Adab Mengkritik Orang yang Tak Beradab

  • 4
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

DatDut.Com – Kadang nalar kita dipaksa bekerja keras karena diminta untuk memahami orang-orang yang meminta kita tidak mengkritik orang-orang yang diustazkan, yang jelas-jelas melakukan kesalahan fatal.

Kita bahkan kadang dinasihati untuk menggunakan adab saat mengkritik ulama. Padahal, orang yang diustazkan itu jelas-jelas tak beradab pada Nabi dan keluarganya.

Nah, dalam konteks ini mungkin pas kalau dikatakan, “Ini umat Nabi Muhammad atau umatnya si ‘ustaz’?”

Orang yang tak beradab kepada Nabi, didiamkan. Kita yang menegur dia, malah kita diajari untuk beradab pada orang yang tidak beradab.

Padahal, kita mengkritik dengan bahasa yang terukur dan rujukan juga pengetahuan yang memadai.

Eh, selidik punya selidik, ternyata para pembelanya itu orang yang seormas, semanhaj, atau separtai.

Nah, kalau begini ceritanya, masih pantas mengaku umat Nabi Muhammad?! Kalau memang umat Nabi, kok Nabi dinista, yang dibela malah yang menista, hanya gara-gara sekelompok dengan si pembela.

Kalau Ahok saja dipenjara atas tuduhan menistakan Alquran gara-gara kata “dibohongi” yang multitafsir, mestinya ustaz-ustaz YouTube yang belakangan banyak melakukan kesalahan fatal, juga diperlakukan hal yang sama.

Baca juga:  Tanggapan untuk Twitan Nyinyir Nadirsyah Hosen Soal Aksi Super Damai 212

Mereka secara terang-terangan menyebut Nabi Muhammad Saw. pernah tersesat atau karena melabeli istri-istri Nabi dengan label yang tak pantas.

Bahkan, dengan entengnya menyebut Muhammad saja, tanpa dengan tambahan sebutan “Nabi” di depannya. Padahal, dia seorang ustaz. Seperti ada perasaan berat untuk menyebut itu.

Mestinya dia mau membaca azbabunnuzul QS Al-Nur 63 yang jelas sekali menekankan larangan memanggil hanya “Muhammad”, tanpa ada label Nabi atau label lain yang menunjukkan penghormatan pada Nabi. 

Nah, kalau mau jujur, mereka ini juga telah menistakan Islam, dengan menyebut Nabi dan keluarga secara tidak pantas.

Kita perlu juga menghukum orang-orang ini agar tak banyak orang-orang yang tiba-tiba “diustazkan” di media sosial. 

Orang-orang ini biasanya kelewat pede ngomong sembarangan tanpa didasari ilmu, apalagi kalau apa yang diomongkan sudah masuk dalam kategori pelecehan dan penistaan.

Baca juga:  Bila Tulis Status tentang Hadis, Cantumkan Sumber dan Rawinya

Kembali soal adab mengkritik orang yang tidak beradab ini. Menurut saya, kadang-kadang orang-orang seperti ini perlu dikritik dengan keras, bahkan dituntut secara hukum bila telah berlebihan.

Ini tentu agar dia tidak semakin tersesat dan menyesatkan banyak orang. Di ujung, dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya salah.

Bukankah sombong pada orang yang sombong itu sedekah?! Bukankah menghentikan kezaliman seseorang juga bagian dari sunah Nabi?

Orang yang tidak beradab itu sudah zalim dan kita perlu menghentikannya dengan mengkritiknya dengan keras dan tegas, meski tetap mengedepankan pendekatan akhlak.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah
  •  
    4
    Shares
  • 4
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *