Temukan Strategi Meraih Sukses dalam 5 Bait Alfiyah Ibnu Malik Ini

  • 159
  •  
  •  
  •  
    159
    Shares

DatDut.Com – Dengan jumlah baitnya yang mencapai 1002, makna-makna filosofis Alfiyah tidak akan terungkap secara utuh sebanding jumlah bait nazamnya.

Selain memang ditujukan sebagai pedoman kaidah nahwu, menggali keseluruhan bait Alfiyah dengan tafsiran ala isyari justru akan terkesan memaksakan makna. Meskipun demikian, menggali hal-hal tersembunyi dalam bait-bait ilmu nahwu ini tetap merupakan suatu hal yang menarik.

Nah, kalau tulisan yang lalu membahas beberapa bait secara umum, tulisan kali ini akan coba mengelompokkan bait-bait yang menyiratkan makna dengan mempertimbangkan kategori khusus (Baca: Temukan 5 Filosofi Hidup di Balik Bait-bait Alfiyah Ibnu Malik). Kali ini tentang motivasi. Berikut 5 bait yang menyiratkan motivasi dan strategi meraih sukses.

1. Sampaikanlah yang Bermanfaat dan Istikamahlah

Bait kedelapan berbunyi:

 #كَلاَمُنَا لَفْظٌ مُفِيْدٌ كَاسْتَقِمْ

Kalam menurut kami (Ulama Nahwu) adalah ucapan yang memberi faidah, seperti ungkapan: Istikamahlah.

Baca juga:  Sebelum Ikut Lomba, Ini 5 Fakta yang Harus Diketahui tentang Fathul Muin

Definisi kalam atau ungkapan dalam Alfiyah dibuat simpel namun dalam. Cukup dengan perkataan mufid. Secara gampang, mufid adalah keadaan ungkapan yang membuat pendengar memahami atau mengerti apa isi ungkapan itu.

Makna isyari-nya, katakanlah hal yang memberi bermanfaat. Pengambilan contoh menggunakan kata istaqim seolah mengisyaratkan agar pembaca tekun dan berdisiplin jika ingin mempelajari isi kitab ini.

2. Berbuat Kebaikan atau Senang dengan Kebaikan

 … # وَرَغْبَةٌ فِي الْخَيْر خَيْرٌ وَعَمَلْ بِرَ يَزِيْنُ

Senang terhadap kebaikan adalah juga kebaikan. Perbuatan baik bisa menghiasi diri …

Kalimat dalam potongan bait ke 127 tersebut adalah contoh dari ism nakirah yang boleh dibuat mubtada. Penyebabnya, nakirah tersebut beramal menashabkan kata sesudahnya.

Sehingga kata fi al-khair, secara posisi tarkibnya dalam mahal nashab. Sedangkan kalimat kedua adalah contoh nakirah yang di-idhafahkan kepada nakirah lain sehingga ia bisa dibuat sebagai mubtada.

Baca juga:  Aqidatul Awwam, Kitab Akidah yang Dipelajari di Pesantren dengan 5 Keunikannya

Makna tersirat dari bait di atas mengingatkan kita pada salah satu ungkapan dari Abu Darda, “Jadilah orang alim, atau pelajar, ataupun penggemar, ataupun pengikut. Jangan jadi yang ke lima, sehingga kau akan hancur.” Ditanyakan, “Apa yang kelima?” “Yaitu ahli bidah”.

Menurut al-Baihaqi perkataan ini dari jalur riwayat lain merupakan hadits marfu’ yang derajatnya daif (al-Madkhal ilaa as-Sunan al-Kubra, 1/288).

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin