Jurumiyah Jadi Buku Wajib Belajar Nahwu Dasar di Pesantren, Ini 5 Hal yang Tak Banyak Orang Tahu

  • 107
  •  
  •  
  •  
    107
    Shares

DatDut.Com – Yang pernah belajar di pesantren salaf (tradisional), pasti tak asing dengan kitab ini. Biasanya Jurumiyah dikenalkan pada santri-santri baru untuk memasuki dunia kitab kuning.

Bagi sebagian orang, kitab ini punya sejarah tersendiri. Pantas saja bila di antara kitab yang diingat santri, ya kitab ini. O iya, bahkan ada yang hingga menghapalkan segala, lho. Jadi, gak hanya Alquran saja yang dihapal santri. Kitab Nahwu juga hapal.

Nah, entah karena kitabnya yang tipis, sederhana bahasanya, atau karena pengarangnya yang ikhlas, Jurumiyah hingga kini terus dipelajari di pesantren, bahkan menjadi kitab wajib. Padahal, kitab sejenis cukup banyak. Memang sih selalu ada misteri tersendiri di balik kitab-kitab yang evergreen (sepanjang masa) gini. Setidaknya ini 5 fakta kehebatan Jurumiyah yang akhirnya kita bisa paham kenapa kitab ini jadi buku wajid sepanjang masa di pesantren-pesantren, terutama pesantren tradisional. Berikut fakta-fakta itu:

1. Karya Orang Maroko

Kitab Jurumiyah judul aslinya Matn Al-Ājurūmiyah—selanjutnya disingkat dengan MA saja, ya. Kitab ini merupakan karya Al-Shanhaji (w. 1323), seorang ahli gramatika Arab asal Fez, Maroko (Baca: 5 Ulama Maroko yang Namanya Dikenal hingga Nusantara).

2. Sistematikanya Sederhana dan Praktis

MA berisi pembahasan seputar kaidah gramatika Arab tradisional. Kelebihan MA terletak pada kepraktisan dan kesederhanaan sistematika pembahasannya, sehingga sangat membantu orang yang baru mempelajari gramatika Arab.

Tak heran bila MA merupakan karya yang paling terkenal di seluruh dunia Islam dalam bidang gramatika Arab. Ia sekaligus membuktikan adagium bahwa orang (juga karya) hebat itu orang (atau karya) yang bisa menyederhanakan sesuatu yang sulit.

Karya ini telah menarik banyak ahli untuk mengulasnya dalam bentuk karya syarh, mutammimah (catatan tambahan), dan nazhm. Selain itu, karya ini merupakan karya gramatika Arab yang paling banyak diajarkan, dikaji, dan bahkan dihafalkan.

Baca juga:  Aqidatul Awwam, Kitab Akidah yang Dipelajari di Pesantren dengan 5 Keunikannya

3. Naskah tentang Tata Bahasa Arab yang Paling Banyak Tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta

Di antara naskah tentang gramatika Arab yang tersimpan di koleksi manuskrip Arab PNRI, Al-Ajurūmiyah merupakan koleksi naskah yang paling banyak tersimpan. Ada setidaknya 16 naskah yang berhubungan dengan judul tersebut (belum termasuk naskah salinannya) baik yang berupa matn (prosa), syarh (komentar), dan nazhm (syair), yang terdata pada Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4 (1998).

4. Paling Banyak Mendapat Perhatian Para Ahli Tata Bahasa Arab

Perhatian terhadap karya ini tidak hanya diberikan oleh para ahli gramatika Arab dari Timur Tengah, tetapi juga oleh para ahli gramatika Arab (ulama) nusantara. Perhatian ahli gramatika nusantara terlihat dari banyaknya syarh dan nazhm terhadap karya ini.

Berdasarkan pelacakan Abdullah (2005) dan Setiakarya (2007), sekurang-kurangnya ada 6 ulama nusantara yang menulis terkait MA: (1) Syeikh Ahmad Al-Fathani menulis nazm Ats-Tsimār Al-Syāhiyah; (2) Syekh Nawawi Banten menulis Syarh Al-Ājurūmiyah; (3) Syeikh Abdul Qadir bin Abdullah Al-Mandaili (Mandailing) menulis Tarjamah Matn Al-Ājurūmiyah(4) Tengku Mahmud Zuhdi (Selangor) menulis Janiyat Al-Tsamarāt fī Ta’rīf Ba’dh Al-Kalimāt dan Tamhīd Al-Manāhij Al-Adabiyah fī I’rāb Mabānī Al-Ājurūmiyah(5) Haji Muhammad Ma’shum bin Syeikh Salim As-Samarani As-Sapatoni (Semarang) menulis Tasywīq Al-Khullān ‘ala Syarh Al-Ājurūmiyah li Sayyid Ahmad Zainī Dahlān; (6) Tok Kenali menulis Mulhiq li Miftāh At-Ta’allum fī I’rāb Matn Al-Ājurūmiyah wa Al-Amtsilah ‘ala Ratbih. Sebagian karya-karya itu masih dalam bentuk manuskrip dan sebagiannya lagi sudah dicetak.

5 Terkait Jaringan Ulama

Popularitas MA di kalangan peminat gramatika Arab Nusantara, berhubungan dengan adanya jaringan transmisi intelektual para ulama nusantara dengan salah satu pensyarah terkemuka kitab itu, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, yang merupakan guru dari Syeikh Abdul Hamid Kudus, Syekh Nawawi Banten, K.H. Khalil Madura, dan Syeikh Saleh As-Samarani (Semarang).

Baca juga:  5 Keusilan Santri yang Buat Anda Ingat Masa-masa di Pesantren

Menurut Dhofier (1990) dan Abdullah (2005), tiga nama yang disebut terakhir merupakan guru dari ulama pesantren besar di Nusantara, seperti K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri Pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdhatul Ulama); K.H. Abdul Wahhab Hasbullah (pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang); K.H. Bisri Syansuri (pendiri Pesantren Denanyar); K.H. Kholil Lasem (pendiri Pesantren Annur Lasem, Rembang), K.H. Ma’shum (pendiri Pesantren Al-Hidayah Lasem, Rembang), K.H. Bisri Mustofa (pendiri Pesantren Rembang); K.H. As’ad Syamsul Arifin (pengasuh Pesantren Asembagus, Situbondo), Syekh Mahfuzh Termas (pendiri Pesantren Pacitan); K.H. Ahmad Dahlan (pengasas organisasi Muhammadiyah); K.H. Idris (pengasas Pesantren Jamsaren, Solo); K.H. Sya’ban (ulama ahli falak di Semarang); dan K.H. Dalhar (pendiri Pesantren Watucongol, Magelang); dan lain-lain. Kuat dugaan melalui merekalah, MA (juga syarh, nazhm, dan mutammimah-nya) tersebar luas dan dikaji secara turun-temurun di nusantara, terutama di lingkungan pesantren.

Selain karena ada hubungan jaringan intelektual, penyebab populernya naskah ini adalah adanya informasi bahwa naskah ini juga melalui proses sufistik di dalam penyelesaiannya (Al-Hamidi, tt). Ini menjadi daya tarik tersendiri di kalangan pesantren yang memang gemar dengan informasi seperti itu.

agninaKontributor: Agnina Bieca | Senang belajar tentang apa pun

FB: Agnina Bieca

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi