Sorotan Syar'i

Belajar Berkurban dan Berkorban dari Keluarga Nabi Ibrahim

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com ~ Berkurban menjadi pemandangan yang umum saat Idul Adha tiba. Tapi tahukah kamu awal mula pensyariatan kurban dalam ajaran Islam? Yups, pensyariatan kurban berawal dari peristiwa Ibrahim a.s. yang mendapat perintah dari Tuhan untuk menyembelih putra kesayangan Ismail a.s.

Setiap peristiwa pasti ada hikmah dan pesan yang dapat diambil darinya. Begitu juga halnya dengan peristiwa kurban ini, ada beberapa pesan dan hikmah yang dapat kita petik di balik perisitiwa tersebut. Mau tahu pesan apa saja yang ada dibalik peristiwa kurban? Yuk, simak 5 pesan di balik peristiwa kurban berikut ini:

1. Semangat Berbagi

Kamu pernah mendengar pepatah “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Artinya tangan yang memberi lebih baik daripada yang menerima. Nah, pepatah itu juga ternyata berlaku pada sosok Ibrahim a.s. yang gemar berbagi.

Kalangan manusia hingga malaikat saat itu pun sangat kagum dan salut melihat semangat berbagi dan berkurban Ibrahim a.s. Bagaimana tidak, Ia berkurban 1000 kambing, 300 sapi dan 100 unta di jalan Allah pada saat itu (Durratun Nashihin, 1994: 188). Hal inilah yang membuat orang-orang di sekelilingnya berdecak kagum hingga kalangan malaikat pun dibuatnya terheran-heran.

Oleh karenanya, berderma dan berbagilah sesuai dengan kadar kemampuan diri. Bisa dengan hartamu, ilmumu, pikiran atau idemu untuk menolong sesamamu. Sebab, hidup terasa indah dan bermakna manakala kita mampu berbagi dan menebar manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

2. Pesan Pengorbanan

Akhir dari drama penyembelihan Ismail a.s., Tuhan menyelamatkan nyawa Ismail dari pisau Ibrahim, sang ayah, dan kemudian digantikan dengan seekor kambing (kibas). Kisah penyembelihan Ismail inilah yang kemudian dijadikan rujukan disyariatkannya penyembelihan hewan kurban. Kemudian apa pesan di balik peristiwa tersebut?

Baca juga:  Kenapa Kau Tulis Namamu di Kulit Hewan Kurbanmu?

Pesannya adalah kita diperintahkan untuk berkurban, tetapi jangan sekali-kali mengorbankan nyawa orang. Justru nasib sesamanya yang harus kita bela dengan memberikan santunan dan bantuan berupa daging kambing, sapi, atau unta (harta benda) yang memang layak dikonsumsi oleh manusia untuk mempertahankan hidup yang bergizi.

3. Teguhnya Keikhlasan dan Ketulusan

Pesan apa lagi yang dapat kita petik dari peristiwa kurban? Yups, Pesan keikhlasan dan ketulusan. Pesan ini digambarkan oleh sosok Ibrahim, istrinya Hajar dan juga putranya Ismail a.s. Ketika iblis menggoda Ibrahim untuk menggagalkan usaha Ibrahim untuk menyembelih Ismail, tapi sayang, usaha Iblispun kandas dengan jawaban Ibrahim, “Aku tetap melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhanku untuk menyembelih anakku.”

Dirasa usahanya gagal, Lalu iblis pun menghampiri Hajar dan memprovokasinya dengan pertanyaan, “Bagaimana kamu begitu yakin membiarkan putramu pergi bersama Ibrahim padahal ia ingin menyembelihnya,” yang lantas dijawab oleh Hajar, “Seorang nabi tidak akan pernah diperintahkan berbuat batil oleh Tuhannya. Jika memang itu perintah dari-Nya, aku ikhlas melaksanakan dan memenuhi perintah-Nya.”

Pupus sudah usaha si iblis, akhirnya ia mencoba mendekati Ismail a.s., dan berkata, “Kamu terlihat begitu gembira sekali dapat bermain dengan ayahmu, sementara di tangannya ada seutas tali dan pisau. Ia menganggap bahwa Tuhannya telah memerintahkan untuk menyembelihmu.”

Lalu Ismail a.s. menjawab, “Jika itu benar perintah dari-Nya, kami dengar dan kami taati perintah Tuhanku tersebut.” Saat iblis ingin melanjutkan kata-katanya, buru-buru Ismail a.s. melemparkan batu ke arah iblis dan mengenai mata sebelah kirinya. Lalu iblis pun berlalu.

4. Kecintaan kepada Tuhan

Melalui peristiwa penyembelihan Ismail a.s. Sejatinya, kita diperingatkan Tuhan agar kecintaan kepada dunia jangan sampai mengalahkan atau bahkan melupakan cinta kepada Tuhan, Pemilik dunia dengan segala penghuninya.

Baca juga:  Ribakah Menukar Uang Pecahan ke Tukang Jasa Tukar di Pinggir Jalan?

Betapapun kita cinta terhadap harta benda yang dimiliki, perlu diingat bahwa hal itu hanyalah sebuah amanah atau titipan yang sewaktu-waktu Tuhan dapat mengambilnya. Begitu juga halnya dengan kecintaan kita kepada anak, istri dan keluarga. Kita harus tetap sadar dan realistis, bahwa segala yang dicintai pasti akan terpisahkan. Terpisahkan oleh maut atau kematian.

Janganlah kecintaan kita kepada anak menjadi berhala yang bersemayam di hati dan pikiran kita sehingga akan menutupi akal dan nurani untuk melihat kebenaran. Labih jauh lagi, jangan sampai kita lupa bahwa anak adalah rahmat dan amanat yang harus disyukuri dan dipertanggungjawabkan. Tugas kita adalah menjaga dan memelihara amanah Allah hingga kita dapat mengembalikan dan mempertanggungjawabkan di hadapan-Nya dengan keridhaan-Nya.

5. Ketaatan dan Kepatuhan

Ketaatan Ibrahim dan Ismail untuk berkurban justru menambah kecintaan Tuhan pada mereka sehingga Tuhan melipatgandakan keturunan yang unggul dan rezeki yang melimpah. Dari Ibrahim dan Sarah, lahirlah sekian banyak tokoh pemimpin umat, antara lain, Musa dan Isa. Sementara itu dari garis Hajar, lahirlah Muhammad saw.

Pelajaran pentingnya bahwa semakin kita taat pada perintah-perintah Tuhan, maka Tuhan akan semakin melimpahkan kasih-sayang-Nya yang terhingga bagi hamba-hamba-Nya patuh dan taat pada-Nya. Jika kita menginginkan cinta-kasih-Nya, maka tunduk dan taatlah pada-Nya. Maka segala yang dijalani akan terasa lebih bermakna sebab Tuhan selalu bersama kita.

Toni Pransiska

Toni Pransiska

Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini sedang menyelesaikan program doktor di kampus yang sama.
Toni Pransiska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *