Alquran, Alam Semesta, dan Big Bang

  • 4
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

DatDut.Com – Yang dimaksud alam semesta adalah segala sesuatu yang ada, dari benda terkecil tak terkecuali atom sampai yang paling besar dan komplek. Dan, tidak ada seorang pun yang tahu seberapa besar alam semesta ini. Alam semesta ini fana. Ada penciptaan, proses dari ketiadaan menjadi ada, dan akhirnya hancur.

Berlangsung pula ribuan, bahkan jutaan proses fisika, kimia, biologi dan proses-proses lain yang tak diketahui.

Kehebatan, kemegahan, keindahan, keserasian, dan kecanggihan sebuah sistem di alam semesta ini sangat tertata dan serasi. Pertanyaannya, apakah sistem yang demikian serasi terjadi dengan sendirinya tanpa ada campur “tangan” dari Yang Maha Pencipta?

Asal mula alam semesta digambarkan dalam Alquran pada ayat berikut:

Dialah pencipta langit dan bumi,” (QS Al-An‘am [6]: 101).

Keterangan yang diberikan Alquran ini sangat sesuai dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap.

Teori yang tersebar luas di kalangan masyarakat tentang proses penciptaan jagat raya ini adalah teori dentuman besar (teori big bang). Sebuah teori yang menyatakan bahwa jagat raya ini, ada dan berkembang setelah ledakan besar yang terjadi sekitar 10 sampai 20 milyar tahun yang lalu.

Awal mulanya, jagat raya berbentuk bola gas yang padat dan panas. Elemennya terdiri dari gas yang panas, kemudian dingin setelah kurang lebih 1 juta tahun. Menurut sebuah pernyataan, awal mulanya  gas tersebut memadat dan itulah cikal bakal galaksi.

Setelah beberapa milyar tahun, jagat raya ini masih terus berkembang, meskipun ada partikel yang membuat satu sama lain saling menempel dengan sebab gravitasi seperti sebuah rangkaian galaksi yang tersusun rapi.

Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, telah diinformasikan dalam Alquran 1.400-an tahun lalu.

Baca juga:  Ini 5 Hadis Motivasi Hafal Alquran, Salah Satunya Bisa Jadi Mahar!

Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.

Sebelumnya, para ilmuwan juga belum tahu apakah jagat raya ini berhenti mengembang dan mulai menyusut. Atau, masih terus berkembang sampai tidak ada batasnya. Hanya Allah Swt. yang tahu akan hal ini. Dalam Alquran pengembangan alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:

Langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Kami benar-benar meluaskannya,” (QS Adz-Dzariyat [51]: 47).

Kata langit pada ayat ini juga di banyak tempat lain dalam Alquran bermakna ‘luar angkasa dan alam semesta’. Dengan kata lain, dalam Alquran dikatakan bahwa alam semesta “mengalami perluasan atau mengembang”. Inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

Padahal hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan.

Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

Fakta ini juga dibuktikan dari pengamatan langit pada 1929 dengan teleskop oleh Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.

Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus “mengembang”. Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang.

Struktur dan luas alam semesta sangat sukar dibayangkan. Manusia memerlukan waktu berabad-abad untuk memahaminya. Gambaran mengenai pemandangan alam semesta pun beragam.

Dulu alam semesta digambarkan sebagai ruang berukuran jauh lebih kecil dari realitas seharusnya. Pada abad ke-3 melalui Eratosthenes baru diketahui ukuran diameter Bumi (12.500 km). Jarak ke bulan (384.400 km) baru diketahui abad ke-16 oleh Tycho Brahe pada 1588. Jarak ke Matahari (sekitar 150 juta km) baru diketahui abad ke-17 oleh Cassini pada 1672. Jarak bintang baru diketahui oleh Cygni pada abad ke-19.

Baca juga:  Demi Muliakan Alquran, Hindari Tulis Ayat dalam 5 Tempat Ini

Jarak ke pusat galaksi baru diketahui pada abad ke-20 oleh Shapley, pada 1918. Jarak ke galaksi-luar baru diketahui pada 1929. Teori Quasar dan Big Bang baru diketahui pada 1965. Perjalanan panjang ini terus berlanjut antargenerasi.

Manusia bisa mencapai batas-batas pengetahuan alam semesta yang luas, mengenal ciptaan Allah yang tidak pernah dikenali di muka bumi, seperti Black Hole, bintang Netron, Pulsar, bintang mati, ledakan bintang Nova atau Supernova, ledakan inti galaksi dan sebagainya. Akan tetapi, berbagai fenomena yang sangat dahsyat itu tak mungkin didekatkan dengan mahluk hidup yang rentan terhadap kerusakan.

Pengetahuan tentang luas alam semesta dibatasi oleh keberadaan objek berdaya besar, seperti Quasar atau inti galaksi, sebagai penuntun tepi alam semesta yang bisa diamati; selain itu juga dibatasi oleh kecepatan cahaya dan usia alam semesta (15 miliar tahun).

Itulah sebabnya ruang alam semesta yang pernah diamati manusia berdimensi 15-20 miliar tahun cahaya. Namun, banyak benda langit yang tak memancarkan cahaya dan tak bisa dideteksi keberadaannya, protoplanet misalnya.

Menurut taksiran, sekitar 90% objek di alam semesta belum atau tak akan terdeteksi secara langsung. Keberadaannya objek gelap ini diyakini karena secara dinamika mengganggu orbit objek-objek yang teramati, lewat gravitasi.

Sampai di batas mana manusia bisa membayangkan dan menjangkaunya? Bagaimana kondisi awal, bagaimana kondisi sebelumnya, bagaimana kondisi 5 miliar tahun ke depan, bagaimana kondisi 50 miliar tahun ke depan dan seterusnya? Kita kembali kepada Allah untuk mencari jawaban-Nya, karena Dia Maha Mengetahui atas segala ciptaan-Nya.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    4
    Shares
  • 4
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close