Belajarlah Hangatnya Bertoleransi dari Bu Puji dan Biarawati Ini!

  • 59
  •  
  •  
  •  
    59
    Shares

DatDut.Com – Ibu yang berjilbab hijau ini namanya Ibu Puji. Nama lengkapnya Pujiyati. Dia sudah sepuluh tahunan lebih bekerja di Hong Kong. Asalnya dari Semarang. Kesan pertama, orang akan menangkap sepertinya dia pendiam dan dingin. Tapi setelah akrab, dia bisa bercerita apa saja tentang hidupnya.

Bu Puji ini adalah volunteer Dompet Dhuafa Hong Kong. Bu Puji pergi ke Hong Kong sebagai tenaga kerja wanita. Entah mengapa dia memilih Hong Kong. Tapi berdasarkan penuturannya ke saya, di Hong Kong dia justru menemukan Islam.

Dia terlahir sebagai Katolik dan masuk Islam dalam usia belasan. Ia mengaku bisa belajar Islam lebih baik justru saat berada di Hong Kong. Dari majelis-majelis yang diikuti, juga pengembangan diri dari Dompet Dhuafa Hong Kong, amat membantunya untuk mengerti keindahan Islam.

Dialah yang mengantar saya ke tempat khotbah Idul Fitri di daerah Tung Chung, di dekat Hong Kong International Airport (HKIA). Bersama Mba Umiyati, Bu Puji mengantar saya tiga kali pindah MTR, kereta subway di Hong Kong.

Baca juga:  Ini Makna "Khilafah" dalam Al-Qur'an dan Hadis

Saya berangkat dari Causeway Bay, di pusat kota Hong Kong, tempat saya tinggal. Pagi-pagi buta saya menuju lokasi khotbah yang lumayan jauh. Tak ada yang istimewa dari perjalanan saya pagi itu.

Sampai pada suatu stasiun ada seorang biarawati lengkap dengan pakaian identitasnya, menaiki gerbong yang sama dengan yang kami naiki. Si biarawati duduk.

Tak dinyana, Bu Puji yang tadinya enggan duduk padahal banyak kursi kosong, tiba-tiba menghampiri biarawati dari salah satu gereja di Hong Kong itu.

Lalu duduk berdampingan dan terlibat pembicaraan yang hangat, tanpa sekat, dan beberapa kali terlihat saling memegang tangan, tersenyum, dan tertawa ringan. Tak pasti apa yang mereka bicarakan, tapi sangat tampak sekali isyarat bahasa tubuh saling menghargai dan menghormati.

Pemandangan itu terus menghiasai perjalanan kami. Saya yang duduk di seberangnya dengan leluasa melihat persaudaraan antaragama yang begitu indah itu. Hingga akhirnya si biarawati turun di satu stasiun yang saya lupa namanya, sementara kami masih terus melanjutkan perjalanan.

Baca juga:  Aneh! Gara-gara Razia Warteg di Serang, Kok Perda Syariah yang Jadi Korban?

 

Ada pelajaran berharga yang saya dapatkan dari kejadian itu. Sepertinya saya sedang diajari Allah untuk lebih menghargai perbedaan. Mencari titik temu yang mempersaudarakan lebih utama daripada terus sibuk dengan titik beda.

Begitulah berislam yang seharusnya. Begitulah beragama yang seharusnya. Meskipun sama-sama mengenakan simbol agama, tapi tak merasa diri paling benar sendiri. Tapi saling mengerti dan memahami, juga tak menghalanginya untuk melakukan hal baik sebagai sesama manusia. Sungguh saya beruntung menyaksikan sendiri dan mengabadikan momen indah ini.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *