Agar Ziarah Kubur Tidak Bidah, Baca 5 Penjelasan Ini

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Ziarah kubur menjadi tradisi Muslim Indonesia. Biasanya, umat Muslim di perdesaan menziarahi makam orang tua, saudara, atau ulama setiap malam Jumat atau Jumat pagi. Tujuan ziarah kubur untuk meningkatkan spiritual jiwa kita agar selalu ingat mati. Manusia di dunia hanya mengontrak, tidak selamanya hidup di alam fana ini.

Selain itu, tujuan para peziarah kubur juga untuk mendoakan mereka yang sudah mendahului kita. Namun, tidak jarang juga yang pergi berziarah untuk tujuan bertawasul pada wali Allah dan ulama-ulama saleh.

Oleh karena itu, tujuan baik seperti ini perlu terus dilestarikan, jangan sampai luntur tergerus hedonisme. Nah, agar Anda lebih yakin bahwa ziarah kubur itu tidak haram, bidah, dan syirik, berikut saya uraikan 5 penjelasan terkait ziarah kubur di bawah ini.

1. Konteks Larangan Ziarah Kubur

Imam Thahawi dalam Musykilul Atsar menjelaskan kronologi pelarangan ziarah kubur yang kemudian diperbolehkan. Ibnu Abbas meriwayatkan  bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Allah melaknat wanita-wanita yang berziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan masjid sebagai kuburan.”

Terkait hadis ini, Imam Thahawi menafsirkan dua sudut pandang. Pertama, hadis tersebut dikatakan Nabi sebelum beliau membolehkan ziarah kubur. Kedua, ziarah kubur yang terlarang itu yang menjerumuskan pada kemusyrikan. Oleh karena itu, definisi musyrik di sini perlu dipertegas. Musyrik itu meyakini bahwa benda mati memiliki kekuatan mengalahkan kuasa Allah.

2. Ziarah Kubur Ingat Mati

Anda tahu kenapa Nabi akhirnya bolehkan ziarah kubur? Suatu saat Nabi berkunjung ke makam ibunya dan nangis pada Allah memohonkan ampunan untuk ibunya. Diriwayatkan dari Buraidah yang mendengar Rasulullah bersabda, “Awalnya aku melarang kalian ziarah kubur. Saat ini Muhammad telah dizinkan menziarahi kubur ibunya. Lakukanlah ziarah kubur, karena mempermudah ingat akhirat,” (H.R. At-Turmudzi).

Baca juga:  Hikmah Rasulullah Menikah dengan Bunda Aisyah

Konotasi ingat akhirat mengarahkan kita agar selalu ingat mati. Hidup di dunia tidak selamanya. Mengejar harta dan jabatan tidaklah berarti di akhirat nanti bila keduanya tidak Anda gunakan untuk kepentingan masyarakat.

3. Ziarah Kubur Tawasul Minta Hujan

Tawasul itu berdoa melalui perantara orang-orang saleh agar lebih cepat diijabah (Baca: Masih Ragu Hukum Tawasul, Baca 5 Penjelasan Ini). Diriwayatkan dari Aus bin Abdullah, “Penduduk Madinah mengalami paceklik luar biasa. Mereka mengadu pada Aisyah. ‘Pergilah kalian ke makam Nabi. Mintalah pada Nabi ‘melubangi’ langit agar tidak ada lagi penghalang turunnya hujan,’” perintah Aisyah pada para sahabat. Mereka pun melaksanakan saran Aisyah. Akhirnya, hujan pun membasahi kami, tumbuhan menjadi subur, unta kembali menjadi sehat dan segar, sehingga gemuk dan banyak lemaknya. Tahun ini pun dinamakan ‘Amul Fatqi (tahun subur),” (H.R. ad-Darimi).

Coba Anda bayangkan, seandainya tawasul di makam Nabi itu dilarang, pasti Aisyah tidak menyuruh mereka ziarah makan Nabi untuk bertawasul.

4. Ziarah Kubur Doakan Orang Mati

Mendoakan orang mati memang tidak harus di makamnya langsung. Di mana pun tempatnya, doa kita pasti akan sampai. Namun, mendoakan langsung di kuburnya akan mendapatkan dua manfaat, yaitu mendoakan orang mati dan kita juga bisa mengingat mati, selain mengingat akhirat.

Baca juga:  Selfie Haram, Ini 5 Uraian Forum Santri di Lirboyo

Diriwayatakan dari Abu Hurairah, “Raja Najasyi, pemimpin Habasyah wafat. Hari itu juga, Rasulullah memberitahu kami tentang wafatnya raja tersebut. Beliau pun memerintah kami untuk mendoakan agar dosanya diampuni,” (H.R. Bukhari).

5. Ziarah ke Makam Nabi Sama Seperti Menziarahinya di Waktu Hidup

Beberapa hadis yang menjelaskan kesunahan ziarah ke makam Nabi sangat banyak sekali. Di antaranya: “seseorang yang menziarahi kuburku, maka akan mendapatkan syafaat dariku.” Selain itu, Nabi juga bersabda, “Barangsiapa yang menziarahiku, seakan-akan dia telah bertemu denganku di waktu hidup, dan aku akan mensyafaatinya di Hari Kiamat nanti.” Paling tidak, kualitas kedua hadis itu hasan lighairihi yang dapat dijadikan dalil dalam agama.  

ibnu kharish1Penulis : Ibnu Kharish | Penulis Tetap Datdut.com

Fb : Ibnu Harish

 

0 0
Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close