Siapakah Bashar Assad Sebenarnya? Kenali 5 Fakta tentang Presiden di Balik Konflik Suriah Ini!

Ibnu Kharish

Ibnu Kharish

Mahasiswa Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pernah jadi santri di Pesantren Ilmu Hadis Darus-Sunnah Jakarta.
Ibnu Kharish

DatDut.Com – Konflik Suriah sejak tahun 2011 hingga saat ini tidak selesai-selesai menjadi pertanyaan banyak orang awam. Hari-hari ini juga Konflik Suriah kembali menyedot perhatian dunia, tak terkecuali Indonesia. Aleppo yang konon sebagai kawasan terakhir yang dijadikan sasaran kebrutalan rezim Assad.

Selama ini media-media Barat, bahkan beberapa media di Indonesia, memberitakan bahwa konflik di Suriah merupakan konflik antara Suni dan Syiah. Hal ini dibantah langsung oleh putra ulama ternama Suriah Syekh Ramadhan Al-Buthi, yaitu Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi.

Menurutnya, konflik Suriah adalah setting-an negara-negara Barat yang ingin menguasai Suriah (Baca: Ini 5 Fakta di Balik Konflik Suriah yang Tak Berkesudahan). Dan, hingga saat ini Bashar Assad belum juga tumbang dari tampuk kekuasaannya, berbeda dengan pemimpin-pemimpin negara Timur Tengah lainnya yang sudah hengkang sejak awal-awal adanya Arab Spring. Siapakah sebenarnya Bashar Assad? Baca 5 fakta ini:

1. Julukan Assad

Kakek Bashar merupakan penduduk daerah Qerdaha, Suriah. Kakeknya bernama Ali bin Sulaiman. Keluarga Sulaiman bukanlah berasal dari keluarga bangsawan.

Baca juga:  Ini 5 Fakta Menarik tentang Pendekar Aswaja, Ustaz Idrus Ramli

Keluarga Sulaiman terkenal sebagai keluarga termiskin di kota Qerdaha tersebut. Karena kemiskinannya tersebut, masyarakat sekitar menjuluki keluarga mereka dengan al-wahsy; ‘liar’, karena tidak memiliki tempat tinggal yang jelas.

Julukan Assad, yang berarti singa pemberani, didapatkan dari masyarakat saat Sulaiman menjadi tentara perang yang melawan agresi Turki ke kota tempat mereka tinggal. Dari sinilah, keluarga mereka mendapat julukan Assad hingga kini.

2. Seorang Dokter

Bashar Assad mengenyam pendidikan dokter di salah satu universitas tertua dan bergengsi di Suriah, Damascus University. Ia lahir pada 11 September 1965 di Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Putra Hafiz Assad ini, merampungkan studinya di kedokteran Damascus University pada tahun 1988. Setelah lulus, Bashar mengabdikan ilmunya untuk masyarakat Suriah di Teshrin Hospital. Pada tahun 1992, Bashar mendapatkan kesempatan kuliah pada jurusan spesialis mata.

3. Bashar Assad Dijodohkan

Asma Fawaz Akhras adalah nama lengkap istri Bashar Assad. Dia lahir di kota Homs, Suriah, pada 17 Agustus 1975. Ayah Asma merupakan dokter spesialis jantung yang sudah lama berkarir di London.

Wanita yang akrab disapa Eima oleh teman-temannya di London ini, merupakan mahasiswi jurusan Ilmu Komputer pada King’s College London, yang merupakan cabang dari London University. Kebetulan, saat Assad mengambil spesialis di London, bertugas dalam satu rumah sakit dengan ayah Asma. Pada 18 Desember tahun 2000, Eima resmi menikah dengan Assad.

Baca juga:  Gus-gus Nyentrik, Unik, Kontroversial, Banyak Dipuja, tapi Juga Banyak Dikecam

4. Menggantikan Jabatan Ayahnya Melalui Pemilihan

Ayah Bashar Assad, Hafiz Assad, menjabat Presiden Suriah selama 29 tahun. Sebelumnya, Hafiz Assad pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan Suriah, dan pernah juga menjabat sebagai Perdana Menteri Suriah.

Pada tahun 1971, Hafiz Assad terpilih sebagai presiden Suriah melalui sebuah referendum, menggantikan Salah Jadid, anggota partai Baath dari kalangan militer.

Hafiz Assad menjabat sebagai presiden Suriah hingga wafatnya pada tahun 6 Juni 2000. Sebulan kemudian, Bashar terpilih menjadi presiden Suriah menggantikan ayahnya.

5. Syiah Alawi

Keluarga Bashar Assad memang berasal dari kalangan Syiah Alawiyah atau Nushairiyah. Namun secara politik, keluarga Assad berafiliasi dengan Partai Sosialis Suriah, Partai Baath.

Semenjak ayah Bashar Assad menjabat sebagai presiden, isu-isu Syiah-Suni dihembuskan kembali oleh para pemberontak yang tidak ingin kalangan Syiah Alawi memiliki kedudukan penting di pemerintahan.

Menurut data yang dikumpulkan Hinnebusch dalam bukunya Syiria: Revolution from Above, sebagaimana dikutip dari Dina Sulaeman, saat pertama kali Bashar Assad memimpin Suriah sebagai presiden, tidak semua kalangan pemerintah berasal dari Syiah Alawi.

Para pemimpin militer 43% Suni dan 37% Alawi, komposisi menteri 58% Suni dan 20 % Alawi, sisanya diisi oleh Druze, Ismaili, dan Kristen.

 

Komentar