karena ingin mengabdikan diri di masjid tersebut. Setiap hari, beliau menyapu masjid Madinah al-Munawarah, menyalakan lampunya, dan menggelar karpetnya hingga wafat.

Syekh Nawawi menceritakan bahwa penulis buku Taqrib itu wafat di usia 160 tahun. Herannya, tidak ada satu anggota badan pun yang berkurang fungsinya karena usia yang menua. Konon, rahasianya itu karena beliau tidak pernah maksiat pada Allah sejak kecil.

Kitab Taqrib dipilih menjadi buku daras wajib di pesantren karena memiliki banyak keunggulan (Baca: 5 Keunggulan Kitab Taqrib di Mata Para Santri). Ulama lain pun banyak yang mengomentari isi kitab Taqrib dalam bentuk syarah, di antaranya kitab Kifayatul Akhyar.

Ternyata ada fakta menarik juga terkait kitab Kifayatul Akhyar itu. Bahkan mungkin sebagian santri belum mengetahui. Nah, 5 fakta di bawah ini semoga bisa menyegarkan dahaga para santri yang ingin mengetahuinya. Berikut ulasannya:     

1. Pengarangnya itu Penduduk Suriah

Pengarang kitab Kifayatul Akhyar memiliki nama panjang Abu Bakar bin Muhammad bin Abdul Mu’min. Nasab beliau tersambung hingga ke sayidina Husein, putra Sahabat Ali.

Dan, yang terpernting perlu diketahui bahwa beliau itu memegang teguh teologi Asy’ariyah, bukan teologi Syiah. Karenanya, tidak benar anggapan dai yang menuduh kesyiahan seseorang hanya karena keturunan sayidina Husein atau pengagumnya.

Baca juga:  Merasa Lemah Iman dan Terombang-ambing Oleh Fitnah Akhir Zaman? Baca 3 Kitab Ini!

Paling mudah mengidentifikasi kesyiahan seseorang di Indonesia, di antaranya, dengan melihat apakah dia bergabung dengan lembaga atau organisasi-organisasi resmi Syiah di Indonesia atau tidak (Baca: 5 Lembaga Resmi Syiah di Indonesia).

Beliau merupakan ulama mazhab Syafi’i asal Damaskus, ibu kota Suriah, yang lahir pada tahun 752 Hijriah dan wafat pada tahun 829 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1426 Masehi.

2. Panggilan Akrab

Syekh Abu Bakar ini dikenal dengan julukan Taqiyuddin’orang yang apik dalam agamanya. Ada dua julukan Taqiyuddin yang sering didengar di Pesantren Salaf.

Pertama ya Syekh Abu Bakar ini, dan yang kedua adalah Syekh Ali Abdul Kafi, atau sering disebut dengan Taqiyuddin as-Subki. Ulama yang kedua ini adalah ayah Tajuddin as-Subki, penulis kitab babon Usul Fikih Pesantren Salaf, yaitu Jam’ul Jawami’. 

Syekh Abu Bakar ini ulama yang lahir di salah daerah di Suriah yang bernama Hishn, salah satu desa yang berada di kota Hauran, Suriah Selatan.

Karenanya, nama Taqiyuddin selalu bersamaan dengan al-Hishni, penisbatan pada daerah kelahirannya. Sementara itu, as-Subki adalah nama salah satu desa di Menoufia, Mesir.

3. Menghadirkan Beberapa Pendapat Pembanding

Di antara syarah kitab Taqrib yang dikaji di Pesantren Salaf adalah Fathul Qarib karya Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi yang kemudian dikomentari lagi menjadi bentuk Hasyiah, catatan pinggir.

Dua di antara kitab yang mengomentari Fathul Qarib adalah al-Bajuri karya Syekh Ibrahim al-Bajuri dan Tausyih karya Syekh Nawawi Banten.

Berbeda dengan Fathul Qarib yang hanya menjelaskan Taqrib dari sisi kebahasaan saja, kitab Kifayatul Akhyar tidak lagi menekankan pada masalah bahasa, tapi lebih menghadirkan perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab Syafi’i.

Beliau juga menyebutkan masing-masing kitab fikih yang dijadikan sumber rujukan, seperti al-Muharrar karya ar-Rafi’i, Raudhatut Thalibin wa ‘Umadatul Muftin karya an-Nawawi, dan lain sebagainya.

Selain itu, Syekh Taqiyuddin al-Hishni juga berusaha menyodorkan dalil Alquran ataupun Hadis dalam setiap permasalahannya.

4. Seorang Zahid yang Pernah Memiliki Istri Lebih dari Satu

Ternyata pada masa Syekh al-Hishni di Suriah juga sedang terjadi peperangan saudara seperti saat ini. Beliau ulama yang hidup pada masa Dinasti Timuriyah atau Dinasti Timurlenk.

Baca juga:  Sulam al-Munajah, Kitab Tipis tentang Tauhid dan Salat Karya Syekh Nawawi Banten

Beliau pernah memiliki istri lebih dari satu. Namun semakin hari, beliau menunjukkan kezuhudannya dengan tidak bergaul dengan manusia.

Saya belum menemukan berapa jumlah istrinya yang sempat dinikahi. Apakah istri beliau yang lebih dari satu dicerai atau tidak, saya belum menemukan referensi yang memadai.

Namun yang pasti, pada masa Dinasti Timuriyah mengadakan ekspedisi ke Suriah, beliau menjalankan uzlah layaknya sufi pada masa itu.

5. Komentar Syekh al-Hisni tentang Ulama di Masanya

Dalam bab as-Shaum, bab puasa, Syekh al-Hishni mengkritik pedas ulama-ulama di masanya. Kritikan pedas itu tertuju pada hakim yang lacur dan ulama penjilat. Berikut petikannya:

Musibah besar yang terjadi saat ini adalah perlakuan pemimpin koruptor yang menyedekahkan uang haramnya untuk meracuni orang-orang fakir dan miskin. Yang lebih parah dari itu adalah diamnya ulama-ulama penjilat yang tidak berani mengkritik kezaliman yang dilakukan pemerintah. 

Nah, kritikan pedas Syekh al-Hishni bisa dijadikan cambuk ulama saat ini. Ulama itu merupakan tameng negara yang seharusnya terus menyerukan keadilan yang harus ditegakkan pemerintah.

Jadi, ketika ada ulama yang tidak berani mengkritik kebijakan pemerintah yang menyeleweng, berarti dia adalah ulama penjilat. Dan, tidak ada salahnya juga ada kalangan ulama yang duduk di pemerintahan bila kapasitasnya dalam dunia politik sudah memadai.

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    4
    Shares
  • 4
  •  
  •