ADDAI Mendesak Dilakukan Uji Kompetensi Dai

  • 3
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

DatDut.Com – Viral terkait kesalahan fatal tulisan tangan teks Alquran yang dilakukan seorang ustazah di suatu stasiun televisi, mendapat sorotan dari ADDAI (Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia).

Ketum Umum ADDAI Dr. Moch. Syarif Hidayatullah menyebut bahwa kejadian memalukan ini menambah daftar panjang masalah-masalah yang ditimbulkan oleh para dai yang berdakwah di televisi.

Sebelumnya ada ustaz muda yang menyebut ada “pesta seks” di surga, juga ustaz-ustaz televisi yang lebih mirip pelawak daripada sebagai ustaz, dan soal dai yang mematok tarif.

“Masyarakat sudah mulai resah. Karena dai yang ditampilkan di televisi tidak sesuai harapan. Lalu, ada kesan, menjadi dai itu gampang. Asal bisa ngomong, asal bisa melucu, asal terkenal, atau asal cakep,” jelas Syarif.

Menurut dosen UIN Syarif Hidayatullah ini, hal itulah yang saat ini menjadi keprihatinan dan konsen ADDAI. Ia tidak ingin profesi dakwah kehilangan fungsi kesakralannya sebagai corong kalam Ilahi dan sabda Nabi.

Baca juga:  Mengapa Saya Tulis Surat dan Nasihat Terbuka untuk Ishomuddin?

“Seharusnya seorang dai, apalagi yang tampil di televisi, harus memenuhi persyaratan dasar sebagai dai. Seperti bacaan Alqurannya bagus, mengerti ilmu-ilmu keislaman, dan paham bahasa Arab. Selebihnya, memiliki akhlak dan paham fiqhud-da’wah.”

Lantaran prihatin dengan kondisi dunia dakwah, terutama di televisi, menurut penulis buku-buku keislaman ini, “ADDAI dalam waktu dekat akan bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, akan mengadakan uji kompetensi dai.”

Menurut Syarif, uji kompetensi dai ini sudah mendesak dilakukan. Syarif mengaku banyak mendapat keluhan dari masyarakat soal kualitas dai-dai di televisi. Tidak hanya masyarakat, para dai, ulama, dan akademisi, juga mengeluhkan hal yang sama.

Baca juga:  Belajar Berkurban dan Berkorban dari Keluarga Nabi Ibrahim

“Karenanya, uji kompetensi dai perlu segera dilakukan. Dari hasil uji kompetensi dai itu, seseorang akan diketahui kelayakannya sebagai dai. Mungkin nanti akan diberikan sertifikat yang harapannya nanti bisa diakui semacam SIM dalam berdakwah,” pungkas ustaz yang juga Direktur Pusat Penerjemahan Alquran dan Hadis ini.

 

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga dan sudut pandang yang khas nan unik.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *