Benarkah Orang yang Simpati pada FPI dan Masih Salafi Itu Karena Kurang Baca?

  • 5
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

DatDut.Com – Terus terang saja saya geli-segelinya membaca postingan seseorang di Facebook yang mengaku sebagai abdi ndalem seorang habib terkenal pemimpin tarekat. O iya, dengan menampilkan label yang ditempeli nama besar seseorang di namanya, itu menandakan ia tidak cukup percaya diri dengan namanya sendiri.

Di postingannya, ia menceritakan kalau perjalanan hidupnya, dari aslinya salafi, lalu pindah jadi FPI, lalu jadi radikal, dan akhirnya ia memilih ikut jalan tarekat yang menurutnya lebih menentramkan. 

Ia menceritakan bahwa itu semua dilaluinya sebagai hasil dari proses pembacaannya terhadap buku-buku keislaman. Lalu, ia tiba-tiba menyimpulkan bahwa orang-orang yang hari-hari ini masih salafi atau yang masih FPI itu berarti sama dengan ketika dia belum banyak baca.

Ini kesimpulan yang menggelikan. Dengan kata lain, seolah dia ingin mengatakan bahwa hanya dia yang membaca buku. Yang lain tidak baca buku. Padahal perjalanan hidup seseorang itu tak sama. Fase kehidupan yang dilalui juga berbeda-beda.

Baca juga:  Mau Maju? Umat Islam Indonesia Harus Punya Sifat-sifat Ini!

Ada teman saya yang dulu pernah sangat aktif di organisasi Islam liberal justru hari ini dia merasa malu pernah melalui hidupnya sebagai aktivis liberal. Itu juga setelah banyak baca. Ada kawan lagi yang dulu aktif berziarah, tahlil dan kegiatan sejenisnya, justru sekarang jadi salafi garis keras. Itu juga karena dia banyak baca dan ketemu dengan ustaz yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang sebelumnya tak terjawab.

Ada lagi teman yang dulu aktif di kajian kiri, hari-hari ini malah jadi sangat puritan. Keputusan ia menjadi puritan karena ia merasa menjadi kiri membuat hidupnya tidak tentram dan tidak bahagia. Hanya dengan kembali pada Alquran dan Sunah, ia menemukan kebahagiannya.

Singkatnya, banyak baca itu mestinya dimaknai secara luas. Tidak hanya baca buku, tapi juga membaca jalan hidup orang. Amati dulu sebanyak-banyaknya jalan hidup orang, agar tidak gampang membuat kesimpulan yang terkesan sangat menyederhanakan.

Saya justru khawatir dulu waktu salafi, atau waktu FPI, orang yang menulis postingan itu juga bicara begitu. Lalu ketika ganti haluan, yang sebelumnya dicaci-caci dan dijelekkan. Toh yang sekarang belum tentu tidak berubah lagi, karena jalan hidup orang tak pernah ada yang tahu. Ibarat nasihat bijak dari satu lagu dangdut, “Jangan baju baru kau sayang-sayang, sementara baju yang lama kau buang-buang.”

Baca juga:  Memusuhi Radikalisme, Jangan Benci Arab Saudi

Dia sepertinya perlu diingatkan mengenai satu hal bahwa jalan hidup seseorang tak pernah ada rumusnya. Jadi jangan hakimi jalan hidup orang. Mendoakan jauh lebih baik. Menghargai semua proses dan perjalanan hidup orang juga tanda kearifan dan kebijaksanaan.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *