Buya Hamka, Produktif Berkarya Meski Dipenjara

  • 108
  •  
  •  
  •  
    108
    Shares

DatDut.Com – Haji Abdul Karim Amrullah seorang yang multitalenta dalam berbagai bidang ilmu. Pria yang biasa disapa Buya Hamka ini, mempelajari filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. secara otodidak. Selain akademisi, Pria kelahiran 1908 ini juga organisatoris.

Terbukti, ia aktif sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1953. Menteri Agama Indonesia Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia pada 26 Juli 1977, sebagaimana dikutip dari Biografiku.com.

Ada banyak hal yang dapat kita teladani dari kehidupan beliau. Paling tidak, 5 hal di bawah ini layak kita terapkan dalam kehidupan kita.

1. Produktif Berkarya

Buya Hamka sangat produktif menulis dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dalam bidang politik, ia pernah menulis buku Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret dan Urat Tunggang Pancasila.

Dalam bidang sejarah, tokoh Muhammadiyah ini di antaranya menulis Sejarah Ummat Islam dan Sejarah Islam di Sumatera. Konon, karyanya mencapai 118 buku, sebagaimana dikutip dari Bio.or.id.

2. Menulis Meski Dipenjara

Buya Hamka dipenjarakan atas tuduhan terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Soekarno dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri. Buya ditahan karena melanggar UU Anti Subversif Pempres No.11, sebagaimana dikutip dari Brilio.net.

Baca juga:  Ini Alasan Mengapa Syekh Abdul Qadir Jailani Tidak Banyak Meninggalkan Karya

Selama dipenjara, ia merampungkan Tafsir Al-Azhar. Dari kisah ini, seharusnya kita dapat meniru semangat beliau dalam menulis. Keterbatasan ruang dan tempat tidak menjadi alasan Buya berhenti berkarya.

3. Menulis Tafsir

Menulis tafsir bukanlah hal mudah. Perangkat ilmu yang dibutuhkan dalam menafsirkan Alquran tidak sedikit.

Menurut K.H. Masduqi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah, Lasem, paling tidak ada 15 bidang ilmu yang harus dikuasai bagi seseorang yang ingin menjadi mufasir. Di antaranya, gramatikal Arab, hadis, fikih, usul fikih, ilmu qiraah, dan sebagainya.

Kompleksitas persyaratan mufasir ini dilalui Buya Hamka dengan menghasilkan sebuah karya serius berupa Tafsir Al-Azhar. Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana Buya Hamka menyikapi cobaan yang menimpanya.

Cobaan yang Tuhan ujikan untuk hambanya bukanlah siksaan. Semakin tinggi cobaan yang Tuhan berikan berarti tanda derajat kita akan diangkat oleh-Nya.

4. Menulis Novel

Ulama Sumatera Barat ini mendapat dua gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Al-Azhar Cairo. Kedua gelar tersebut diberikan atas sumbangsihnya dalam memajukan perkembangan agama Islam.

Selain itu, Buya juga seorang sastrawan. Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj, Merantau ke Deli, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah merupakan beberapa karyanya dalam bidang sastra.

Bahkan, novel Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj telah diangkat menjadi film layar lebar.

Baca juga:  Haidar Bagir Syiah? Ini 5 Bantahannya

5. Arif Menyikapi Perbedaan

Perbedaan itu rahmat Tuhan bagi mereka yang dapat menyikapinya. Tuhan saja tidak memaksakan hamba-Nya untuk sama. Apalagi kita sebagai manusia yang serba terbatas. Memaksakan pendapat orang lain sama dengan pendapat kita merupakan suatu kezaliman.

Walaupun berbeda, kita harus tetap saling menghormati satu sama lain. Tauladan ini pernah dicontohkan Buya Hamka. Saat Presiden Soekarno wafat, Buya Hamka berkenan menjadi imam salat jenazah. Padahal, pemimpin Orde Lama ini pernah memenjarankannya atas tuduhan yang tidak terbukti.

Kearifan beliau dalam menyikapi perbedaan terkait qunut dan tidak qunut, juga patut diteladani. Konon saat salat subuh dimami oleh K.H. Syafi’i Hadzami yang NU, beliau tak segan berqunut. Ini sekaligus menjadi bukti kedalaman dan ketinggian ilmu Buya Hamka.

 

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    108
    Shares
  • 108
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *