Kisah

Masih Egois? Belajarlah dari 5 Kisah Mengharukan dan Menyayat Hati Ini

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Penyakit ini salah satu yang diam-diam diidap oleh kita semua yang hidup di era media sosial. Iya, penyakit itu bernama egoisme. Penyakit yang membuat kita hanya fokus pada diri sendiri, mementingkan diri sendiri, dan melupakan bahwa di sekitar kita ada orang lain yang punya hak atas diri kita.

Nabi Muhammad Saw. bersama para sahabat mencontohkan kepada kita bagaimana mereka mengendalikan keangkuhan dan keegoisan demi membangun masyarakat yang saling mendukung satu sama lain, saling menopang satu sama lain, dan saling membutuhkan satu sama lain.

Toh, kita pun tahu, kita tak pernah bisa hidup sendiri dan tak bisa menyelesaikan masalah kita sendirian. Berikut 5 kisah mengharukan bagaiamana Nabi Muhammad beserta para sahabat mengikis kegoisan diri:

[nextpage title=”1. Rasulullah, Pakaikan Aku Mantel Ini!”]

1. Rasulullah, Pakaikan Aku Mantel Ini!

Suatu malam, kota Madinah diliputi dingin yang luar biasa. Pada suatu malam di musim dingin yang menggigit pori-pori, ada seorang wanita dari kalangan Anshar yang sedang menenun mantel dari beludru. Wanita itu pun membawa hasil tenunannya itu pada Rasulullah saw. untuk dia berikan pada Sang Nabi. Rasulullah saw. pun mengambilnya. Beliau lalu memakainya.

Di kala udara sedang dingin luar biasa seperti itu, beliau memang membutuhkan mantel itu. Saat hendak menemui para sahabat, Rasulullah saw. pun memakai mantel itu untuk pertama kalinya.

Saat memakai itu, ada seorang lelaki dari kalangan Anshar yang melihatnya. Lelaki itu berkata, “Bagus sekali mantel Anda. Pakaikan aku mantel ini, ya Rasulullah.” Rasulullah saw. pun langsung mengiyakannya.

Seketika itu pula, beliau langsung melepaskannya. Melihat kejadian itu, para sahabat yang lain melihati lelaki dari kalangan Anshar yang berani itu. Lelaki ini kemudian berkata, “Tapi, aku lebih membutuhkannya melebihi Rasulullah. Aku ingin menjadikannya sebagai kafanku kelak, pada saat aku meninggal dunia.”

Rasulullah saw. bersama para sahabat melewati beberapa waktu yang sulit karena kefakiran, kelaparan, dan kebutuhan yang tak terpenuhi. Ini terus berlangsung pada saat Rasulullah saw. mengalami kevakuman wahyu. (HR Ahmad).

[nextpage title=”2. Kambing itu Untukmu”]

2. Kambing itu Untukmu

Pada saat Mekah, Khaibar, dan Thaif berhasil ditaklukkan, harta pun melimpah ruah. Rampasan-rampasan perang terus menerus mengalir. Bagian Rasulullah saw. dari rampasan perang itu adalah kambing-kambing yang berada di antara dua gunung.

Baca juga:  Belajarlah dari 5 Kisah Penuh Misteri tentang Gus Miek Bersama Para Kyai dan Rakyat Jelata

Kemudian ada seorang Arab pedesaan yang melihat kambing-kambing itu. Lelaki itu pun berkata, “Betapa banyak kambing-kambing ini!” Mendengar itu, Rasulullah saw. berkata pada lelaki desa ini, “Apa itu membuatmu heran?” Lelaki itu menjawab dengan polosnya, “Iya.”

Rasulullah saw. lalu berkata, “Sekarang kambing-kambing itu menjadi milikmu.” Lelaki itu dengan tidak percaya bertanya pada beliau, “Muhammad, apa benar apa yang kamu katakan ini?” Rasulullah saw. menjawab, “Jika kamu mau, sekarang ambillah kambing-kambing itu dan kini sah menjadi milikmu.”

Lelaki itu pun lalu berdiri dan kemudian berjalan menuju kambing-kambing itu sembari menengok ke sekitarnya. Ia pun mengambilnya lalu pulang kembali untuk menemui kaumnya.

Sesampainya di kampungnya, ia mengatakan pada kaumnya, “Kaumku, peluklah Islam. Aku datang menemui kalian setelah bertemu dengan manusia terbaik. Dia adalah Muhammad. Dia yang memberikan pemberian ini, layaknya orang yang tidak pernah takut fakir untuk selama-lamanya.” (HR Muslim).

[nextpage title=”3. Allah Kagum dengan Apa yang Kalian Lakukan Berdua”]

3. Allah Kagum dengan Apa yang Kalian Lakukan Berdua

Ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah. Ketika bertemu, ia berkata pada Nabi, “Ya Rasulullah saw., saya belum makan.” Rasulullah saw. lalu menyuruh orang lain untuk menemui sebagian istri.

Melalui orang suruhannya, beliau menanyakan pada istri-istri beliau, “Apakah kalian menyimpan sedikit makanan?” Semua istri yang didatangi, hanya mempunyai satu jawaban, “Tidak ada. Demi Zat yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran, kita hanya punya air.”

Rasulullah saw. kemudian berdiri di tengah-tengah sahabatnya. Beliau pun menawarkan, “Siapa yang akan menjamu orang ini?” Mendengar itu, ada salah seorang lelaki dari kalangan Anshar yang berdiri sembari berkata, “Saya, ya Rasulullah. Saya akan menjamunya.”

Ia lalu buru-buru pulang untuk menemui istrinya. Sesampainya di rumah, lelaki Anshar ini bertanya pada istrinya, “Ada makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak. Yang ada hanya makanan anak-anak kita.”

Lelaki itu pun berkata, “Alihkan perhatian mereka dari makanan. Jika mereka ingin makan malam, buat mereka tidur. Nanti, kalau tamunya datang, taruhlah makanannya dan matikan lampunya, supaya dia mengira kita makan bersamanya. Dengan begitu, dia tidak merasa kikuk menyantapnya. Sekarang, taruh saja makanan itu di tempat tamu itu.”

Baca juga:  Orangtua Selalu Turuti Keinginan Anak, Ini 5 Bahayanya

Setibanya tamu itu, ia duduk sejenak kemudian menyantap makanannya. Keesokan harinya, pada saat salat subuh, lelaki Anshar yang sudah menjamu tamunya semalam pergi ke masjid. Sesampainya di masjid, Rasulullah saw. berkata padanya, “Allah kagum sekali dengan apa yang kalian berdua (kamu dan istrimu) lakukan pada tamu kalian semalam.” (HR Bukhari).

[nextpage title=”4. Saya Akan Melindungi Anda, Nabi”]

4. Saya Akan Melindungi Anda, Nabi

Pada saat berperang, ia berada di dekat Nabi. Ia meminta Nabi sebagai berikut: “Tundukkan kepala Anda, Rasulullah, agar Anda tidak terkena anak panah. Saya akan melindungi Anda, Rasulullah!”

Tak lama berselang, sebuah anak panah mengarah ke arah Rasulullah dan itu dilihat oleh Thalhah. Melihat itu, ia lalu menghadangnya dengan tangannya agar anak panah itu tidak sampai mengenai Rasulullah. Terang saja anak panah itu merobek tangannya hingga mengucurkan darah.

[nextpage title=”5. Saya Bersaksi bahwa Yazid bin Sakan telah Menunaikan Tugas”]

5. Saya Bersaksi bahwa Yazid bin Sakan telah Menunaikan Tugas

Pada saat Perang Uhud, Rasulullah saw. berdiri seraya berkata, “Siapa yang mau mengorbankan dirinya untuk kita?” Lalu datanglah sepuluh pemuda dari kalangan Anshar yang berusia kira-kira antara delapan belas dan sembilan belas tahun.

Satu per satu mereka berguguran sebagai syahid hingga yang terakhir adalah seorang pemuda yang bernama Yazid bin Sakan. Ia meninggal persis di bawah kaki Rasulullah saw. lantaran melindungi Nabi.

Melihat itu, Rasulullah saw. pun lalu berdoa, “Saya bersaksi bahwa Yazid bin Sakan telah menunaikan tugasnya.”  Peristiwa ini seperti yang dituturkan oleh Ibnu Hisyam dalam kitab al-Sirah Al-Nabawiyyah.

Measha

Measha

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ibu rumah tangga yang menggemari film korea dan martabak manis juga pesmol gurame.
Measha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *