Allah Bersemayam di Langit dan Arsy! Yuk Cari Tahu dari Hadis Mengenai Hal Ini

0 0
  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 468

Waktu Baca5 Menit, 27 Detik

DatDut.Com – Pertentangan antar ayat Alquran sudah jelas terjadi jika memahami ayat-ayat istiwa’ dengan makna lahir tanpa takwil. Memilih arti dari istawa’ dengan menetapkan bersemayam, bertempat, atau duduk, berarti telah mengabaikan makna lain seperti menguasai, menuju untuk melakukan, dan telah mensifati Allah Swt. seperti makhluknya.

Belum cukup dengan dalil ayat Alquran, keyakinan bahwa Allah Swt. berada di langit juga diperkuat menggunakan hadis-hadis berikut ini, yang menegaskan bahwa Allah Swt. di langit. Silakan pertimbangkan juga hadis yang bertentangan dengannya. Ingat, kalau memakai makna lahir, semua juga dimaknai seperti itu. Jangan satu di takwil yang satu dipahami apa adanya.

1. Hadis Dalil Allah di Langit

Selain mengambil landasan dari ayat-ayat tentang istiwa’, malaikat memikul arsy, naiknya amal baik dan diangkatnya Nabi Isa a.s., keyakinan bahwa Allah Swt di langit atau bersemayam dia tas arsy juga mengambil landasan hadis-hadis berikut ini.

Dari Abu Hurairah Ra,; dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka mendapati satu majelis zikir, maka malaikat itu akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia.  Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit.

Lalu Allah Swt, bertanya, … (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadis ini Rasulullah menyebutkan, ketika malaikat naik ke langit mereka lalu ditanya oleh Allah. Ini berarti Allah ada di langit.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل …

Dari Abu Hurairah r.a.; Rasulullah Saw. bersabda, “Rabb kita tabaaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir…” (HR. Muslim, 1/384).

Kata yanzilu yang berarti turun, menunjukkan bahwa Allah ada diatas.

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم * والذي نفسي بيده ما من رجل يدعو امرأته إلى فراشها فتأبي عليه إلا كان الذي في السماء ساخطا عليها حتى يرضى عنها

Baca juga:  Tarawih di Maroko 19 Rakaat, Lho! Masih Ngotot Merasa Paling Benar Dalilnya?!

Dari Abu Hurairah Ra.; Rasulullah Saw. bersabda, “Demi dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya ke ranjang (untuk berhubungan suami-istri), sedangkan istrinya itu enggan, melainkan yang ada di langit murka kepadanya sampai suaminya memaafkannya,” (HR. Muslim, 2/1060).

Alladzi fissama’ diartikan sebagai ‘Tuhan yang ada di langit’.

…فقال لها أين الله ؟ قالت في السماء قال من أنا ؟ قالت أنت رسول الله قال أعتقها فإنها مؤمنة

“… lalu Rasulullah bertanya pada budak itu, ‘Dimanakah Allah?’, ia menjawab, ‘di langit.’ Rasul bertanya, ‘Siapakah aku?’ ia menjawab, ‘Engkau adalah utusan Allah.’ Rasulullah lalu bersabda, ‘Merdekakanlah dia, karena ia seorang beriman,” (HR. Muslim, 1/381).

Dan masih banyak hadis lain yang diklaim sebagai dalil bahwa Allah di langit. Meskipun akhirnya pertanyaan semakin mengembang dengan di langit keberapa? Ketika turun ke langit dunia apakah lalu Allah mengecil dst.

[nextpage title=”2. Hadis-hadis Allah Tidak di Langit”]

2. Hadis-hadis Allah Tidak di Langit

Hadis tentang jariyah atau budak perempuan dalam hadis Muslim pada poin kedua di atas, ternyata memiliki versi lain dalam riwayat Imam Malik dalam al-Muwaththa’,  no. 2876:

فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْهَدِينَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَتَشْهَدِينَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَتُوقِنِينَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ قَالَتْ نَعَمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتِقْهَا

“Rasulullah bertanya kepada budak itu, ‘Apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah?’ Ia menjawab, ‘Benar.’ Rasulullah bertanya, ‘Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Rasulullah bertanya, ‘Apakah kamu meyakini hari dibangkitkan setelah kematian?’ Ia menjawah, ‘Iya.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Merdekakanlah dia.’

Pada riwayat Ahmad, Bazzar dan Thabrani dalam al-Awsath kisah tersebut juga diriwayatkan dengan redaksi berbeda. Dalam riwayat mereka, si budak ketika ditanya “Ddi manakah Allah” menjawab dengan isyarat tangan ke atas. Kesimpangsiuran redaksi hadis tersebut adalah satu sisi kelemahan bila akan dijadikan hujjah.

Tetapi, kalaupun hadis tersebut dibuat hujjah untuk meyakini bahwa Allah bertempat, maka tetap akan bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat berikut ini:

عن حميد عن أنس  : أن النبي صلى الله عليه و سلم رأى نخامة في القبلة فشق ذلك عليه حتى رئي في وجهه فقام فحكه بيده فقال ( إن أحدكم إذا قام في صلاته فإنه يناجي ربه أو إن ربه بينه وبين القبلة فلا يبزقن أحدكم قبل قبلته ولكن عن يساره أو تحت قدميه ) . ثم أخذ طرف ردائه فبصق فيه ثم رد بعضه على بعض فقال أو يفعل هكذا

Baca juga:  Jangan Monopoli Sifat Salat Nabi! Riwayatnya Tidak Cuma Satu

“Nabi Saw. melihat ada dahak di arah kiblat, beliau terlihat tidak suka, lalu beliau menggosoknya dan bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu antara kalian ketika beridiri dalam shalat, maka sesungguhnya ia sedang berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada diantara dia dan kiblatnya.oleh karenanya, janganlah ia meludah ke arah kiblat, tapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya. Atau dia lakukan seperti ini.” Nabi mengambil ujung selendangnya lalu meludah disitu dan menutupkan kembali satu bagian ke bagian yang lain. (HR. Bukhari, 1/159)

Kalau diartikan secara tekstual, maka hadis ini menetapkan bahwa Allah ada di depan orang salat atau antara orang dengan kiblat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Paling dekat hamba kepada Tuhannya adalah ketika dia bersujud, maka perbanyaklah doa (dalam sujud).” (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasa`i, Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Bayhaqi).

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh banyak Imam Hadis ini, menyatakan bahwa ketika sujud, seorang hamba sangat dekat dengan Tuhan. Berarti secara teks Tuhan tidak di langit tapi di bumi. Lantas bagaimana sebenarnya para ulama memahami ayat-ayat dan hadis tentang sifat Allah yang sepintas menjelaskan bahwa Allah ada di langit, berbentuk, terikat ruang dan waktu? Baca pembahasan selanjutnya.

 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin