Ternyata Ada 5 Rumus Cinta di Balik Bait-bait Alfiyyah Ibnu Malik

  • 186
  •  
  •  
  •  
    186
    Shares

DatDut.Com – Bait-bait Alfiyyah masih asyik untuk diutak-atik agar mendapat makna uniknya. Alfiyyah memang menarik. Buktinya, kitab nazam berjumlah 1002 bait dan berbentuk buku saku setebal 100 halaman ini, disyarahi oleh sekian banyak ulama nahwu. Kitab-kitab yang menjadikan matan Alfiyyah sebagai bahan utama antara lain: Audlah al-Masalik karya Ibnu Hisyam (w.761 H), Syarh Ibnu Aqil, karya Ibnu Aqil (w. 769 H), Manhaj al-Salik karya Al-Asymuni (w. 929 H), Hasyiyah Hasan ibn Ali al-Mudabbighi, Hasyiyah Ahmad ibn Umar al-Asqathi, Hasyiyah al-Hifni, Hasyiyah al-Shabban, dan masih banyak lagi lainnya.

Untuk kali ini, penulis ingin sajikan uraian bait-bait Alfiyyah bertemakan cinta. Ya, terkadang saat jenuh dan pusing, mata mengantuk memahami penjelasan tentang nahwu, kepala para santri akan tegak kembali begitu mendengar makna lain dari sebuah bait, apalagi kalau itu berkaitan dengan cinta. Berikut ini 5 rumus cinta di balik bait-bait Alfiyyah Ibnu Malik:

[nextpage title=”1. Cari yang Dekat-dekat Saja”]

1. Cari yang Dekat-dekat Saja

وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيء الْمُنْفَصِلْ #  إذَا تَأَتَّى أنْ يَجِيء الْمُتَّصِلْ

  • Kalau tidak terpaksa, tak perlu mendatangkan dhamir munfashil
  • Selama masih bisa memakai dhamir muttashil (bait ke-63)

Selain keterangan inti terkait dhamir muttashil dan munfashil, bait ke-63 ini memang multitafsir. Dalam hal makan-minum, ada yang mengartikan lebih baik pakai tangan langsung ketimbang pakai sendok. Selain karena sunah rasul, dalil dari nahwunya juga pakai bait ini. Selagi tangan sendiri (muttashil) masih bisa, tidak perlu pakai sendok (benda munfshil), katanya. Untuk urusan maksimalisasi potensi diri, bait tersebut menyarankan, selain kepada Allah, orang harus berusaha sendiri tanpa minta bantuan orang lain.

Dalam urusan cinta dan pernikahan bait di atas menyarankan, sebaiknya carilah pasangan dari lingkungan terdekat dan sepikiran dengan kita. Misalnya masih satu kampus, satu pesantren, satu kantor, satu kampung, dan seterusnya. Alasannya jelas karena kita lebih paham karakter mereka dari pergaulan setiap hari.

Bagi santri, mencari pasangan dari santri sepesantren terasa asyik karena masih sama-sama satu guru. Sehingga pemikiran dan pemahaman masih selaras. Tetapi kalau sudah keadaan nonikhtiar alias darurat, tak mengapa mencari pasangan dari lingkungan, komunitas, atau daerah lain.

[nextpage title=”2. Jodoh Bisa Karena Kenal Sebelumnya, Bisa Juga Tidak”]

Baca juga:  Hargai Jerih Payah Penulis dan Pemilik Website dengan Cara Ini

2. Jodoh Bisa Karena Kenal Sebelumnya, Bisa Juga Tidak

فَقَدْ يَكُونَانِ مُنَكَّرَيْنِ  #كَمَا يَكُونَانِ مُعَرَّفَيْنِ

  • Terkadang ma’thuf dan ma’thuf alaihi sama-sama nakirah
  • sebagaimana keduanya sama-sama ma’rifat (bait ke-537)

Fungsi athaf dalam bahasa Indonesia sama seperti kata penghubung. Bait di atas menerangkan bahwa antara kata sebelum dan sesudah penghubung bisa sama-sama berupa isim ma’rifat atau nakirah. Nah, terkait cinta dan jodoh, fenomena ketemu jodoh umumnya dari sama-sama kenal dan akrab. Namun banyak pula yang ketemu jodohnya tanpa diduga dan tanpa perkenalan mendalam sebelumnya. Jadi, tahu-tahu kenal, langsung cepat nikah. Jadi, manakah yang Anda pernah alami?

[nextpage title=”3. Silakan Pilih yang Pertama atau Kedua”]

3. Silakan Pilih yang Pertama atau Kedua

إِنْ عَامِلاَنِ اقْتَضَيَا فِي اسْمٍ عَمَلْ #  قَبْلُ فَلِلْوَاحِدِ مِنْهُمَا الْعَمَلْ

وَالْثَّانِ أَوْلَى عِنْدَ أَهْلِ الْبَصْرَهْ  # وَاخْتَار عَكْسَاً غَيْرُهُمْ ذَا أسْرَه

  • Bila sebelum isim terdapat dua amil
  • Keduanya menuntut beramal pada isim tersebut
  • Maka amal hanya bagi salah satu dari keduanya
  • Amil kedua lebih utama beramal menurut Ahli bashrah
  • Sedangkan ulama lain memilih amil pertama yang beramal (bait ke-278-279)

Bagi Anda, perempuan terutama, ketika dihadapkan pada dua atau lebih pilihan lelaki yang “menembak” Anda, terkadang bingung juga. Ke sanalah makna bait ini diarahkan. Silakan mantapkan hati dan pikiran untuk memilih mana yang dirasa paling tepat. Seperti pendapat dua kubu nahwu Basrah dan Kufah. Memilih orang pertama karena ia lebih dahulu mengetuk pintu hati. Atau pilih yang kedua karena lebih baru. Masih hangat-hangatnya. Apa pun itu standar pilihan Anda, jangan tinggalkan ketakwaan sebagai salah satunya. Ajiiib.

[nextpage title=”4. Observasi Dulu Target Anda”]

4. Observasi Dulu Target Anda

 …# وَهَلْ فَتَىً فِيْكُمْ فَمَا خِلٌّ لَنَا 

  • Adakah seorang pemuda di sisimu?
  • Kami tak punya kekasih (separuh awal bait ke-126)

Bait di atas adalah contoh dari mubtada yang boleh berupa isim nakirah. Pengecualian dari ketentuan mubtada harus makrifat, karena adanya huruf istifham atau kata tanya di awal kalam.

Dalam konteks percintaan dan pencarian pasangan hidup, agama melarang kita melamar wanita yang telah dilamar oleh orang lain. “… Rasulullah melarang seorang melamar wanita lamaran saudara sesama muslimnya kecuali si pelamar itu meninggalkan atau memberi izin kepadanya,” (H.R. Bukhari).

Baca juga:  Alala, Kumpulan Syair dari Kitab Ta’limul Mutaalim yang Mengajarkan Arti Penting Ilmu dan Persahabatan

Demikian pula isyarat dalam bait di atas. Menanyakan sudah adakah kekasih di sisi wanita incaran. Ketika ia memberi lampu hijau, barulah langkah selanjutnya dilaksanakan. Teliti dulu apakah orang yang Anda inginkan untuk menjadi pasangan hidup itu telah memiliki tambatan hati ataukah belum. Sesama muslim tidak diperkenankan main licik. Harus fair play. Hehehe.

[nextpage title=”5. Cinta Jarak Jauh”]

5. Cinta Jarak Jauh

وَعُلْقَةٌ حَاصِلَةٌ بِتَابِعِ #كَعُلْقَةٍ بِنَفْسِ الاِسْمِ الْوَاقِعِ

  • Persambungan syaghil dan isim sabiq
  • yang terjadi melalui dhamir yang dibawa kalimat pengikut (tabi’)
  • Mencukupi untuk menjadi penyambung
  • Sebagaimana dhamir penyambung yang ada di isim syaghil sendiri (bait ke 266)

Bab istighal ‘amil an al-ma’mul termasuk bagian yang rumit untuk dijelaskan. Untuk bait ini, coba saya terangkan dengan memakai contoh kata Zaidan dharabtu ghulamahu (si Zaid, saya pukul pembantunya). Kata ganti hu merupakan isim dhamir yang harus ada untuk menghubungkan amil (dharabtu) dengan zaidan sebagai isim sabiq yang semula adalah ma’mul. Keberadaan kata ganti penghubung itu boleh juga menempat pada kata yang menjadi sifat dari kata yang jadi ma’mul fiil. Contoh Zaidan dharabtu ghulaman yadhribuhu (si Zaid, saya pukul pembantu yang memukul Zaid).

Dalam lika liku cinta, terkadang keadaan mengharuskan perpisahan sementara waktu.  Bagi yang masih sekedar ikatan pranikah, tentu lebih sering menggunakan alat lain untuk berkomunikasi. Makna bait di atas untuk hubungan jarak jauh ini adalah, cinta yang tersambung dengan perantara (surat, SMS, telepon) sama bermaknanya dengan kehadiran sepasang kekasih. Karena, hadirnya perantara sama indahnya dengan hadirnya sang kekasih. Sekali lagi, Ajiiib. Wallahu A’lam.

1
%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    186
    Shares
  • 186
  •  
  •  
Close