5 Pelajaran Berharga dari Kelakar Gus Dur

  • 27
  •  
  •  
  •  
    27
    Shares

DatDut.Com – K.H. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Dur Gur dikenal sebagai Bapak Pluralisme karena pemikiran-pemikirannya tentang Islam dalam banyak karyanya. Seperti salah satu karyanya yang sering dijadikan rujukan ini, buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita.

Tapi meski begitu, MUI menolak gelar ‘Bapak Pluralisme’ disandangkan kepada Gus Dur. Pasalnya, menurut Ketua MUI Jatim, K.H. Abdusshomad Buchori, “Makna pluralisme sangat rancu dan bisa menyesatkan jika diterjemahkan oleh masyarakat awam. MUI tidak mau Gus Dur dianggap sebagai tokoh yang mencampuradukkan ajaran agama. Karena Gus Dur adalah pemikir Islam murni yang menghormati agama lain, kaum minoritas, sebagaimana yang diajarkan di dalam Islam.” Demikian informasi yang didapatkan dari Republika.com.

Nah, mengenang 6 tahun wafatnya Gus Dur, kali ini saya menghadirkan humor-humor ala Gus Dur, yang disarikan dari buku Gus Dur Menertawakan NU. Yuk simak 5 humor berikut yang sarat pelajaran berharga:

1. Tuhan Tak Perlu Dibela

Banyak orang yang berdebat dan saling adu argumen, semua berdalih membela agama Allah. Tidak ada yang mau mengalah, padahal yang diperdebatkan bukanlah masalah prinsipil dalam agama Islam, ujung-ujungnya malah saling mengkafirkan dan membidahkan. (Baca: Waspadai Penyebaran Aliran Teroris di Lingkungan Anda. Ini 5 Ciri-Cirinya)

“Tuhan tak perlu dibela,” cetus Gus Dur. Komentar ini menimbulkan kontroversi saat itu. Akhirnya, salah satu koleganya, Gus Mus, ikut angkat bicara, “Tuhan itu sebenarnya gak butuh kita. Kalau se-Indonesia ini mau jadi kafir semua, Tuhan juga gak akan bermasalah,” tutur Gus Mus kala itu menguatkan pernyataan Gus Dur.

Pernyataan dua gus ini faktanya senada dengan firman Allah Swt. “Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah. Dialah yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Fatir : 15).

2. NU Diskon

Nah, ini guyonan ala Gus Dur tentang NU lama dan NU baru. Suatu ketika pada acara buka bersama di kediaman mantan Presiden Soeharto, beliau menawarkan kepada Soeharto,“Tarawihnya mau ngikutin NU lama atau NU baru?”

Baca juga:  Ini 5 Corak Dakwah Menurut Alquran

“Lah, apa bedanya?” sahut Soeharto.

“Kalau NU lama tarawih dan witirnya 23 rakaat,” sebut Gus Dur

“Boleh. Lah, kalau NU baru?” tanyanya.

“NU baru diskon 60%. Cuma 11 rakaat. Hahaha.” Sontak semua yang mendengar turut tertawa.

Nah, lewat gurauannya ini, Gus Dur seakan mengingatkan kita untuk tidak gampang saling menyalahkan terkait masalah-masalah furuiyah.

3. NU Kecut

Pada masa pemerintahannya, Gus Dur mengendorkan birokrasi bagi orang-orang yang ingin masuk Istana dan mengunjungi Presiden.  “Istana Negara itu istana rakyat,” ujar beliau. Tentu yang dapat keuntungan adalah para kiai NU, mulai dari kalangan para elit NU sampai kiai-kiai kampung, rajin sowan ke Istana.

Justru pejabat yang susah menemui Presiden. Waktu ditanya alasannya, beliau menjawab, “Kalau orang kecil yang datang, mereka akan memberikan doa panjang umur, memudahkan kesulitan dan sebagainya. Tapi, kalau pejabat yang datang, pasti minta jabatan.”

Lantas kenapa “kecut”? Pasalnya, meski gampang bertemu presiden, tapi pihak NU malah kecut alias gak dapat fasilitas apa-apa. “Lah, mereka bisa datang kesini sendiri, masa pulang sendiri gak bisa,” selorohnya.

Begitulah, beliau yang semasa hidupnya mengajarkan kita agar tidak merendahkan rakyat kecil. Sudah jadi presiden saja, pintu rumahnya masih tetap terbuka lebar untuk rakyat kecil.

4. Derajat Sopir Angkot di Atas Pak Kiai

Gus Dur berkelakar bahwa derajat sopir angkot melebihi derajat Pak Kiai. Pasalnya apa? Beliau menceritakan sebuah lelucon bahwa saat di surga si sopir angkot mendapatkan tempat tinggal sangat luas seperti istana, sedangkan beliau hanya diberikan tempat tinggal hanya sepetak sempit.

Gus Dur protes ke malaikat, “kenapa begitu?” Padahal semasa di dunia dia telah berceramah menyuruh pada kebaikan dan melarang keburukan. Dengan tenang malaikat menjawab, “Begini pak, saat ceramah Anda membuat semua orang ngantuk dan tertidur, sehingga melupakan Tuhan. Sebaliknya, saat sopir angkot kebut-kebutan, ia membuat penumpang berdoa, dan makin ingat Tuhan.” Ini jelas sebuah sindiran telak untuk semua dai.

Baca juga:  Pesantren Tebuireng, Tempat Para Ulama dan Guru Bangsa Belajar Agama, Ini Profilnya

Seperti firman Allah Swt, “Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka,” (QS An-Nisa: 63). Jadi, guyonan Gus Dur Ini seakan merupakan sindiran pada para penceramah yang hanya asal ceramah, tapi perkataannya tidak mampu membekas di hati para jamaah, apalagi membuat mereka ingat Allah.

5. Gus Dur Berbagi Amplop

Di luar sikap Gus Dur yang suka nyeleneh, tapi untuk sikap yang satu ini, para dai patut mencontoh sikap beliau. Di saat kebanyakan dai berharap mendapat amplop, Gus Dur malah membagi-bagikan amplop yang diberikan untuknya kepada kolega sesama dai yang diundang dalam hajatan yang sama. Gus Dur biasanya selalu memberikan amplop yang paling tebal.

Nah, tentu saja teman Gus Dur berterima kasih, seraya langsung menerima amplop dengan semangat dan berbisik, “Wah, Gus Dur ini baik sekali. Amplop yang tebal malah dibagikan kepada kita, alhamdulillah.” Eh, pas dibuka. Ternyata amplop tebal karena berisi uang receh ribuan, sedangkan yang tipis berisi uang merah Soekarno-Hatta. Semua menggerutu, “Harusnya kita tadi milih yang tipis saja.” Hahaha.

Begitulah, Allah selalu membalas amal perbuatan seseorang sesuai kadar keikhlasan masing-masing. “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,” (QS Muhammad: 7). Makanya, ikhlaslah dalam berdakwah, jangan hanya memikirkan amplop. hehe.

nenengNeneng Maghfiro | Penulis tetap Datdut.Com

Twitter : @NengAirin

Komentar

Neneng Maghfiro

Alumni Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute for Hadith Sciences Darus-Sunnah Jakarta.
Neneng Maghfiro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *