Baru Lahir, Desain Baru Uang Rupiah NKRI Disambut Hoax, Bully dan Provokasi, Ini di Antaranya…

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Kalau kemarin bom panci presto dinyinyiri sebagai pengalihan isu dan disepelekan bahayanya, kini giliran uang NKRI emisi 2016 yang jadi sasaran. Desain dan teknologi pengamanan baru pada uang ini dibully dengan berbagai komentar dan hoax. Bahkan sebagian sudah menyebarkan provokasi.

Mulai dari desain, gambar pahlawan yang ditampilkan, hingga perusahaan atau pabrik yang mencetaknya. Semua kena sasaran berita palsu ataupun pemelintiran. Mirisnya, hoax itu begitu masif tersebar tanpa mau menerima klarifikasi apalagi mempercayai jawaban pihak terkait.

Secara garis besar pangkal berita bohong dan pemelintiran fakta terkait uang NKRI terbaru ini bersumber dari sikap anti-China dan komunis yang kebablasan. Sayangnya, sikap itu diikuti dengan memvonis bahwa pemerintahan presiden terpilih saat ini adalah antek China.

Bahkan hoax bahwa Jokowi adalah keturunan Tionghoa pun tampaknya masih dipegang kuat oleh sebagian orang. Terkait uang NKRI terbaru, berikut ini beberapa hoax dan provokasi yang berkembang secara viral.

[nextpage title=”Desain Mirip Yuan China?”]

Desain Mirip Yuan China?

Banyak sekali nitizen khususnya pengguna medsos yang mengunggah gambar uang baru dengan caption atau pengantar yang menyiratkan tuduhan. Misalnya uang NKRI disejajarkan gambar uang Yuan. Ada pula yang mengunggah gambar perbandingan dua mata uang, Rupiah dan Yuan tanpa pengantar. Namun para komentatorlah yang bersuara.

Membantah isu ini, sebuah gambar yang diunggah oleh DetikNews layak dijadikan acuan karena memuat empat mata uang di dunia yang memiliki kemiripan. Gambar grafis tersebut membandingakan antara uang NKRI emisi 2016, Yuan China, Euro Uni Eropa, dan Riyal Arab Saudi.

Kesimpulannya, uang NKRI lebih mirip Euro uang Uni Eropa ketimbang Yuan China. Ini dari sisi pewarnaan saja. Sedangkan desainnya, uang NKRI tetap berbeda dari mata uang manapun, bahkan memiliki ciri khas yang tak dimiliki 3 mata uang lainnya.

Jika Yuan China hanya menampilkan gambar Mao Zedong dalam semua pecahannya, maka uang NKRI jauh lebih bervariasi dengan 11 gambar pahlawan yang berbeda di tiap jenis pecahannya. Belum lagi dengan gambar belakang yang memuat berbagai seni budaya Indonesia.

Justru yang mirip Yuan dalam hal menampilkan sedikit tokoh adalah uang Riyal Saudi yang hanya menampilkan gambar para anggota kerajaan. Demikian juga Euro yang minim variasi gambar.

[nextpage title=”Logo PKI”]

Logo PKI

Isu logo BI sebagai mirip logo PKI yang disisipkan dalam uang NKRI terus dihembuskan sejak November, ketika Pecahan 100 ribu berganti desain logo. Apalagi memang sebagian orang dari awal sudah menuduh pemerintah sebagai pro komunis dan pro China. Jadi, apa pun yang berbau komunis dan China mereka jadikan bahan menambah kebencian.

Sebuah FP plesetan, Metro Tivu , mengunggah gambar “analisis” terhadap logo BI yang hanya tampak seperti logo palu arit khas PKI. Postingan pada 19 Desember sekitar pukul 20:21 tersebut segera viral hingga 7.436 kali dibagikan, mendapat 2,3 ribu tanggapan, dan dikomentari hingga 659 kali.

Faktanya, logo yang diributkan tersebut adalah rectoverso, suatu teknik cetak khusus pada uang kertas yang mana pada posisi yang sama dan saling membelakangi di bagian depan dan bagian belakang uang kertas terdapat suatu ornamen khusus seperti gambar tidak beraturan. Disebut juga gambar saling isi.

Pada uang NKRI gambar rectoverso jika diterawang akan menampilkan logo BI (Bank Indonesia). Seperti dilansir Okezone.com, penggunaan teknik tersebut menurut Direktur BI telah lama digunakan, yaitu pada uang pecahan Rp2.000 sejak tahun 2009, dan pada pecahan Rp500 sejak tahun 2001. Klarifikasi ini sebenarnya telah diberitakan sejak November 2016.

Baca juga:  Sosok Gus Ishom dalam Pandangan Syafiq Hasyim

[nextpage title=”Pahlawan Kafir”]

Pahlawan Kafir

Uang baru yang mengangkat 11 pahlawan nasional rupanya juga tak kurang celah untuk dihantam komentar negatif dan SARA. Komentar berbau SARA salah satunya terlontar dari akun bernama Dwi Estiningsih. Ia melontarkan cuitan dalam akun twiternya, “Luar Biasa Negeri yang mayoritas Islam ini, dan ratusan pahlawan, terpilih 5 dari 11 pahlawan adalah kafir.

Cuitan itu mengundang respons dari akun resmi TNI AU yang membalas dengan mengatakan, “Maaf mbak, Pahlawan TNI AU salah satunya Agustinus Adisucipto tidak memikirkan AGAMA saat berjuang untuk NKRI. Apa yang sudah Anda lakukan untuk NKRI?

Tak hanya mengundang balasan, ungkapan tersebut ditanggapi serius sebagian kalangan. Akun Dir-PPNI 1948 melontarkan komentar, “Maaf, ada yang tau ini siapa? Kami mau perkarakan krn seenaknya menancapkan kata “kafir” pada pahlawan kemerdekaan non muslim.

Tak hanya dari PPNI, Birgaldo Sinaga, salah satu aktivis BARA JP (Barisan Relawan Jokowi Presiden) yang kini juga menjadi relawan pendukung Ahok, melayangkan undangan umum di akun FB-nya kepada media. Ia akan memperkarakan pernyataan Dwi Estianingsih.

Sementara itu, FP Metro Tivu selain mengunggah foto uang pecahan terbaru, juga melengkapinya dengan komentar dan status panjang berisi pendapat seseorang yang dikatakan sebagai pengamat politik senior bernama Rahman Sabon. Komentar Rahman juga dimuat di situs Repelita.com.

Intinya, Rahman Sabon mempertanyakan kelayakan dan kepahlawanan 5 pahlawan dalam uang NKRI serta membandingkannya dengan pahlawan lain yang menurutnya lebih layak.

Pahlawan nasional yang ia soroti adalah Cut Meutia (pecahan Rp1.000), Frans Kaisepo (pecahan Rp10.000), TB. Simatupang (Rp500), KH. Idham Khalid (pecahan Rp5.000), Husni Thamrin (pecahan Rp2.000), dan I Gusti Ketut Pudja (pecahan uang logam Rp1.000).

Faktanya, keenam pahlawan yang ia ragukan tersebut juga tak kalah jasanya terhadap NKRI. Beberapa di antaranya baru mendapat gelar pahlawan belum lama ini. Pantas saja tidak terdapat di buku sejarah lama.

Lebih lengkapnya profil enam pahlawan yang dipertanyakan tersebut, Anda bisa baca di Wikipedia. Sedangkan sisi kelayakan dan lebih pantas mana antara dua pahlawan, tentu pandangan orang akan berbeda-beda. Pemerintah dan Bank Indonesia tentu juga punya dasar kuat untuk memilih diantara sekian pahlawan.

[nextpage title=”Cut Nyak Meutia Tidak Berjilbab”]

Cut Nyak Meutia Tidak Berjilbab

Sebuah pesan provokatif diunggah oleh FP Serambi mekah. FP ini menyoroti gambar Cut Nyak Meutia yang tampil tanpa jilbab. Mungkin dalam asumsinya, karena Aceh sebagai daerah yang masyarakatnya kuat memeluk ajaran Islam, mestinya Cut Meutia berjilbab.

Status ini diamini ribuan orang dengan menyebarkannya hingga 9.877 kali. Status itu sendiri mengundang komentar orang banyak hingga seribu lebih. Ada yang mendukung lalu memaki-maki pemerintah, ada juga yang mencoba mengklarifikasi namun tenggelam pula dalam caci maki.

Faktanya, seorang blogger yang tergabung dalam Aceh Blogger Community memuat penjelasan panjang tentang jilbab yang seharusnya dipakai oleh pahlawan pada foto tersebut.

Pertama, menurut Usman Blangjruen dalam blognya, tidak ada foto asli dari sosok Cut Nyak Meutia. Yang beredar adalah lukisan wajah cucunya, Cut Nursiah. Hal itu karena Cut Nursiah diakui memiliki paras cantik dan sangat mirip dengan Cut Nyak Meutia, lalu ia dijadikan model untuk menggambarkan wajah Cut Nyak Meutia. Fakta ini ia dapati saat berkunjung ke rumah Cut Meutia yang kini menjadi cagar budaya, dan diungkapkan oleh salah satu keluarga yang bertugas menjaganya.

Baca juga:  Ini 5 Komentar Antropolog terkait Fenomena Orang Arab Agungkan Barat Secara Berlebihan

Kedua, soal jilbab, menurut Usman jilbab yang menutupi seluruh kepala seperti yang dikenal sekarang belumlah ada pada zaman dulu. Jilbab seperti itu mulai dipakai oleh perempuan di kawasan Blangjruen termasuk daerah asal Cut Meutia, Pirak Matangkuli Aceh Utara baru pada tahun 90-an.

Aceh memang kuat Islamnya, semua orang tahu itu, dan setuju tanpa debat. Tapi kalau soal hijab para pendahulu kami dijadikan patokan untuk itu, akan bermasalah besar. Termasuk nenek saya dulu, yang merupakan istri seorang kiai sepuh, juga hanya berselendang jika pergi kemana-mana,” pungkasnya.

[nextpage title=”Dicetak Perusahaan Milik Tionghoa, Bukan Oleh PERURI?”]

Dicetak Perusahaan Milik Tionghoa, Bukan Oleh PERURI?

Pencetakan uang NKRI emisi 2016 pun tak luput dari fitnah. Salah satunya diunggah oleh akun Sri Meriati yang mengambil screenshot dari akun Fitri Dewi. Kalaupun nanti dihapus, Anda bisa lihat screenshot postingannya di sini.

Dalam status Fitria Dewi, foto uang dan sosok pengusaha Jacobus Busoni diberi komentar bernada tuduhan. Menurutnya pencetakan uang NKRI emisi 2016 bukan oleh PERURI tapi oleh perusahaan swasta, PT. Pura Barutama di Kudus, yang milik seorang pengusaha tionghoa, Jacobus Busoni.

Sementara akun Sri Meriati yang memiliki 7 ribuan pengikut ini menambahkan komentar, “Wuuiiiiihh ,,,betulkah ?? parah kalo sudah begini ,,, utang dari cina hak cetak uang juga milik cina ??” Status Sri Meriati telah viral sebanyak 6.135 kali, tanggapan 628, dan 172 komentar.

Faktanya, PT. Pura Barutama bukanlah pencetak uang NKRI emisi 2016. Perusahaan ini hanya memproduksi kertas untuk bahan baku uang. Sementara yang mencetak tetap PERURI. Ini terbukti dengan cap PERURI yang tetap tertera di uang NKRI. Silakan cek sendiri.

Fakta lainnya, sebagaimana dilansir Hukumonline.com, perusahaan semacam PT. Pura Barutama hanyalah penyedia kertas untuk bahan baku uang melalui tender. Sementara itu, seperti dilansir AntaraNews, sosok Jacobus Busono adalah pengusaha yang telah meraih berbagai penghargaan internasional karena berbagai produk inovasinya dalam teknologi keamanan kertas.

Seperti pembuatan kertas sekuriti dan kertas uang, sistem anti pemalsuan terpadu, smart card, converting, dan engineering yang terpadu. Bukan hanya untuk PERURI, PT. Pura Barutama telah memproduksi kertas bahan baku uang untuk Vietnam, Sudan, Nepal, India.

Jadi, PT. Pura Barutama hanya pemenang tender untuk bahan baku kertas uang, bukan percetakan uang. Pemilihan perusahaan penyedia bahan baku pun melalui tender dan pertimbangan teknologi keamanan uang kertas, bukan keterkaitan dengan utang negara. Bukan hanya untuk nasional tapi produksi kertas bahan uang PT. Pura Barutama telah go internasional.

Itulah hoax dan hasutan/provokasi yang menyambut peluncuran uang NKRI emisi 2016. Semoga kita kian cerdas dan bijak menggunakan medsos.

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Post Author: Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *