Batik dalam Pusaran Arus Globalisasi

  • 11
  •  
  •  
  •  
    11
    Shares

DatDut.Com – Batik adalah kerajinan yang bernilai seni tinggi dan merupakan bagian dari elemen budaya Indonesia khususnya jawa.

Tradisi falsafah jawa yang banyak mengutamakan pengolahan jiwa melalui praktek-praktek mediasi dan mistik dalam mencapai kemuliaan adalah satu sumber utama penciptaan corak-corak batik tersebut, selain pengabdian sepenuhnya kepada kekuasaan raja, juga sebagai pengejawantahan kepada Yang Maha Kuasa di dunia.

Secara bahasa, kata batik itu sendiri berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam bahasa Inggrisnya “wax-resist dyeing”.

Pola, motif dan warna dalam batik, sarat akan makna simbolik. Ini disebabkan batik merupakan pakaian upacara, oleh karena itu harus dapat mencerminkan suasana upacara dan dapat menambah daya magis.

Karena itu diciptakanlah berbagai pola dan motif batik yang mempunyai simbolisme yang bisa mendukung atau menambah suasana religious dan magis dari upacara itu. Sehingga motif batik merupakan sebuah pesan nonverbal.

Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya.

Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, yakni permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.

Selain merupakan khas budaya Indonesia, batik merupakan komoditas bernilai tinggi, batik bukan saja merupakan produk sandang, namun juga simbol status sosial penggunanya.

Batik umumnya hanya digunakan oleh kaum berada seperti bangsawan atau saudagar kaya, termasuk dengan adanya beberapa corak batik tertentu yang hanya boleh digunakan oleh golongan kerajaan.

Namun kini batik bukan lagi monopoli kaum berada, di Indonesia, batik umum digunakan oleh orang dari berbagai kelas sosial, munculnya teknik cap membuat harga jual kain batik menjadi dapat dijangkau oleh kelas menengah di Indonesia. Dan kemudian teknik printing yang membuat harga batik menjadi lebih murah lagi dan dapat dijangkau oleh seluruh kalangan.

Baca juga:  Bila Jodoh Terhalang Restu Orangtua

Akan tetapi, dengan beredarnya batik dengan teknik cap atau printing, ini menjadi sebuah ironi, di satu sisi, harga produk batik yang dibuat dengan metode tersebut yang sangat murah membuat produk batik dapat dijangkau oleh seluruh kalangan di Indonesia.

Namun disisi lain, batik yang dibuat dengan metode demikian justru meminggirkan para pengrajin batik lokal yang masih bertahan dengan metode tulis, karena memiliki komparasi harga yang jauh lebih murah. Hal tersebut terjadi dikarenakan pengaruh arus globalisasi.

Globalisasi telah menjadi kekuatan besar yang membutuhkan respon yang tepat karena ia memaksa suatu strategi bertahan hidup dan strategi pengumpulan kekayaan bagi berbagai kelompok dan masyarakat.

Proses ini telah membawa pasar menjadi kekuatan dominan dalam pembentukan nilai-nilai baru dan perubahan karakter masyarakat modern dewasa ini.

Globalisasi yang berorientasi pada pasar mengakibatkan manusia memandang manusia lainnya bukan sebagai makhluk yang luhur tapi hanya melihat manusia berdasarkan kemampuan dan keterampilannya untuk mendatangkang keuntungan matiril baginya (dehumanisasi).

Inilah akibat kalau modernisasi ditafsirkan secara lahiriah saja yang mengutamakan pencapaian hidup enak. Manusia menjadi terpukau dan berorientasi pada nilai-nilai permukaan, bukan pada pencarian nilai-nilai yang lebih mendalam, yakni manusia itu sendiri.

Ini juga berimbas pada keberadaan batik. Batik tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang adi luhung dengan nilai-nilai filosofis. Karena tuntutan pasar, para pembuat batik tidak lagi menganggap penting segala ritual untuk mengiringi proses pembuatan batik.

Mareka mengambil jalan pintas dengan metode batik cap atau printing bahkan tanpa malu-malu menjiplak motif-motif yang sudah ada tanpa menghiraukan nilai ke’sakral’annya.

Baca juga:  Bolehkah Membawa Anak-anak ke Masjid?

Hal-hal tersebut membuat globalisasi menjadi seperti sebuah momok yang menakutkan bagi kelestarian warisan budaya bangsa Indonesia, sehingga saat ini, umumnya jika berbicara tentang lunturnya sebuah warisan budaya lokal, kerapkali kita merujuk globalisasi sebagai biangnya.

Globalisasi bukanlah suatu fenomena yang berjalan searah, dengan negara-negara berkembang yang menjadi korban pemaksaan terhadap konsumsi produk-produk negara maju. Globalisasi merupakan fenomena yang berjalan dua arah, dan titik beratnya bukanlah pada pertukaran produk, namun justru pada pertukaran ide.

Pesimisme kadang muncul dengan pernyataan bahawa batik buatan Indonesia (yang dibuat dengan metode tradisional) pasti akan tersingkir karena memiliki harga jual yang jauh lebih tinggi dari batik cap/printing, di mana pernyataan ini sendiri merupakan akibat dari dangkalnya pemahaman tentang batik itu sendiri.

Perlu diingat kembali bahwa batik bukan sekedar produk kain bermotif, batik lebih dari itu, batik merupakan sebuah filosofi, seni warisan leluhur bangsa indonesia.

Globalisasi telah membuat ide menjadi sebuah nilai universal yang dapat diadopsi oleh siapapun di dunia tanpa terbatas oleh jarak dan waktu. Dengan logika tersebut, maka yang sekarang perlu ditemukan jawabannya adalah bagaimana “memberikan ide” kepada dunia untuk mengapresiasi batik sebagai karya seni warisan leluhur bangsa Indonesia dengan segala macam keindahan di dalamnya.

Dengan terus memberikan “ide” kepada masyarakat dunia atau “global citizen” tentang batik sebagai mahakarya otentik Indonesia. Niscaya batik Indonesia di kancah Internasional akan diperlakukan seperti mobil buatan Jerman, jas buatan Italia, dan barang elektronik keluaran Jepang.

Komentar

Fakhri Fauzan Azhari

Fakhri Fauzan Azhari

Mahasiswa STAI Persis Bandung Jurusan komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakhri Fauzan Azhari

Latest posts by Fakhri Fauzan Azhari (see all)

  •  
    11
    Shares
  • 11
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *