Catatan untuk Bedah Buku dan Debat Terbuka “HTI Gagal Paham Khilafah”

  • 15
  •  
  •  
  •  
    15
    Shares

DatDut.Com – Tak banyak media mainstream yang memberitakan bahwa 4 Maret kemarin para kader muda NU memenuhi undangan DPW HTI Semarang untuk mengadakan bedah buku sekaligus debat terbuka antara penulis buku HTI Gagal Paham Khilafah, Makmun Rasyid, dengan Aab Elkarimi penulis buku Saatnya Mahasiswa Berkhilafah.

Makmun Rasyid adalah salah satu santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam asuhan K.H. Hasyim Muzadi. Sedangkan Aab Elkarimi merupakan aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan, organisasi yang berafiliasi dengan HTI, di Semarang, Jawa Tengah.

Acara dengan tema Khilafah Dalam Sorotan Kaum Muda itu bertempat di Gedung Dakwah Habibah DPW HTI, Semarang, Sabtu (04/03/2017). Disiarkan langsung via layanan streaming Facebook oleh halaman Santrionline dan Haraktuna acara itu berlangsung sekitar 3 jam.

Meskipun barjalan lancar, tertib dan aman, namun beberapa catatan merah yang diperoleh terkait penyelenggaraan acara debat terbuka tersebut layak diperhatikan. Memandang dari sisi penghormatan kepada tamu, kepada negara, hingga soal publikasi, menurut berita yang dilansir oleh situs Duta Islam dan Santri Online, setidaknya ada 4 poin catatan merah untuk HTI dalam acara debat terbuka itu. Berikut ulasannya:

Baca juga:  Daripada Ribut Soal Tahlilan Bidah dan Sesat, Layani Saja Tantangan Mubahalah dari Orang Ini!

1. Tidak Menghormati Tamu

Seperti diungkapkan salah satu tim dari NU, mereka tak mendapat penghormatan selayaknya tamu dari jauh. Asal tahu saja, tim buku HTI Gagal Paham Khilafah jauh-jauh dari Depok, Jawa Barat dengan biaya sendiri. Mulai dari perjalanan, konsumsi, hingga menyewa hotel untuk menginap.

Abdul Wahab, yang juga merupakan pendiri situs Santrionline.net mengungkapkan bahwa selama streaming 3 jam lebih ia tak mendapat konsumsi sekedar minum sekalipun. “Saya yang steraming 3 jam lebih tidak ada konsumsi yang disediakan, tidak dikasih minum,” ungkap Wahab seperti dilansir Duta Islam.

Bahkan ketika acara usai, panitia lokal terkesan menghindar. Saat tim dari NU akan berpamitan mereka tidak mendapati panitia setempat.

Baca juga:  Ini 5 Bukti Ide Khilafah Versi HTI Hanya Omong Kosong

2. Tanpa Publikasi Selayaknya

Selain itu, acara debat terbuka tersebut juga minim publikasi. Tak ada baliho ataupun banner adanya acara yang temanya cukup heboh di dunia maya tersebut. Demikian juga suasana dalam ruangan. Terkesan apa adanya dan tak berniat serius. Tanpa banner atau background seperti umumnya acara-acara resmi.

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *