Alala, Kumpulan Syair dari Kitab Ta’limul Mutaalim yang Mengajarkan Arti Penting Ilmu dan Persahabatan

  • 47
  •  
  •  
  •  
    47
    Shares

DatDut.Com – Alala tanalul ilma. Salah satu bait yang populer sebagai salah satu ungkapan dari Sahabat Ali Karramallahu Wajhah. Juga menjadi salah satu syair paling diingat dalam kitab Ta’limul Muta’alim. Nah, potongan awal bait tersebut menjadi nama salah satu kitab kecil yang banyak diajarkan di berbagai pesantren Indonesia.

Kitab ini memang berisi beberapa syair-syair nasihat yang sebagian besar di antaranya telah tercantum dalam kitab Ta’limul Muta’alim. Keistimewaannya, semua syair nasihat dalam Alala diberi nazam terjemahan dalam versi bahasa jawa. Bait per bait diikuti bait terjemahan jawanya. Sangat membantu bagi santri atau pelajar pemula. Namun tentunya harus mengerti membaca tulisan arab jawa/pegon.

Total ada 36 bait syair yang dimuat dalam kitab kecil ini. Ditambahkan jumlah yang sama untuk bait terjemahannya sehingga total keseluruhan adalah 72 bait.

Penyusun kumpulan syair Alala nampak menyusun pola khusus dengan mendahulukan syair yang bertema memperingatkan para pencari ilmu akan hal-hal pokok yang harus terpenuhi dalam mencari ilmu. Hanya saja ke 72 bait tersebut tidak dipisahkan dengan pembagian per bab sesuai tema. Pesan yang disampaikan dibuat mengalir saja.

Karena merupakan rangkuman, maka syair-syair dalam kitab ini tak menentu polanya sebagaimana umumnya rangkaian kitab syair arab. Paling banyak hanya ada kesesuian antar ujung bagian awal dan akhir. Sedang satu syair dengan yang lainnya berbeda-beda. Kecuali jika asalnya memang rangkaian, maka baru terjadi kesesuaian akhir beberapa bait.

Satu hal yang unik dari kitab ini adalah tidak tercantumnya nama penyusun. Dalam sampulnya hanya tertulis “Li ba’dhi at-Talamidz bi Fasantrin Agung Lirboyo Kediri” yang menjadi tanda bahwa penyusunnya adalah salah satu santri kreatif dari Pesantren Lirboyo. Namun di versi cetakan lainnya, disebut penulisnya adalah Muhammad Abu Basyir Al-Dimawi, yang kemungkinan orang Demak.

Baca juga:  Gara-gara Membela Si Penista Alquran, Alumni Pondok Pesantren Ini Nantang Debat Kiainya

Kemungkinan, penyusun kumpulan syair ini masih merasa belum pantas untuk mencantumkan namanya. Padahal, meski hanya cuplikan, terjemahan dan hanya berjumlah 8 halaman saja, kitab ini tenar dan dipakai dihampir setiap pesantren dia Jawa maupun Sumatra.

Pola dari pesan yang dibawa oleh bait-bait kitab ini secara garis besar terbagi pada beberapa poin. Yaitu tentang syarat berhasilnya mencari ilmu yang ada enam: kecerdasan, kecintaan, kesabaran, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang lama. Kemudian tentang mencari teman atau pergaulan. Kemudian diikuti bait-bait yang menunjukkan metode belajar. Intinya setiap hari harus memiliki peningkatan dan tambahan pengetahuan yang distilahkan dengan istifadah (mengambil faidah).

Selanjutnya tentang keunggulan ilmu Fiqh dan berbagai motivasi belajar. Bait tentang ini agak banyak. Dimulai dengan keunggulah-keunggulan ilmu fiqh dibanding cabang ilmu lainnya, kemudian keunggulan seroang berilmu, juga tentang bahayanya seorang bodoh yang tekun beribadah tanpa ilmu.

Dilanjutkan pesan terkait kedudukan guru yang lebih mulia ketimbang orang tua kandung.  Poin selanjutnya tentang tatacara bergaul dan dengan beberapa tingkatan manusia. Yaitu dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, setaraf, dan kepada orang yang lebih rendah.

Pada akhir kitab ini, ditutup dengan bait-bait syair yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib terkait utamanya merantau untuk menuntut ilmu. Jadi, kitab ini diawali dan diakhiri dengan bait syair yang nisbat kepada Ali bin Abi Thalib. Bait-bait akhir ini tidak ada dalam kitab Ta’limul Muta’alim. Bait-bait tersebut seperti ini terjemahannya:

Pergilah dari rumahmu
Carilah keutamaan
Karena dalam kepergianmu
Ada 5 faidah yang akan melingkupimu
Membuang kesusahan, mencari bekal hidup,
ilmu, tatakrama, dan teman sejati

Adapun dua bait terakhir setelah bait di atas, belum penulis temukan bersumber dari syair milik siapa. Mungkin dari kitab tertentu atau pelengkap dari penyusun Alala. Dua bait pelengkap tersebut artinya: Meskipun dalam bepergian pun terdapat kehinaan, terlunta-lunta, menembus belantara dan menerjang kepayahan-kepayahan.

Itulah beberapa hal menarik tentang kitab tipis atau risalah Alala yang merupakan salah satu materi dasar di berbagai pesantren di Indonesia. Semoga menambah wawasan. Wallahu A’lam.

 

Baca juga:  Bantahan atas Vonis Bidah terhadap Kitab Dalail al-Khairat pada 5 Isu Ini
%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
100 %
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    47
    Shares
  • 47
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close