ADDAI: Acara Keislaman di Televisi Perlu Selektif Memilih Dai

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Hari ini jagat maya digegerkan dengan viral dua tangkapan layar (screenshot) tulisan Arab seorang ustazah yang mengisi suatu acara pengajian di salah satu televisi swasta.

Bukan isinya yang menyimpang atau materi yang disampaikannya provokatif, tapi kesalahan fatal yang dilakukan oleh ustazah pengisi acara itu.

Sampai berita ini diturunkan, cukup banyak ulasan dari para ulama, ustaz, santri, dosen, juga kaum terpelajar Islam, yang mengupas kesalahan si ustazah itu.

Meskipun pihak televisi dan ustazah tersebut telah menyampaikan permintaan maaf, namun tetap saja banjir komentar di media sosial tak terbendung hari ini.

Dari begitu banyak komentar yang beredar di media sosial, rata-rata menyayangkan kesalahan fatal yang dilakukan oleh si ustazah, apalagi itu dilakukan di suatu acara keislaman yang disiarkan oleh televisi swasta nasional yang baru saja mendapat penghargaan dari Kementerian Agama.

Hal inilah yang disayangkan oleh Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI) Dr. Moch. Syarif Hidayatullah. Ditemui di ruang kerjanya, dosen UIN Syarif Hidayatullah ini menyampaikan pendapatnya seputar topik yang sedang ramai di media sosial ini.

“Bila melihat tangkapan layar yang beredar di media sosial, memang cukup banyak kesalahannya. Apalagi yang ditulis adalah teks Alquran. Dari kutipan pada surah al-Ankabut 45 dan surah al-Ahzab 21, kesalahannya hampir 70%. Bahkan, menuliskan kata salat dalam bahasa Arab saja juga masih salah,” jelas Syarif menyayangkan.

Baca juga:  Gus Maksum, Kiai Sakti Mandraguna dari Kediri

Syarif menuturkan bahwa ia kebetulan juga sempat menyaksikan video ceramah ustazah tersebut di situs milik televisi terkait. Sayangnya, video itu kini sepertinya sudah dihapus. Menurut Syarif, dari cara ustazah tersebut membaca ayat, tampak sekali kelemahan dalam tajwid dan pelafalan ayat.

“Di situ saya menjadi ragu bila pihak televisi di siaran pers yang beredar mengklaim bahwa ustazah dalam tayangan tersebut adalah seorang yang berkompeten dalam bidangnya. Saya jadi ingin bertanya, bagaimana kriteria penentuan kelayakan seorang dai tampil di stasiun televisi tersebut? Ukuran kompetensinya apa dan cara mengukurnya seperti apa?”

Menurut Syarif, harusnya pihak televisi sudah saatnya mengubah orientasinya. “Mungkin kalau dulu, dai-dai yang lucu-lucu itu disukai masyarakat. Tapi masyarakat sudah berubah. Kemunculan ustaz-ustaz muda di Youtube dan media sosial belakangan ini yang lebih ‘berisi materi dakwahnya’, menjadi bukti pergeseran kecenderungan masyarakat dalam mendengarkan materi dakwahnya,” terang pria kelahiran Pasuruan ini.

Lebih lanjut, Syarif menyampaikan bahwa masyarakat juga semakin kritis, apalagi kemampuan mengakses literatur keislaman juga semakin mudah. Banyaknya para penghafal Alquran dan pengkaji ilmu-ilmu keislaman, membuat masyarakat jadi lebih memilih dan memilah siapa ustaz atau ustazah yang mau didengar ceramahnya.

Baca juga:  Ini 5 Fakta Tak Tertungkap tentang Tangis dan Tawa

“Pihak televisi tak bisa lagi asal comot dai atau ustaz. Tidak bisa lagi asal lucu, asal ganteng, asal cantik, asal artis. Bila wawasan agamanya tidak memadai, pasti akan ditinggalkan oleh masyarakat. Alternatif belajar agama sudah banyak,” tegas penulis produktif ini.

Menurut Syarif, televisi sekarang tidak bisa main-main lagi. Televisi sudah dalam posisi terancam oleh media sosial dalam berbagai jenis siarannya, termasuk siaran keislaman. Saat ini sudah banyak dai dan ustaz berkualitas yang memanfaatkan YouTube, Facebook, Instagram dalam menyampaikan materi dakwahnya. Harusnya pihak televisi bisa mulai melirik ini dan melakukan seleksi.

“Pihak televisi juga harusnya punya tanggung jawab dalam mengajari masyarakat tentang Islam. Caranya ya melalui seleksi yang ketat terhadap ustaz atau dai yang ditampilkan di acara-acaranya,” pungkasnya.

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga dan sudut pandang yang khas nan unik.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *