Ambil yang Baik, Buang yang Tak Baik

0 0
  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 111

Waktu Baca1 Menit, 0 Detik

DatDut.Com – Dalam pertarungan yang keras, kalau tak memukul ya dipukul. Dalam pertempuran juga begitu. Kalau tak menyerang ya diserang. Bahkan dalam peperangan, kalau tak membunuh ya dibunuh.

Selama 6 tahun meneliti fenomena cyber Islam, saya menemukan bahwa di medsos itu tak ada diskusi atau debat ilmiah.

Yang ada justru diskusi atau debat unjuk eksistensi. Maka, permintaan diskusi atau debat ilmiah di medsos itu tanda ybs rapuh argumennya dan cenderung sudah kalah.

Kalau beneran mau debat ilmiah, ya harus ketemu langsung. Disepakati teknik debat dan konsekuensinya. Termasuk fokus debat dan literatur yang diacu.

Baca juga:  Kapan Kita Meributkan Sesuatu yang Memajukan Umat?

Di medsos bahkan yang gak ngerti persoalan bisa membully yang paham bahkan pakarnya sekalipun. Awam bisa membantah yang alim. Yang penting modal galak dan pede berlebih.

Di sinilah kita butuh ketegasan dan pengetahuan siapa yang dihadapi. Yang pantas dilayani, layanilah. Yang tak pantas, ya tak perlu dilayani. Kapan perlu halus dan kapan perlu keras.

Dalam konteks pro-kontra dalam suatu masalah, saya selalu ingat nasihat K.H. Mansur Kholil, abahnya Gus Qoyyum Lasem, kepada saya setiap melihat pro-kontra: “Khudz ma shafa wa da’ ma kadar” (ambil yang baik dan buang yang tidak baik).

Semoga kita selalu bisa mengambil yang baik dan bisa meninggalkan yang tidak baik.

Baca juga:  Ini Makna "Khilafah" dalam Al-Qur'an dan Hadis
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *