Bahayanya Ngaji di Youtube

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut,Com – Banyaknya pengguna youtube mungkin tak perlu dipertanyakan lagi. Dari yang mencari tontonan berbikini sampai yang mau dengar kajian rohani semua bakal buka youtube.

Apalagi di kalangan perkotaan yang sibuk. Kecanggihan dan segala teknologi internet terbaru maki memudahkan mereka mengakses video apa saja dari youtube di tengah kesibukan yang makin menjadi.

Karena keberagaman tontonan yang disajikan, penikmat youtube bahkan dapat menyaingi pemirsa acara televisi yang konon acaranya makin nyeleneh setiap harinya. Padahal yang ada di youtube pun belum tentu sebagus yang dikira.

Terlepas dari segala genre tontonan yang ada, konten ceramah alias kajian agama juga amat digandrungi para penonton youtube.

Kanal yang rutin mengunggah video kajian ustadz-ustadz pun memiliki ratusan ribu hingga jutaan subscriber.

Mungkin banyak yang berpikir bahwa mendengar kajian di youtube lebih baik daripada menonton vlog artis sinetron. Nggak salah, sih. Asal video kajian yang ditonton berfaedah tentu pernyataan tadi dapat dibenarkan.

Loh, memangnya ada video kajian yang nggak berfaedah?

Secara kasatmata, menonton video kajian keislaman di youtube tentu bermanfaat.

Selain hemat waktu karena tidak perlu pergi ke tempat kajian, para penonton pasti juga mendapat banyak pencerahan dari sana. Kalau videonya mencerahkan dan nggak embahayakan.

Lagi-lagi timbul pertanyaan, memangnya ada tontonan kajian yang menggelapkan? Apa ada kajian yang membahayakan?

Baca juga:  Protes Keras Netizen soal Kriminalisasi Beras Maknyus dan Ayam Jago

Ini bukan soal resolusi kamera atau pencahayaan ruangan karena saya sendiri bukan videografer yang paham begituan. Tapi dari sisi nilai yang kita dapat setelah menonton video kajian tersebut.

Jika video yang kita tonton menayangkan kajian dengan tema tertentu yang kita inginkan, pasti sangat bermanfaat kan? Bagaimana kalau videonya sudah dipotong, apa masih sepenuhnya bermanfaat?

Kadang sepatah dua patah kata saja sudah bisa menjelaskan sesuatu. Namun, sebagai pendengar jarak jauh, kita belum tentu bisa memahami hal yang sama dengan penonton siaran langsung yang mendengarkan secara utuh.

Potong dan tempel video bukanlah hal baru bagi kita. Sudah pernah terjadi kasus besar di negara ini hanya karena ulah penggunting video yang tak perlu diperinci lagi kisahnya.

Selain itu, bukan tidak ada pula pelaku yang menggunting dan menempel video sesuka hatinya. Bahkan ada yang membandingkan pendapat dua dai yang berbeda entah dalam rangka apa. Kalau sudah begini bukannya jadi nggak berfaedah videonya?

Pendapat Ustadz A yang berlatar belakang A sangat mungkin berbeda dengan Ustadz B yang latar belakangnya beda. Perbedaannya pun biasanya memang perkara khilafiyah yang masing-masing ulama punya pegangan yang jelas.

Kemudian orang yang kurang kerjaan menyandingkan dua cuplikan tadi hingga para warganet geger membela ustadz idola masing-masing. Saling menghujat ustadz yang bukan dari golongannya di media sosial kayak udah lebih oke dari yang dihujat.

Baca juga:  Cerdaslah Menyikapi Berita di Media Sosial Jelang Pilkada! Ini 5 Polanya

Video yang begini kebanyakan memang menarget kalangan yang belum pernah memiliki lingkaran kajian keislaman yang jelas. Pangsanya jelas, orang-orang kota dan anak muda yang baru hijrah.

Pengunggah video macam ini memang perlu diwaspadai. Kalau memang kita mau mendengarkan kajian dari Ustadz A, ya nggak perlu juga mengomentari kajian Ustadz B yang agak berbada isinya.

Sudah nggak nonton video yang campur-campur nggak pakai es, eh besoknya menyebarkan video ustadz ini dan bilang orang itu salah, bidah. Heleh…

Meskipun zaman sudah digital dan serba mudah, kita jangan dengan mudah menelan apa yang kita dapat dari gawai. Budaya kritis dan melakukan check and recheck tetap harus dilakukan.

Kalau dengerin kajian lewat youtube cuma menambah kemampuan menghujat, mending nonton video orang ngeprank aja sekalian. Daripada nonton video editan yang cuma membahayakan persatuan umat, hayo?

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Yasmin Azzuhri

Mahasiswa Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Yasmin Azzuhri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close