Catatan untuk Bedah Buku dan Debat Terbuka “HTI Gagal Paham Khilafah”

Pin It

DatDut.Com – Tak banyak media mainstream yang memberitakan bahwa 4 Maret kemarin para kader muda NU memenuhi undangan DPW HTI Semarang untuk mengadakan bedah buku sekaligus debat terbuka antara penulis buku HTI Gagal Paham Khilafah, Makmun Rasyid, dengan Aab Elkarimi penulis buku Saatnya Mahasiswa Berkhilafah.

Makmun Rasyid adalah salah satu santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam asuhan K.H. Hasyim Muzadi. Sedangkan Aab Elkarimi merupakan aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan, organisasi yang berafiliasi dengan HTI, di Semarang, Jawa Tengah.

Acara dengan tema Khilafah Dalam Sorotan Kaum Muda itu bertempat di Gedung Dakwah Habibah DPW HTI, Semarang, Sabtu (04/03/2017). Disiarkan langsung via layanan streaming Facebook oleh halaman Santrionline dan Haraktuna acara itu berlangsung sekitar 3 jam.

Meskipun barjalan lancar, tertib dan aman, namun beberapa catatan merah yang diperoleh terkait penyelenggaraan acara debat terbuka tersebut layak diperhatikan. Memandang dari sisi penghormatan kepada tamu, kepada negara, hingga soal publikasi, menurut berita yang dilansir oleh situs Duta Islam dan Santri Online, setidaknya ada 4 poin catatan merah untuk HTI dalam acara debat terbuka itu. Berikut ulasannya:

1. Tidak Menghormati Tamu

Seperti diungkapkan salah satu tim dari NU, mereka tak mendapat penghormatan selayaknya tamu dari jauh. Asal tahu saja, tim buku HTI Gagal Paham Khilafah jauh-jauh dari Depok, Jawa Barat dengan biaya sendiri. Mulai dari perjalanan, konsumsi, hingga menyewa hotel untuk menginap.

Abdul Wahab, yang juga merupakan pendiri situs Santrionline.net mengungkapkan bahwa selama streaming 3 jam lebih ia tak mendapat konsumsi sekedar minum sekalipun. “Saya yang steraming 3 jam lebih tidak ada konsumsi yang disediakan, tidak dikasih minum,” ungkap Wahab seperti dilansir Duta Islam.

Bahkan ketika acara usai, panitia lokal terkesan menghindar. Saat tim dari NU akan berpamitan mereka tidak mendapati panitia setempat.

Baca juga:  Felix Siauw: Tidak Ada Dalil Nasionalisme, Ini 5 Bantahannya

2. Tanpa Publikasi Selayaknya

Selain itu, acara debat terbuka tersebut juga minim publikasi. Tak ada baliho ataupun banner adanya acara yang temanya cukup heboh di dunia maya tersebut. Demikian juga suasana dalam ruangan. Terkesan apa adanya dan tak berniat serius. Tanpa banner atau background seperti umumnya acara-acara resmi.

Bahkan informasi dari salah satu peserta mengatakan bahwa acara sengaja disetting sedemikian rupa dengan tujuan agar sepi dari pengunjung yang anti Hizbut Tahrir dan penggemar penulis buku Gagal Paham Khilafah. Dengan demikian acara itu hanya akan dihadiri pihak-pihak yang pro dan akhirnya mudah membantai Makmun sebagai penulis buku HTI gagal Paham Khilafah.

Salah satu penerbit pro HTI sejak 22 Februari telah mengunggah promosi di halaman Facebook-nya. Buku-buku berjudul: Kritik Atas Pemikiran Aswaja Topeng, “Kyai” Liberal Menghujat Pejuang Khilafah Menjawab, Saatnya Mahasiswa Berkhilafah, Membantah Logika Para Pencela Dakwah dijual dalam satu paket hanya dengan harga Rp. 200.000. Tentu publikasi nyata yang berbanding terbalik dengan publikasi maya ini patut dipertanyakan.

3. Tidak Menghormati Simbol Negara

Selain minim penghormatan terhadap tamu sekaligus lawan debat, panitia setempat juga tidak menunjukkan itikad baik terhadap simbol negara. Bendera merah putih, foto presiden dan wakil presiden tak tampak sama sekali dalam dekorasi ruangan.

Baca juga:  Tidak Wajar, Belakangan Banyak Bentuk Toleransi Berlebihan! Bisa Murtad Kalau Salah Niat

Hanya tersedia layar sebagai media presentasi dan di meja terpancang sepasang bendera tauhid kecil bersilang warna hitam dan putih yang biasa disebut al-Liwa dan ar-Rayyah dalam kalangan HTI.

Ini tentu selaras dengan semangat HTI yang memang menganggap NKRI adalah thoghut alias berhala. Saking antinya terhadap negara yang ditempati, sampai-sampai bendera negara dan foto kepala negara saja tak terpampang dalam acara resmi yang sudah dihebohkan publikasinya di media sosial sejak 22 Februari.

Kalau terhadap simbol negara saja sudah anti, bagaimana akan memperbaiki dan menghormati hasil perjuangan para pendahulu negeri ini? lebih lengkapnya suasana diskusi antara penulis buku HTI Gagal Paham Khilafah dengan penulis buku Saatnya Mahasiswa Berkhilafah bisa Anda tonton dalam video ini.

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Post Author: Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *