Belajar Hidup Sederhana dan Tak Diperbudak Dunia Sesuai Tuntunan dan Ajaran Nabi

  • 8
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

DatDut.Com – Memang, boleh jadi tasawuf secara terminologis dan definitif belum ada dan tak pernah ada pada masa Nabi. Tapi apakah lalu secara praktis, tasawuf juga tidak dikenal pada masa itu? Karena jika diperhatikan pola hidup keseharian Nabi beserta para sahabatnya dengan seksama, maka akan ditemui bahwa kesederhanaan merupakan teman sejati mereka dalam mengarungi hidup.

Dalam catatan sejarah dengan jelas dapat diketahui betapa sederhana dan penuh deritanya kehidupan Nabi. Jangankan perabot rumah tangga yang mewah, alat rumah tangga yang diperlukan sehari-hari saja hampir tak ada. Jangankan makanan yang lezat, makanan yang biasa-biasa yang cukup buat mengganjal perut belum tentu ada setiap waktunya makan tiba.

Memori sejarah juga mencatat bahwa Nabi hanya tidur dengan alas sepotong tikar kasar, sampai tikar itu meninggalkan bekas di pipi beliau. Sedang makanan favorit yang bisa disediakan isteri Nabi hanya roti kering, segelas air putih, dan satu dua butir korma.

Di rumah beliau bahkan tidak terdapat satu meja makan pun, sehingga keluarganya harus rela menyantap hidangan makanan seadanya di atas hamparan lantai tanah rumah beliau. Tidak hanya itu, sejarah juga memberikan kesaksian bagaimana Nabi harus mengganjal perutnya dengan batu ketika tidak ditemui makanan di rumahanya.

Bukti-bukti sejarah itu sudah lebih dari cukup untuk hanya sekadar mengatakan bahwa secara praktis tasawuf telah ada semenjak masa Nabi. Pertanyaannya kini, bagaimana seorang Nabi teragung dan makhluk termulia itu mau menjalani kehidupan yang sedemikian berat? Apa gerangan yang menyebabkan beliau berani memutuskan untuk menjalani hidup seadanya?

Padahal, berdasar pengakuan beliau langsung dalam sebuah hadis, jika beliau mau, maka gunung Uhud akan dijadikan Allah menjadi gunung emas untuk Nabi. Tapi beliau tidak mau dan malah memilih kehidupan yang sangat jauh untuk dikatakan cukup apalagi mewah.

Tentulah ada sesuatu yang sangat istimewa yang sedang dinanti dan diharap Nabi. Dan, sesuatu itu pasti lebih nikmat dari segala jenis kenikmatan yang ada di dunia ini. Berdasar beberapa penuturan kisah dan potret sejarah, dapat diketahui sesuatu yang begitu memikat Nabi itu sehingga beliau berela hati memutuskan hidup sederhana adalah kecintaan yang mendalam kepada Allah.

Baca juga:  Luqman Al-Hakim, Orang Kulit Hitam yang Jadi Nama Surah dalam Alquran, Ini 5 Faktanya

Sederhana merupakan prinsip utama sikap asketisisme (zuhud), sedang kecintaan yang mendalam merupakan nama lain dari ajaran yang begitu populer di kalangan sufi bernama mahabbah. Zuhud dan mahabbah merupakan dua isu sentral komunitas sufi yang di antaranya melahirkan masing-masing tokoh utama Al-Hasan Al-Bashri dan Rabi‘atul-‘Adawiyah.

Di sini menjadi semakin jelas bahwa tampaknya rumit sekali untuk memutuskan mata rantai antara kehidupan Nabi dan kehidupan para sufi. Memang, sangat boleh jadi tasawuf dipengaruhi oleh kehidupan asketisisme Yunani kuno, kebiasaan para rahib, rohaniawan Nasrani, serta komunitas hawariyyun zaman Isa.

Namun bukankah juga ada contoh dan teladan dari Nabi beserta para sahabat yang lebih dekat dengan komunitas sufi ini. Tampaknya pun mereka tak banyak merasa perlu jauh-jauh merujuk ke masa-masa yang sudah tenggelam lama ditelan waktu.

Jika orang yang tidak mengenal tasawuf dalam menjalankan ritus-ritus ibadah hanya mementingkan pemenuhan syarat rukun agama semata-mata. Lain halnya dengan mereka yang telah mengenal tasawuf. Ada kenikmatan lain yang lebih tinggi yang hendak mereka kejar.

Untuk tujuan kenikmatan itu, kadang mereka “sedikit” mengabaikan pemenuhan syarat dan rukun ibadah itu. Bagi mereka, hati memegang peranan terpenting. Anggota badan luar tidak selamanya menjadi cerminan apa yang terjadi dalam hati.

Perbedaan sudut pandang inilah yang nantinya akan banyak membuat persinggungan antara para sufi dan ahli fikih. Karena masing-masing kelompok memang mempunyai orientasi yang berbeda. Yang satu lebih menekankan aspek batiniah, sedang yang lainnya lebih melihat bagaimana aspek lahiriah menjalankan perannya.

Mungkin karena beda orientasi, persepsi, dan kurang komunikasi, kedua kalangan yang masing-masing mewakili institusi hakikat dan syariat secara tak terelakkan terlibat konflik dan intrik berkepanjangan sepanjang sejarah peradaban kaum muslimin.

Sebagai kalangan yang menjuluki diri penjaga syariat, tentu saja apa yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap syariat, ahli fikih merasa perlu mencari cara efektif untuk menyelesaikan dengan segera permasalahan yang muncul, sehingga tidak menggangu jalannya roda syariat Islam di tengah-tengah kaum muslimin. Sayang, jika kemudian itu semua harus dilakukan dengan eksekusi mati, vonis kafir, pengasingan, dan pembakaran karya-karya.

Baca juga:  Ulama yang Didoakan "Hafizhahullah" dan "La'anahullah"

Besar kemungkinan kedekatan dengan pusat-pusat kekuasaan menyebabkan mereka kurang menimbang dengan matang dalam menjatuhkan hukuman atas sesuatu yang mereka kategorikan sebagai suatu pelanggaran terhadap syariat.

Karena tidak menutup kemungkinan keputusan itu dijatuhkan bukan semata-mata untuk menjaga otentisitas syariat. Bisa saja keputusan itu dilakukan lebih dilatarbelakangi motif kecemburuan sosial, mencari posisi, takut kehilangan jabatan, untuk keperluan popularitas, dan tujuan duniawi lainnya.

Mereka, misalnya, seharusnya tidak perlu melakukan hukuman gantung dan menyalib Al-Hallaj. Mereka pun tidak perlu membakar kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya Al-Ghazali. Upaya pengusiran beberapa sufi dari kampung halamannya dan memvonis banyak sekali sufi-sufi besar semisal Al-Junaid sebagai kafir, sesungguhnya bukan langkah bijak.

Dalam kasus Indonesia, mereka juga tak semestinya mengubur hidup-hidup Syeikh Siti Jenar. Tragedi untuk menghukum Hamzah Fansuri bukanlah satu-satunya langkah terbaik untuk menjaga bingkai syariat.

Bukankah ada cara terbaik yang dapat dijadikan teladan dalam mensikapi segala sesuatu dengan lebih baik seperti telah dicontohkan Al-Quran. Kisah pertemuan antara Khadir dan Musa di pulau persatuan (majma’ al-bahrain) tempat bertemunya dua arus utama (syariat dan hakikat) adalah sebuah teladan yang baik dalam menghadapi perbedaan orientasi.

Dalam kisah itu kita mendapati perbedaan pendapat dimenej sedemikian rupa, sehingga tak harus merusak hubungan yang terjalin antara keduanya. Meski tidak sependapat dan tak menemukan titik temu, namun akhirnya keduanya mengerti akan posisinya masing-masing. Keduanya tidak memvonis kafir yang lain. Tidak ada yang terluka, apalagi sampai ada darah yang diteteskan.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *