Ini 5 Atribut Muslim yang Diidentikan dengan Teroris

  • 11
  •  
  •  
  •  
    11
    Shares

Dibaca: 1177

Waktu Baca4 Menit, 25 Detik

DatDut.Com – Indonesia negara beraneka ragam budaya, suku, dan agama. Keanekaragaman ini merupakan sunatullah yang tak dapat dihindari, apalagi ditentang siapa pun.

Allah Swt. berfirman, “Kami jadikan kalian dari sepasang pria (Adam) dan wanita (Hawa). (Dari keduanya), Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain. Orang termulia di antara kalian itu mereka yang paling bertakwa,” (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Menurut Ibnu Asyur dalam at-Tahrir wat Tanwir, ayat ini turun terkait fanatisme berlebihan yang terjadi pada masa Jahiliah. Saat itu satu suku Arab merasa lebih hebat dari suku yang lain.

Dalam konteks Indonesia, fanatisme antarkelompok pun terlihat sangat jelas. Bahkan, penggunaan atribut tertentu yang digunakan Muslim dicurigai sebagai atribut teroris. Padahal, atribut-atribut tersebut merupakan khilafiah yang tidak semestinya dicurigai berlebihan seperti itu.

Berikut 5 atribut Muslim yang diidentikan dengan teroris padahal belum tentu demikian. Kelimanya ini merupakan perbedaan pendapat dalam ranah fikih yang tidak perlu diperdebatkan mati-matian, apalagi saling mencurigai satu sama lain.

Karena kaidah fikih menyebutkan la yunkar al-mukhtalaf fih, wa innama yunkar al-mujma’ ‘alaih. Hukum yang diperdebatkan tidak perlu dibahas mati-matian. Yang perlu diperjuangkan itu hukum yang sudah disepakati seluruh Muslim, kemudian diselewengkan.

1. Jenggot

Sebagian Muslim beranggapan bahwa berjenggot itu sunah Nabi, bahkan ada yang beranggapan wajib. Sehingga tidak sedikit orang Indonesia mempertahankan jenggotnya, baik pendek maupun panjang.

Pemahaman mereka ini di antaranya merujuk pada hadis Nabi. Diriwayatkan dari Ibn Umar yang mendengar Nabi bersabda, “Berbedalah dari orang musyrik. Panjangkanlah kumis dan jenggotmu,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi menyampaikan dalam Syarhun Nawawi ‘ala Muslim bahwa Qadhi ‘Iyadh berpendapat menghilangkang kumis dan jenggot hingga pelontos hukumnya makruh. Yang baik itu hanyalah mencukurnya agar terlihat rapih. Qadhi Iyadh juga menyampaikan terlalu panjang jenggot dan kumis hingga terlihat aneh juga makruh.

Dalil ini sudah cukup untuk membela mereka yang dicurigai sebagai teroris karena berjenggot. Jenggot itu islami, bukan teroris. Namun, bagi Anda yang berjenggot juga perlu memperhatikan kerapihan jenggot Anda agar sejuk dipandang mata.

Baca juga:  Ini 5 Komentar Antropolog terkait Fenomena Orang Arab Agungkan Barat Secara Berlebihan

2. Jubah

Sebagian Muslim Indonesia beranggapan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan Nabi itu sunah. Sehingga mereka pun lebih nyaman berpakaian ala Nabi, yaitu mengenakan jubah. Landasan mereka pun sama, yaitu Hadis. Misalnya, hadis yang diriwayatkan dari Syu’bah bahwa Nabi pernah memakai jubah Romawi yang sempit kedua lengannya,” (H.R. at-Turmudzi).

Hadis yang diriwayatkan dari Ummu Salamah juga dapat menjadi alternatif cara pandang. “Baju yang paling disukai Rasulullah Saw. adalah gamis,” (H.R. at-Turmudzi). Gamis bukan jubah. Gamis itu serapan dari bahasa Arab qamish. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata gamis dengan kemeja. Dalam Mu’jam al-Ma’ani, qamish berarti ‘pakian dalam yang menutupi kulit tubuh’.

Sementara itu, jubbah dalam Mu’jam al-Ma’ani berarti ‘pakaian yang lengannya besar’. Jadi, bila gamis dipadankan dengan jubah itu keliru. Terlepas dari perbedaan persepsi tersebut, janganlah mencurigai seseorang dengan cap teroris hanya karena berjubah. Bisa jadi, karena cintanya pada Nabi, teman Muslim kita meniru segala yang dilakukan Nabi, sampai berjubah pun mereka tiru.

3. Celana Cingkrang

Pemahaman tekstual terhadap hadis mengantarkan pemahaman sebagian Muslim apa adanya seperti yang tercantum dalam teks hadis. Dalam konteks tertentu, hal ini masih dibenarkan, selagi tidak menganggap salah, sesat, bidah yang tidak sepemahaman dengan mereka.

Memakai celana di bawah mata kaki dalam teks hadis disebut isbal, orangnya disebut musbil. Ada yang beranggapan bahwa larangan isbal itu tidak boleh secara mutlak. Di antaranya hadis yang diriwayatkan dari Abi Said yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang menjulurkan pakaiannya hingga mata kaki karena sombong, maka Allah tidak akan merahmatinya di Hari Kiamat nanti” (H.R. Ibnu Majah).

Muslim lain memahami hadis ini secara kontekstual. Yang terlarang itu apabila isbal dilakukan karena kesombongan. Saat itu, ada anggapan bahwa orang yang isbal itu kaya raya dan berlebihan. Terlepas dari perbedaan keduanya, marilah kita saling menghormati. Perbedaan ini termasuk perbedaan furu’iyyah yang tidak perlu diperdebatkan secara serius.

Baca juga:  Jangan Vonis Hizib Bidah dan Syirik Sebelum Tahu Penjelasan Ulama Ini!

4. Udeng-udeng

Udeng-udeng itu kain yang dilingkarkan di kepala. Dalam teks hadis disebut dengan imamah. Para ulama, habib, dan kiai juga banyak yang menggunakan imamah. Jika pengguna imamah dicurigai atau dituduh teroris itu suatu hal yang berlebihan.

Di antara hadis yang menjelaskan Nabi memakai imamah diriwayatkan dari Huraits, “Saya melihat Rasulullah Saw. ceramah di atas mimbar. Nabi mengenakan udeng-udeng hitam yang kedua ujungnya menjulur hingga kedua pundak Nabi Saw.” (H.R. Muslim).

Menurut Imam Nawawi dalam Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, menggunakan udeng-udeng baik yang berwarna hitam maupun putih hukumnya mubah. Namun, memakai udeng-udeng berwarna putih lebih utama. Jadi, pengguna udeng-udeng jangan Anda kaitkan dengan terorisme.

5. Cadar

Hukum menutup aurat bagi Muslim dan Muslimah wajib. Namun, batasan aurat menurut ulama itu berbeda-beda. Terkait Muslimah, sebagian ulama berpendapat bahwa wajah wanita termasuk aurat yang harus ditutupi. Suatu anggapan berlebihan terkadang menyudutkan wanita bercadar, seperti tuduhan istri teroris dan lain sebagainya (baca : 5 Syarat Busana Muslimah Versi Imam Besar Masjid Istiqlal).

Padahal, wanita bercadar itu mengikuti pendapat ulama ini. Imam al-Khatabi dalam Ma’alimus Sunan menyatakan bahwa hadis larangan wanita menggunakan cadar dalam ihram itu sahih. Jadi ketika di luar ihram, wanita harus menggunakan cadar kembali.

Satu hal yang ingin saya tekankan, mari kita berlaku adil terhadap siapa pun, apalagi kepada sesama Muslim. Jangan ikut-ikutan terbawa arus opini yang sengaja dihembuskan media Barat atau kelompok-kelompok tertentu yang menyokong agenda Barat.

ibnu kharish1Penulis : Ibnu Kharish | Penulis Tetap Datdut.com

Fb : Ibnu Harish

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi
  • 11
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *